Persepsi Orang Terhadap Orang Lainnya: Bagaimana Kupu-Kupu dan Kecoa Dinilai



Tulisan ini adalah upaya untuk membuat jejak sejarah dalam kehidupan yang penuh mimpi ini. Sebelum menulis, sebetulnya masih ada ketakutan dengan bentuk tulisan yang masih sangat buruk, harus menggunakan kata baku, harus menggunakan ide pokok yang jelas, menggunakan konjungsi yang tidak dimengerti, menggunakan kalimat efektif, dan banyak lagi aturan kepenulisan yang tidak saya ketahui. Namun, setelah konsultasi dengan penulis yang cukup berpengalaman di meja kos beliau selasa malam, saya memutuskan untuk menulis keresahan yang bergejolak di pikiran. Mengingat juga dengan umur yang hampir dewasa.

Belakangan ini, saya sering menghilang dari dunia yang dulunya ramai dilakukan. Di tengah kegabutan dari penyepian yang dijalani, saya sering menggambar manusia lidi di sebuah kertas yang merepresentasikan keresahan yang ingin dikeluarkan. Ternyata menggambar saja tidak cukup, sehingga saya menulis di kertas dan menyalinnya di blog-ku. Gambaran pertama yang pernah diunggah di cerita instagram adalah seorang manusia lidi menunjuk manusia lidi lainnya dengan ekspresi sinis. Gambaran ini bermakna sesuai dengan judul yang diangkat pada tulisan kali ini.

Per.sep.si, menurut KBBI yaitu  1.tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu, 2. proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancaindranya. Bisa kita definisikan bahwa persepsi adalah tanggapan atau penerimaan langsung terhadap sesuatu yang terjadi di sekitar, atau proses di mana seseorang mengetahui suatu hal melalui pancaindranya. Simpelnya, persepsi adalah tanggapan seseorang terhadap sesuatu melalui pancaindranya.

Dari definisi diatas, kenapa mengangkat sebuah judul “persepsi orang terhadap orang lainnya”, tentunya keresahan itu timbul karena adanya sebuah pengalaman, dimana sering sekali anggapan awal saya terhadap seseorang tidak selalu benar setelah saya mengenal mereka lebih baik. Mungkin kejadian ini tidak hanya berlaku untuk diri saya pribadi, karena banyak gosip tongkrongan yang masih terjebak pada penilaian baik atau buruknya moral seseorang hanya dari fisik atau penampilan seseorang.

Sering kita melihat di internet, netizen yang menaruh simpati atau bahkan dukungan di kolom komentar pada seorang pelanggar hukum, lantaran dia memiliki penampilan yang menarik. Hal ini tidak sering kita lihat pada seseorang yang melakukan pelanggaran hukum dikarenakan mereka memiliki penampilan yang kurang menarik, bahkan dihujat.

Jika diibaratkan; apabila kita membunuh se-ekor kecoa, maka kita akan diaanggap sebagai seorang pahlawan, sedangkan apabila kita membunuh se-ekor kupu-kupu, maka kita dianggap sebagai seorang penjahat. Kenapa ini bisa terjadi? kecendrungan yang pernah dijelaskan diatas tadi bahwa manusia sering menilai moral seseorang hanya dari penampilan fisik dan estetika luarnya saja.

Padahal, kupu-kupu memiliki sebuah kebiasaan yang sama menjijikannya dengan kecoa. Kebiasaan itu sering disebut oleh “orang pintar” sebagai mud-puddling; yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh kupu-kupu yang mengonsumsi cairan yang menjijikan, seperti lumpur, bangkai, kotoran hewan, atau buah yang membusuk. Hal ini diperlukan oleh kupu-kupu untuk mendapatkan mineral dan nutrisi tambahan. Di sisi lain, kecoa yang dianggap menjijikan secara visual, ternyata dapat berguna dalam proses daur ulang bahan organik yang berperan penting dalam siklus nutrisi di ekosistem.

Beranjak dari analogi kupu-kupu dan kecoa. Dalam beberapa disiplin ilmu juga membahas terkait dengan fenomena penilaian seseorang berdasarkan fisik atau penampilannya. Contohnya sosiologi, fenomena delusi sosial ini sering disebut sebagai lookism; yaitu diskriminasi terhadap seseorang tergantung pada kondisi fisik seseorang. Di sisi lain, psikologi juga membahas fenomena seperti ini dengan istilah the halo effect; yaitu penilaian seseorang terhadap satu karakteristik yang dapat mempengaruhi karakteristik lainnya.

