Tuhan Tak Dapat Dibuktikan | Part 2: Counter Attack Argumen-Argumen Pembuktian Tuhan
Di part 1 saya sudah jabarkan argumen-argumen pembuktian terhadap
Tuhan. Di mana argumen-argumen yang dipaparkan dari Filsafat Islam (al-Kindi,
al-Ghazali, dan Ibn-Rushd), Kristen, argumen ontologis, kosmologis, dan
teleologis. Argumen-argumen yang digunakan sejauh pembacaan saya, jadi bisa
dikritik atau ditambahkan. Di sini saya akan memaparkan argumen counter
attack untuk mengkritik argumen-argumen tersebut untuk membela tesis saya
bahwa Tuhan tak dapat dibuktikan.
Namun, sebelum mengkritik, untuk mempersingkat tulisan, kita bisa
mengeliminasi dan menggabungkan argumen-argumen tersebut. Misalnya Thomas
Aquinas dari tradisi pemikiran Kristen, kita bisa gabungkan dengan argumen
Kosmologis yang memiliki konsep yang sama. Dalam pembuktian terhadap Tuhan,
Thomas Aquinas menyatakan bahwa Tuhan itu adalah penyebab yang tak disebabkan,
di mana hal itu memiliki konsep yang sama dengan “Penggerak yang tak
digerakkan” unmoved mover dari argumen Kosmologis.
Begitu juga dengan argumen yang ditawarkan oleh al-Kindi dari
tradisi filsafat Islam, yang mana ia menyatakan bahwa alam ini punya awal,
keterhubungan dan kerapian. Dapat kita gabungkan dengan argumen Teleologis yang
menyatakan bahwa alam ini memiliki desainer cerdas di balik semua ini. Ada zat
maha pengatur yang jadi sumber keteraturan dan tujuan dari semuanya.
Sedangkan al-Ghazali tidak menawarkan pembuktian yang jelas atas
keberadaan Tuhan, karena menurutnya akal itu penting, tapi tidak bisa
membuktikan Tuhan secara utuh, untuk itu kita harus menggunakan iman pada
wahyu. Kenapa menurut saya tidak jelas? karena kalau kita ditanya apa bukti
Tuhan ada, terus kita jawab wahyu, nah kalo ditanya apa bukti wahyu benar, terus
dijawab karena dari Tuhan. Akan terus berputar-putar saja di sana, sehingga
menurut saya ini tidak terlalu jelas.
Kemudian dari ibn-Rushd, ia tidak menawarkan konsep untuk
membuktikan Tuhan. Ibn-Rushd hanya menekankan untuk mengkritik al-Ghazali.
Menurut Ibn Rushd, wahyu dan akal nggak mungkin bertentangan, karena dua-duanya
datang dari Tuhan. Justru, wahyu itu ngajak kita buat mikir dan pakai akal buat
memahami ciptaan Tuhan. Sedangkan konsep yang ditawarkan oleh Ibn-Rushd masih
abu-abu dan tidak terlihat begitu jelas.
Dengan begini, saya akan lebih mudah untuk membuat kritikan
terhadap argumen-argumen tersebut. Setelah digabungkan maka kita punya tiga
argumen untuk dikritik, yaitu argumen ontologis, kosmologis, dan teleologis.
Nah kalau udah sepakat, mari kita kritik.
The Counter Attack
Pertama, kritik terhadap
argumen Ontologis, Argumen ini didasarkan pada dua premis utama, kita bisa
ngebayangin sosok yang benar-benar sempurna dalam segala hal, dan premis kedua,
bahwa sesuatu yang benar-benar ‘ada’(di realitas) itu dianggap lebih sempurna
daripada yang cuma ada dalam bayangan. Maka, jika Tuhan tidak ada, Ia tidak
sempurna, yang bertentangan dengan konsep Tuhan itu sendiri.
