Tuhan Tak Dapat Dibuktikan | Part 1: Argumen-Argumen Pembuktian Tuhan
Kenapa
sih masih bahas-bahas Tuhan? Ngga tau ya, mungkin karena perhatian awal saya
belajar filsafat itu untuk mengetahui, membuktikan, dan meyakini Tuhan. Saya
kira dengan sedikit belajar buku filsafat sudah cukup, ternyata belum, dan ini
saya kira akan menjadi perjalanan yang cukup panjang untuk saya.
Jadi
apa yang saya dapatkan selama belajar Tuhan, untuk saat ini? (Perlu disclaimer
dulu, saya bukan ahli teologi, dan kalau ada yang salah silahkan dikoreksi.
Referensi jurnal yang saya gunakan ada di bagian paling bawah tulisan ini)
Jadi
yang saya dapatkan selama ini adalah saya tau bahwa dari peradaban manusia
pertama di dunia ini, manusia tak pernah lepas membahas tentang ke’eksistensian
dirinya, alamnya dan sesuatu yang lebih besar daripadanya (Tuhan dalam bahasa
kita). Sejumlah filsuf juga mencoba membuktikan keberadaan Tuhan melalui
argumen rasional seperti argumen ontologis, kosmologis, ataupun teleologis.
Filsuf Islam dan kristen juga ikut mewarnai pembahasan ini. Namun,
pertanyaannya adalah apakah keberadaan Tuhan
benar-benar bisa dibuktikan dengan rasional?
Ataukah Tuhan justru berada di luar jangkauan rasional kita?
Banyak
orang bilang kalo belajar filsafat bisa bikin kita Atheis. Yaudah ngga papa,
berarti dia belum belajar filsafat. Karena pada kenyataannya di tengah gempuran
atheisme ataupun agnotisisme yang menyatakan bahwa keberadaan Tuhan tidak
ilmiah atau tak dapat dipastikan, di sana filsafat hadir dengan metafisika
untuk membuka ruang untuk eksistensi Tuhan.
Metafisika adalah salah satu cabang filsafat yang mempelajari
penyebab terakhir (ultimate cause), prinsip-prinsip pertama dan
universal dari realitas. Ia berupaya menyelami apa esensi dan eksistensi yang
terdalam dari alam semesta. Jadi simpelnya metafisika ini mempelajari apa hal
yang paling mendasar dari alam semesta. Dibahas pertama oleh Aristoteles pada
abad ke-4 SM dalam kompilasi dari catatan kuliah dan tulisan-tulisannya,
kemudian dikumpulkan menjadi satu buku yang dikenal sekarang berjudul Metaphysica
oleh muridnya Andronikus pada abad ke-1 M.
Kembali lagi ngomongin Tuhan, dalam jurnal “Diskursus Mengenai
Tuhan Di Dalam dan Di Luar Metafisika” dijelaskan bahwa Tuhan dalam
metafisika klasik dipahami sebagai wujud mutlak, esensi atau substansi yang
tidak bergantung pada sebab lain. Namun, pemikiran kontemporer seperti Jean‑Luc
Marion menawarkan konsep “God without Being”, Tuhan itu ‘ada’ lewat ide
manusia, maksudnya Tuhan yaa... ngga bisa dipahami hanya dari pemahaman manusia
terhadap suatu eksistensi, Tuhan jauh lebih daripada yang kita pahami, Tuhan
tidak terikat ruang dan waktu. Sehingga studi ini membuat fokus pembuktian
terhadap Tuhan tidak lagi berdasar pada rasio, tapi Tuhan yang transenden, tak
terjangkau oleh akal.
Oke, mari kita mulai.
Dalam tradisi kristen, Thomas Aquinas yang terinspirasi oleh
Aristoteles meyakini bahwa realitas eksistensi yang sesungguhnya itu ialah
Tuhan seperti yang
dinyatakan dalam wahyu. Tuhan adalah realitas tertinggi,
pencipta segalanya, sumber kebaikan dan kebenaran, serta "Being" itu
sendiri, artinya Tuhan ada tanpa disebabkan, eksistensi dan esensi itu menyatu
di dalam-Nya, maksudnya ngga kayak makhluk yang bisa ada tapi belum tentu
esensinya begini atau begitu.
Dalam tradisi Islam juga ada tiga tokoh besar yang memiliki
pandanga terhadap Tuhan dari sudut pandang metafisik, ada al-Kindi, al-Ghazali,
dan Ibn Rushd. Kalau al-Kindi, sebagai filosof Muslim pertama, menggabungkan
pemikiran Yunani klasik dengan prinsip-prinsip Islam. Buatnya, akal itu sangat
penting sebagai langkah awal buat ngerti siapa Tuhan itu. Menurutnya, Tuhan itu
satu, kekal, ngga punya wujud fisik, dan jadi penyebab pertama dari segala
sesuatu yang ada.