Kedua istilah tersebut solah-olah mirip, namun sesuai dengan studi ilmunya, kedua istilah ini mengkaji dampak yang berbeda dari fenomena ini. lookism; dampaknya cendrung lebih negatif karena penilaiannya terhadap penampilan fisik. Contohnya, seseorang yang dianggap kurang menarik mungkin menghadapi diskriminasi dalam proses rekrutmen atau penilaian kantor, yang dapat merugikan mereka.

Selanjutnya istilah the halo effect; dampaknya bisa terjadi bias dalam penilaian, walaupun kadang dampaknya positif, karena tergantung pada penilaian awalnya. Contohnya anak sekolah yang pandai dalam matematika mungkin akan dianggap pandai di semua hal, sebaliknya anak lain dengan keterbatasan dalam pelajaran matematika mungkin akan dianggap tidak berkompeten dalam semua hal. Hal ini juga bisa berdampak pada penilaian karyawan, untuk itu studi menejemen atau kepemimpinan harus mempelajari tentang fenomena ini.

Pertanyaan yang masih belum jelas terjawab, “Kenapa ini bisa terjadi?”. Disini saya membagi menjadi tiga tingkatan, bagaimana orang menilai orang lainnya:

1.   Fisik; ya, tidak bisa terelakan lagi, Fisik adalah hal pertama yang dilihat seseorang. Otak manusia cenderung berpikir negatif, seperti pada manusia purba yang selalu waspada terhadap serangan. Insting ini terbawa hingga sekarang, sehingga kita cenderung menilai orang lain berdasarkan penampilan fisik mereka sebagai bagian dari insting bertahan hidup.

2.   Psikologi, sosial dan pemikiran, tingkatan selanjutnya adalah penilain seseorang terhadap keadaan mentalnya, kehidupan sosialnya, tidakannya, serta pemikiran seseorang yang kita nilai itu bagaimana.

3.   Hati, ini adalah suatu hal yang sulit untuk kita ketahui, sekaligus dinilai. Bisa saja orang yang kelihatannya baik, padahal hatinya tidak selalu baik. Itulah kenapa berbuat baik mungkin sudah cukup baik, namun apabila perbuatan baik karena kewajiban yang dituntut hati nurani, maka itu jauh lebih baik. Penilaian ini biasanya dilakukan oleh orang terdekat saja.

Faktor yang dapat mempengaruhi lookism; banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya fenomena ini, salah satu faktor paling berpengaruh adalah budaya dan media. Budaya inferior yang menganggap orang berkulit putih adalah standar kecantikan sosial dapat berpengaruh pada penilaian seseorang. Di sisi lain media yang menyajikan tokoh baik dalam film, seringkali diperankan oleh orang dengan kondisi fisik lebih menarik daripada tokoh jahatnya. Contohnya thanos.

Kemudian fenomena the halo effect; biasanya ini terjadi karena informasi yang terbatas tentang seseorang yang kita nilai. Terjadinya the halo effect ketika hanya menggunakan informasi yang tersedia (misalnya, penampilan fisik atau satu sifat tertentu) untuk membuat penilaian keseluruhan tentang orang yang di nilai. Rentan terjadi di tempat krisis kritis berfikir, kita sebut saja Indonesia.

Lalu, apa solusinya. Mungkin temen-temen setelah membaca ini akan menjadi sadar atau setidaknya tahu tentang adanya fenomena sperti ini, itulah solusi yang diberikan penulis untuk menumbuhkan kesadaran pembaca. Dengan kesadaran akan dampak yang ditimbulkan sekiranya kita tidak terjebak lagi ke-dalam bias ini.

Dalam etika aristoteles juga menawarkan tentang apa yang disebut sebagai golden midle  atau titik tengah; yaitu menilai sesuatu tidak secara berlebihan atau tengah-tengah. Supaya tidak disangka anak menejemen membahas filsafat. Tapi menurut penafsiran saya, kekaguman atas keindahan fisik seseorang yang berlebihan akan menimbulkan persepsi juga yang berlebihan, yang akan menimbulkan bias itu tadi. Untuk itu saya menawarkan salah satu etikanya aristoteles disini.

Kecantikan bukanlah yang terlihat di luar, kecantikan adalah cahaya dari hati.

-khalil gibran

 

Salam,

Syukron hidayat

Komentar

Postingan Populer