“Moga tahun depan ...”
Stickmen dalam waktu
Lalu kubaringkan tubuhku sambil melihat cerahnya langit
sore pukul 16.44 dan matahari yang ditutupi oleh putihnya awan seperti warna
bajuku. ‘Hey Tuhan, bisa ngga sih awan yang itu, melingkar sempurna aja, jangan
nanggung, biar kayak bundaran asap rokok yang keluar dari mulut perokok
atraksi’ gumamku sambil menunjuk awan yang melingkar ngga sempurna itu.
***
Datanglah seorang bocah sok asik ke taman itu dan mendekatiku
“lagi ngapain mas?” katanya, mungkin terpancing oleh telunjuku yang mengarah ke
atas. Tak ku-gubris, hanya melihat ke arahnya. “Aku punya sepeda BMX”
lanjutnya.
Tersadar dia butuh pengakuan, aku terbangun dari baringku
“Namanya siapa?” tanyaku. Dia terlihat bingung karena pertanyaanku menunjuk ke
siapa, apakah dirinya atau sepedanya. Dan aku tak peduli yang menjawab
pertanyaan itu siapa, mau itu sepedanya atau dirinya.
“Aku evan” katanya
“Sepedamu?”
“Ini BMX” ucap si bocil
“Itu jenis sepedanya,
bukan namnya” si bocil mengerenyut, mirip jaket denim yang baru habis
dijemur. “Gimana kalo Blodi”. Lalu dia tersenyum. Selesai masalah kataku sambil
kembali berbaring. Tak kusangka ngasih nama semudah itu.
“Main bola yok mas” ajak si bocil yang melempar bola
plastiknya.
“Temen-temenmu mana? tanyaku.
“Aku ngga punya temen” kata si bocil sambil bersepeda.
“Sama” jawabku.
***
Sekarang awannya sudah agak sedikit, terbawa oleh angin,
dan yang terpampang, biru langit yang lebih luas dari sebelumnya. Datanglah
lagi dua orang anak sepantaran si bocil tadi ke taman ini, satunya pake sepeda,
dan satunya nendang bola. Si bocil tadi dengan bangganya memperkenalkan nama
sepedanya, “Ini namanya Blodi, di kasih sama mas itu tadi”, katanya dalam
bahasa jawa, dan terdengar samar-samar di telingaku. Lalu ketiga bocil itu ke
arahku. “Masnya kerja apa?” tanya si bocil.
“Aku kuliah sini”
“Suara masnya lemes” kata si bocil
“Nanti kalo kamu dah gede juga bakal lemes kaya aku, ngga
semangat lagi kaya suaramu yang sekarang”
“Aku 7 tahun” kata si bocil dengan muka pamernya
“Oh udah SD, besok mau kuliah?” tanyaku
“Ngga, aku langsung kerja aja ngasi orang tua duit. Kalo
masnya?”
“Aku kuliah sini” tegasku lagi
“Setalah kuliah?” Tanyanya. Aku terdiam. Dan karena melihatku
diam “Jadi pegawai KAI aja, gajinya 10 juta sehari. Bapaku kerja di sana, besok
mau beli rumah” kata si bocil. Aku tak peduli dengan itu, aku hanya peduli
kenapa responku terdiam.
***
Aku balik kost, menulis ini, dan Ibuku nelpon untuk
memintaku kirim foto STNK motorku, karena akan diperpanjang. Entahlah negara
ini, menyusahkan Ibuku saja. Harus bayar lagi, buat perpanjangan. Dan aku yang
repot repot harus foto STNK bolak balik. Kemudian, “Suara kamu lemes ngantuk.
Jangan keseringan begadang” kata Ibuku
“Iya. Tapi malam ini aku begadang, soalnya malam tahun
baru, biar keren” kataku
“Sama aja, mau itu 2026, 2200 kek, sama aja ngga ada
bedanya”.
“25 sama 26 beda lah”
“Beda angkanya doang” kata Ibuku.