Al-Kindi punya beberapa argumen untuk membuktikan keberadaan Tuhan,
misalnya
· alam ini punya awal (jadi pasti ada
yang menciptakan),
· kemudian banyak hal berbeda di dunia
tapi semuanya terhubung dan menunjuk pada satu sumber, dan
· menurutnya alam semesta ini tertata
rapi, nggak mungkin terjadi begitu aja.
Tapi, al-Kindi juga sadar kalau akal manusia itu terbatas. Jadi,
meskipun akal bisa bantu nyari kebenaran, tetap aja wahyu dari Tuhan yang
paling bisa diandalkan. Buatnya, filsafat itu alat untuk nyari kebenaran, tapi
wahyu adalah kebenaran itu sendiri.
Nah, berbeda dengan al-Kindi yang saya kira terlalu percaya sama
akal, al-Ghazali justru lebih kritis. Dalam bukunya Tahafut al-Falasifah
(Kerancuan Para Filosof), dia nyindir para filsuf Muslim yang menurutnya
terlalu ngandelin akal buat bahas soal agama. Menurut al-Ghazali, akal itu
penting, tapi nggak cukup buat ngerti Tuhan secara utuh. Menurut dia, untuk
bisa benar-benar dekat sama Tuhan, manusia butuh pengalaman spiritual, intuisi,
dan terutama wahyu. Buat Al-Ghazali, wahyu bukan cuma tambahan, tapi sumber utama
kebenaran. Yaa… akal cuma bantu, yang utama tetap iman.
Sementara itu, Ibn Rushd menggunakan pendekatan yang lebih seimbang
antara akal dan iman. Dia nulis buku Tahafut at-Tahafut (Kerancuan atas
Kerancuan) sebagai kritiknya terhadap al-Ghazali. Menurut Ibn Rushd, wahyu dan
akal nggak mungkin bertentangan, karena dua-duanya datang dari Tuhan. Justru,
wahyu itu ngajak kita buat mikir dan pakai akal buat memahami ciptaan Tuhan.
Buatnya, agama dan filsafat itu saling melengkapi, dua jalan menuju kebenaran. Dia
juga menekankan perlunya ta’wil (penafsiran mendalam) kalau ada ayat-ayat wahyu
yang bertentangan dengan akal.
Selain dari tradisi Islam dan Kristen, sejumlah filsuf juga mencoba
membuktikan keberadaan Tuhan melalui argumen rasional seperti argumen
ontologis, kosmologis, ataupun teleologis. Nah, argumen ontologis dicetuskan
oleh Sant Anselmus, Uskup Agung Canterbury yang ia uraikan dalam Proslogium.
Intinya Anselmus menegaskan bahwa Tuhan itu mahluk yang paling sempurna, tidak ada
yang lebih hebat daripadanya. Dengan begitu kita ngga bisa nganggap Tuhan itu
hanya ada di dalam pikiran saja, karena keberadaan nyata (realitas) dianggap
lebih sempurna daripada hanya keberadaan dalam pikiran. Tuhan pasti ada dalam
kenyataan, karena kalau tidak, Dia bukan yang paling sempurna, dan itu
bertentangan dengan definisinya sendiri.
Selanjutnya argumen kosmologis tentang keberadaan Tuhan, ini
pertama kali dicetuskan oleh Plato yang dilanjutkan Aristoteles, argumen ini
dengan konsep “Penggerak yang tak digerakkan” unmoved mover, lalu
diperluas oleh Thomas Aquinas dan filsuf Muslim tadi al-Kindi dan Ibn Sina. Intinya,
segala sesuatu di alam semesta memiliki sebab; rantai sebab-sebab tak bisa
berjalan tanpa henti, maka diperlukan sebab pertama yang tak disebabkan, yakni
Tuhan.
Mungkin saya bisa mencontohinya dengan fenomena hujan. Hujan
disebabkan oleh adanya awan yang memiliki volume air, volume air dalam awan disebabkan
oleh sinar matahari yang memungkinkannya untuk terjadinya penguapan, kemudian
panas sinar matahari disebabkan oleh adanya energi dalam bentuk radiasi
elektromagnetik, energi radiasi elektromagnetik disebabkan oleh adanya suatu
reaksi fusi nuklir dalam inti matahari. Nah jika fenomena hujan ini ditarik
terus ke sebab-sebab selanjutnya, maka akan ada penyebab terakhir yang tak
disebabkan oleh lainnya, itulah Tuhan menurut argumen kosmologis ini.
