10 Juta Gen-Z Nganggur: Indonesia Emas 2045 Sebatas Kata-Kata Mutiara Saja?
BPS melaporkan bahwa terdapat sekitar 9,9 juta penduduk usia muda (15-24
tahun) tanpa kegiatan atau youth not in education, employment, and
training (NEET) di Indonesia pada 2023. Dari 9,9 juta orang tersebut, 5,73 juta
orang merupakan perempuan muda sedangkan 4,17 juta orang tergolong laki-laki
muda.
Apakah istilah Indonesia Emas 2045 sudah cukup tepat digunakan? Apakah pemerintah kita sudah cukup serius menanggapi hal ini? Tentunya kita tidak tahu, karena kita bukan orang pemerintahan. Satu hal yang bisa kita lakukan adalah menggunakan mata dan otak kita untuk mengetahuinya. Disini kita akan melihat betapa belum seriusnya pemerintah menanggapi istilah Emas ini, dan mencoba menganalisis betapa naifnya pernyataan Indonesia Emas 2045 yang dilontarkan oleh presiden kita.
~Pendidikan yang ajrut-ajrutan
SDM adalah aset utama yang dimiliki oleh negara, dan SDM yang unggul
diciptakan oleh pendidikan yang unggul pula. Apakah pemerintah kita sudah
serius dengan pendidikan di negeri ini?
Anggaran pendidikan kita dari APBN adalah 20%. Dari persentase terdengar
sedikit karena belum sampai seperempatnya. Tapi kita perlu tahu 20% itu sekitar
660,8 triliun rupiah dan cukup jauh dengan anggaran IKN yang hanya 72,3 triliun
Lalu, sebanyak itu duitnya kemana? kemana lagi kalok pejabat kita yang
butuh dengan mobil dinas pajero, mereka butuh rapat di hotel berbintang.
Sedangkan kita tahu ada anak SD yang harus jalan berkilo-kilo meter hanya untuk
mendapatkan pendidikan. Anggaran pendidikan kita 660,8 triliun tapi angka putus
sekolah kita yang masih banyak karena penempatanya yang tidak sesuai.
Minggu lalu saya dikeluarkan dari kelas karena telat masuk satu jam. Tapi
bagi saya itu adalah anugrah, karena mendapatkan materi untuk tulisan kali ini.
Di asrama saya membaca sebuah koran yang hangat diperbincangkan belakangan ini
tetntang UKT. Disana dibahas bahwa ada sebuah kebijakan pemindahan nama PTN
menjadi PTN-BH.
Tujuan dari PTN-BH ini sebenarnya untuk menjadikan perguruan tinggi yang mandiri.
Dimana perguruan tinggi hanya diberikan
subsidi 1,9 triliun berarti 29% dari anggaran pendidikan, dan sisanya perguruan
tinggi dituntut untuk mencari duit sendiri. Inilah yang membuat biaya UKT tidak
terkontrol.
Ketika kebutuhan kampus tidak cukup hanya mengandalkan subsidi 29% tersebut,
maka kampus akan menaikan biaya UKT bagi mahasiswanya. Tapi disinilah tempat
bobroknya kampus karena menaikan UKT yang tidak masuk akal, hingga bisa naik
beberapa kali lipat. Jika kebutuhan tersebut dipatokan dengan inflasi maka itu
adalah alasan yang bodoh dari para rektor, karena akan sulit inflasi naik segitu
tidak masuk akalnya.
Apalagi adanya pernyataan bahwa perguruan tinggi hanya tertiary
education, dari pejabat pendidikan kita, yang saya rasa itu tidak perlu
dinyatakan karena tidak jelas tujuannya. Semua orang tahu bahwa berkuliah
adalah suatu previlage karena jumlah masyarakat kita yang melanjutkan
perguruan tinggi hanya 6,52%. Tapi pernyataan tersebut membuat kita berfikir
apakah Indonesia Emas 2045 itu tidak
terlalu naif dibanggakan.
Kita tahu bahwa SDM yang unggul tidak selalu dihasilkan dari kuliah, tapi bagaimana
dengan yang tidak kuliah. Orang-orang
yang menambah pendidikannya sampai 4 tahun saja belum tentu baik apalagi yang
hanya 12 tahun. Apakah pernyataan perguruan tinggi hanya tertieri education itu
sudah cukup tepat dinyatakan dengan kondisi seperti ini? atau hanya untuk
mencari perhatian dari amarah masyarakat saja?
Di negara tetangga ada Vietnam yang sedang serius menanggapi sistem
pendidikan mereka. Jumlah penduduk Vietnam kini lebih dari 93 juta jiwa dan 40%
diantaranya adalah usia 10-25 tahun. Hal inilah yang menuntut Vietnam untuk
memiliki kualitas pendidikan yang tinggi dan mereka serius menanggapinya.
Siswa Vietnam memiliki keunggulan di bidang matematika dan sains daripada
siswa indonesia. Akankah yang akan menjadi Emas 2045 adalah Vietnam bukan
Indonesia?, ayolah kita udah sering kalah di sepak bola, masa kalah lagi di
pendidikan.
~SDA yang terlantarkan
Semua negara tahu bahwa indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya
alamnya. Dijuluki negara agraris, negara maritim, paru-paru dunia dan lain
sebagainya. Tapi yang dijuluki negara agraris justru masih butuh impor 3,06
juta ton beras, padahal memiliki wilayah pertanian seluas 63,4 juta hektar
(33,7% luas lahan indonesia).
Salah satu faktor Indonesia masih impor beras dari luar adalah banyak anak
muda di Indonesia yang tidak ingin menjadi petani. Pemerintah mau tidak mau
impor beras dari luar untuk menjaga stabilitas harga dan stock beras karena
produksi beras di Indonesia yang tidak konsisten.
Permasalahan produksi ini sebenarnya dapat di atasi dengan pemanfaatan
teknologi, seperti yang diterapkan oleh jepang. Namun, di Indonesia kita
ketahui sedikit sekali “orang pintar” yang terjun di bidang pertanian, sehingga
pemanfaatan teknologi sulit dijalani. Ditambah lagi dengan minat anak muda di
bidang pertanian sebagai penerus yang angkanya terus menurun setiap tahunnya.
Apalagi gen z yang memiliki jargon work life balance, dikit-dikit healing,
dikit-dikit mental health dan lain sebagainya, mana mau mereka jadi
petani.
Hal yang harus diperhatikan juga dalam pemanfaatan SDA adalah bidang riset.
Ekspor produk mentah dengan produk jadi akan jauh beda nilainya. Namun, Indonesia
masih ekspor BBM mentah ke-Singapura lalu impor lagi BBM yang sudah jadi dari negara
sama dengan harga yang jauh lebih mahal tentunya.
Hal inilah membuat anggaran subsisdi BBM kita lebih besar daripada anggaran pendidikan. Karena Indonesia belum mampu memproduksi BBM sendiri. Bagaimana tidak, anggaran riset kita hanya berkisar 0,7% saja dari APBN.
Pernyataan Indonesia Emas 2045 sebenarnya memberrikan spirit tersendiri
kepada masyarakat. Namun, apabila pemerintah masih belum serius dalam
pengelolaan negara, maka kata “Emas” lebih cocok diganti dengan kata “Cemas”. Ini
adalah sebuah pertaruhan cukup besar, apabila Indonesia tidak mampu mewujudkan
cita-citanya tersebut, yang ada bukanlah bonus demografi melainkan beban
demografi yang harus ditanggung negara nantinya.
Salam,
Syukron Hidayat



Komentar
Posting Komentar