Namun, Immanuel Kant mengkritik argumen ontologis, terutama pada
bagian yang menyebut bahwa "eksistensi" (atau keberadaan) adalah
suatu bentuk kesempurnaan. Menurut Kant, mengatakan "Tuhan ada" itu tidak
menambah apa-apa ke dalam konsep Tuhan. Maksudnya gini, mengatakan “Tuhan ada” ngga bikin Tuhan jadi
lebih sempurna dibanding “Tuhan tidak ada”, karena keberadaan bukan tambahan
kehebatan, tapi cuma bilang bahwa Tuhan itu nyata atau tidak. Jadi simpelnya menurut
Kant, karena keberadaan bukan bagian dari kesempurnaan, maka argumen
ontologis gagal membuktikan bahwa Tuhan benar-benar ada.
Kedua, kritik terhadap
argumen Kosmologis, dengan konsep “Penggerak yang tak digerakkan” unmoved
mover, digunakan juga oleh Thomas Aquinas dan filsuf Muslim (al-Kindi dan
Ibn Sina). Intinya, segala sesuatu di alam semesta ini memiliki sebab, rantai
sebab-sebab tak bisa berjalan tanpa henti, maka diperlukan sebab pertama yang
tak disebabkan, yakni Tuhan.
Kritik dari argumen ini adalah terkait asumsi universal mengenai
kausalitas (sebab-akibat). Pertanyaannya apakah kausalitas dapat diterapkan
pada totalitas (keseluruhan) alam semesta? Apakah logika kausalitas
(sebab-akibat) manusia dapat diterapkan di keseluruhan alam semesta ini, kita
tak boleh menafikan keberadaan logika yang lain. Seperti logika Quantum, di
mana partikel bisa berada di dua keadaan sekaligus (superposisi), yang
sifatnya sangat berbeda dengan logika manusia.
Selain itu Guru Gembul (konten kreator) juga mengkritik argumen
kosmologis ini karena cuma fokus ke Tuhan sebagai "penyebab pertama",
tapi nggak jelas siapa Tuhan itu, apakah Maha Baik, Maha Tahu. Argumen ini
kesannya cenderung mengarah pada paham Deisme, yakni Tuhan hanya sebagai
pencipta awal yang tidak lagi terlibat dalam rentetan kejadian berikutnya. Hal
ini juga memunculkan pertanyaan tentang apakah Tuhan itu personal atau
impersonal. Karena banyak hal dibiarkan menggantung, argumen ini dianggap
lemah.
Ketiga, kritik terhadap
argumen teleologis. Argumen ini memiliki dua argumen utama, yakni alam pasti
memiliki desainer cerdas di balik semua keberadaannya, seperti jam tangan yang
pasti memiliki pencipta. Kemudian yang kedua bahwa ada tujuan dan perancangan
di balik ciptaan semua ini, seperti mata yang memiliki fungsi untuk melihat.
Namun, David Hume, sebagaimana dikutip oleh Jeff Speaks, bilang
bahwa argumen teleologis cuma nunjukin ada perancang, bukan pencipta sejati.
Kalau Tuhan cuma seperti desainer, artinya Dia kerja dari bahan yang udah
ada, bukan menciptakan dari nol. Hume juga kritik logikanya, kita cuma
lihat sebagian kecil alam, tapi langsung menggeneralisasi untuk seluruh
semesta, itu terlalu jauh. Selain itu, analoginya juga lemah, karena ngga ada
"alam semesta lain" buat dibandingin, jadi kita nggak tahu apakah
dunia ini dirancang atau cuma kebetulan. Terakhir, dia bilang, kalau Tuhan itu
sempurna, kenapa masih ada kerusakan dan ketidaksempurnaan di dunia?
Argumen ini jadi terasa terlalu manusiawi dan kurang kuat.
Jadi gimana apakah Iman anda terguncang? Tapi menurut saya, justru
dengan mempertanyakan seperti inilah yang membuat saya menjadi lebih yakin,
atau beriman.
Dari jabaran counter attack ini saya dapat menyimpulkan, bahwa saya
masih belum bisa membuktikan Tuhan, setidaknya sejauh pembacaan saya pribadi.