Terakhir argumen teleologis, sebagai lanjutan argument kosmologis
sebenarnya, mengatakan bahwa alam semesta ini terlalu rapi dan teratur untuk
terjadi begitu aja, apalagi cuma karena kebetulan. Contohnya, William Paley dengan
analogi jam tangan, kalo kita nemu jam tangan di jalan, pasti kita mikir kalo
jam tangan itu tidak ‘ada’ dengan sendirinya. Nah, begitu juga dengan alam,
pasti ada desainer cerdas di balik semuanya.
Dia juga ngasih contoh kayak mata, yang jelas-jelas punya fungsi buat
melihat. Artinya, ada tujuan dan perancangan di balik ciptaan ini. Pandangan
ini ngga secara langsung nunjukin "Tuhan" sebagai pencipta mutlak,
tapi tetap ngarah ke satu kesimpulan ada zat maha pengatur yang jadi sumber
keteraturan dan tujuan dari semuanya. Ya… sebelas-duabelas lah sama argumen
al-Kindi tadi.
Mungkin tulisan ini sudah cukup panjang, dan saya akan membaginya
menjadi dua part saja supaya ngga bosen ngebacanya. Di part ini saya nulis
pendahuluan sama argumen-argumen tentang keberadaan Tuhan, di part selanjutnya
akan saya bahas counter attack dari argumen tadi, untuk membela argumen
saya, bahwa kita ngga bisa ngebuktiin Tuhan.
Salam,
Syukron Hidayat
Part 2 (klik di sini)
Referensi Buku dan Jurnal
Aravik, H., & Amri, H. (2019). Menguak Hal‑Hal Penting dalam
Pemikiran Filsafat al‑Kindi. Salam: Jurnal Sosial & Budaya Syar-i, 6(2),
191–206. https://doi.org/10.15408/sjsbs.v6i2.11228
Asy'ari, M. (2021). Diskursus Mengenai Tuhan di Dalam dan di
Luar Metafisika. Jurnal Filsafat, 31(1), 1–15. Retrieved from https://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/JFI/article/view/3623
Bugis, Heribertus Ama, F.X. Armada Riyanto, dan Wenseslaus Jugan. Allah
Dalam Perspektif Thomas Aquinas: Mendalami Esensi-Eksistensi Melalui 'Esse
Sebagai Ipsum Esse Subsistens'. Lumen Veritatis: Jurnal Filsafat dan
Teologi, vol. 15, no. 1, 2023. https://journal.unwira.ac.id/index.php/LUMENVERITATIS/article/view/3085
Gusti, Y., Aprizal, I., & Julhadi. (2024). Konsep kebenaran
dalam filsafat ilmu keislaman: Perspektif Al-Ghazali dan Ibn Rushd. Jurnal
Edu Research, 6(1), 260–266. Indonesian Institute for Corporate
Learning and Studies (IICLS). https://iicls.org/index.php/jer/article/view/523/468
Hanafi, H. (2005). Pengantar Filsafat Islam. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Himma, K. E. (tanpa tahun). Anselm: Ontological Argument. Internet
Encyclopedia of Philosophy. Diakses 13 Juni 2025, dari https://iep.utm.edu/anselm-ontological-argument/
Iskandar, Samsuddin, Rahendra Maya, dan Agusman. 2024. “Saluran
Ilmu Menurut Ibn Taimiyah dan Relevansinya dengan Pembaharuan Pemikiran Islam
di Era Post‑Truth.” Jurnal Kajian Islam Modern 11, no. 2. https://doi.org/10.56406/jkim.v11i2.516.
Muhtar, M. K. (2024). Interelasi argumen-argumen dan kritik
tentang eksistensi Tuhan dengan religiositas manusia. Divinitas: Jurnal
Filsafat dan Teologi Kontekstual, 2(2), 263–284. https://doi.org/10.24071/div.v2i2.8034
Subhi, M., Komala, N. S., (2020). Argumen ontologis, kosmologis,
teleologis, dan moral tentang eksistensi Tuhan [Artikel penelitian].
Repository Universitas Paramadina. https://repository.paramadina.ac.id/41/1/ARTIKEL%20PENELITIAN-ARGUMEN%20EKSISTENSI%20TUHAN.pdf
Sulhatul Habibah. (2025). Filsafat Ketuhanan Al-Kindi.
Dar el‑Ilmi: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan, dan Humaniora, Universitas
Islam Darul Ulum Lamongan. https://e-jurnal.unisda.ac.id/index.php/dar/article/view/2025/1362



Komentar
Posting Komentar