Entah itu dari sudut pandang Islam, Kristen, ataupun Filsafat, argumen
pembuktian Tuhan tidak ada yang memuaskan. Dengan begitu, tema pembuktian Tuhan
masih sangat relevan untuk dibicarakan.
Sebenarnya bukan hanya untuk menyuapi kelaparan Intelektual, tapi
lebih ke menyeimbangkan akal dan hati. Dengan beragama dan beTuhan, setidaknya
saya memiliki landasan moral untuk hidup. Saya juga setuju dengan pandangan Jean‑Luc
Marion yang menawarkan konsep “God without Being”, bahwa kita tidak bisa
menggunakan akal kita untuk memahami Tuhan, karena Tuhan itu suatu yang tak
terbatas sehingga tidak mungkin akal manusia yang terbatas mampu menjangkau hal
yang tak terbatas. Saya menggunakan pendekatan al-Ghazali dengan beriman, Imani
saja bahwa Tuhan itu ada.
Tapi ini setidaknya untuk kesimpulan saya saat ini, mungkin suatu saat ada hal yang membuat saya lebih puas, saya tetap terbuka dengan berbagai kemungkinan.
Salam,
Syukron Hidayat
Part 1 (klik di sini)
Referensi Buku dan Jurnal
Aravik, H., & Amri, H. (2019). Menguak Hal‑Hal Penting dalam
Pemikiran Filsafat al‑Kindi. Salam: Jurnal Sosial & Budaya Syar-i, 6(2),
191–206. https://doi.org/10.15408/sjsbs.v6i2.11228
Hanafi, H. (2005). Pengantar Filsafat Islam. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Bugis, Heribertus Ama, F.X. Armada Riyanto, dan Wenseslaus Jugan. Allah
Dalam Perspektif Thomas Aquinas: Mendalami Esensi-Eksistensi Melalui 'Esse Sebagai
Ipsum Esse Subsistens'. Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan Teologi, vol.
15, no. 1, 2023. https://journal.unwira.ac.id/index.php/LUMENVERITATIS/article/view/3085
Asy'ari, M. (2021). Diskursus Mengenai Tuhan di Dalam dan di
Luar Metafisika. Jurnal Filsafat, 31(1), 1–15. Retrieved from https://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/JFI/article/view/3623
Himma, K. E. (tanpa tahun). Anselm: Ontological Argument. Internet
Encyclopedia of Philosophy. Diakses 13 Juni 2025, dari https://iep.utm.edu/anselm-ontological-argument/
Subhi, M., Komala, N. S., (2020). Argumen ontologis, kosmologis,
teleologis, dan moral tentang eksistensi Tuhan [Artikel penelitian].
Repository Universitas Paramadina. https://repository.paramadina.ac.id/41/1/ARTIKEL%20PENELITIAN-ARGUMEN%20EKSISTENSI%20TUHAN.pdf
Muhtar, M. K. (2024). Interelasi argumen-argumen dan kritik
tentang eksistensi Tuhan dengan religiositas manusia. Divinitas: Jurnal
Filsafat dan Teologi Kontekstual, 2(2), 263–284. https://doi.org/10.24071/div.v2i2.8034
Sulhatul Habibah. (2025). Filsafat Ketuhanan Al-Kindi.
Dar el‑Ilmi: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan, dan Humaniora, Universitas
Islam Darul Ulum Lamongan. https://e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/dar/article/view/2025/1362
Gusti, Y., Aprizal, I., & Julhadi. (2024). Konsep kebenaran
dalam filsafat ilmu keislaman: Perspektif Al-Ghazali dan Ibn Rushd. Jurnal
Edu Research, 6(1), 260–266. Indonesian Institute for Corporate
Learning and Studies (IICLS). https://iicls.org/index.php/jer/article/view/523/468
Iskandar, Samsuddin, Rahendra Maya, dan Agusman. 2024. “Saluran
Ilmu Menurut Ibn Taimiyah dan Relevansinya dengan Pembaharuan Pemikiran Islam
di Era Post‑Truth.” Jurnal Kajian Islam Modern 11, no. 2. https://doi.org/10.56406/jkim.v11i2.516.



Komentar
Posting Komentar