***
Refleksi akhir tahun hanyalah ilusi di otak kita yang
kita ciptakan di satu waktu untuk merangkum satu tahun, demi merasa lebih baik.
Hanyalah sebuah proses mencocok-cocokan keadaan kita saat ini dengan diri yang
dulu. Di mana keadaan diri kita saat merefleksikan akan memengaruhi isi
refleksi kita. Perasaan bodoh saat melakukan x di masa lalu adalah perasaan di
saat kita merefleksikannya, sedangkan diri kita di masa lalu bahkan mungkin
menganggap x adalah pilihan yang paling baik dan bijak. Sehingga refleksi
adalah ilusi penyimpulan di otak atas apa yang dirasa saat merefleksikan dengan
melihat atau mengait-ngaitkan diri di masa lalu demi terwujudnya masa depan
lebih baik.
Nyenyenyenye..
Cerpen di atas bukanlah cerpen, tapi adalah kejadian yang
saya alami sore ini. Akan sangat bisa kejadian tersebut adalah inti dari isi
refleksi saya selama setahun ini. Kejadian tersebut akan dapat memengaruhi
perasaan saya, dan akan memengaruhi persepsi saya dalam memandang satu tahun ke belakang. Dan pada akhirnya isi
refleksi setahun tersebut adalah inti perasaan saya atas suatu kejadian sore
hari yang dikaitkan dengan kejadian kejadian yang dialami selama setahun
belakang.
Bisa saja kejadian saya meminta Tuhan membuat awan yang
sempurna dan tidak nanggung-nanggung pada sore tadi saya kait-kaitkan dengan
rasa insecure saya di awal tahun lalu saat melihat pencapaian orang lain di
sosmed. Hal itu sangat mungkin, lalu saya simpulkan kalau tahun ini saya kurang
bersyukur. Udah dikasih dua malah minta yang lain.
Bisa saja kejadian saya sibuk dengan langit, awan, dan
matahariku sehingga mengabaikan si bocil, saya cerminkan pada diri saya di masa
lalu yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri sehingga jarang komunikasi
dengan orang tua. Hal itu sangat mungkin, lalu saya simpulkan kalau tahun ini
saya terlalu sibuk dengan diri sendiri.
Bisa saja si bocil meminta pengakuan adalah diri saya di
tahun ini, bisa saja si bocil yang ngga punya teman adalah diri saya juga di
tahun ini yang tidak punya teman, bisa saja ngasi sebuah nama pada sepeda adalah
aku yang terlalu banyak tergesa di tahun ini tanpa melihat latar belakang dan
sejarah, bisa saja saat aku terdiam adalah diriku di tahun ini yang masih belum
punya cita cita, bisa saja, bisa saja, dan bisa saja.
Jadi akan sangat tidak adil rasanya saat merangkum sebuah
kurun waktu tertentu dalam satu waktu saja, lalu itu dijadikan sebuah pedoman
di masa depan. Karena kalau saja kita merangkum itu sedikit terlambat saja,
maka hasilnya akan berbeda dan pedoman masa depan itu juga berbeda.
***
Cerpen di atas bukanlah cerpen, tapi adalah kejadian yang
saya alami sore ini. Lalu dari perbincangan dengan ibu saya, satu kesimpulan
adalah hari besok tidak lebih baik dari sekarang. Saya menentangnya saat
ditelfon bukanlah tanda tidak setuju, melainkan itulah cara ngobrol saya dengan
ibu.
Kita didoktrin masa lalu adalah pembelajaran, saat ini
harus lebih baik dari masa lalu, dan masa depan adalah hari yang harus lebih
baik dari saat ini. Tapi ayolah mabroo, kita ngga selalu bisa baik setiap saat,
dan tidak selalu bisa lebih baik dari kemarin. Terkadang kita bisa kalah
setelah melakukan segalanya. Terkadang orang bodoh malah ditempatkan sebagain
wakil presiden daripada kita yang selalu berusaha lebih baik dari kemarin.
Hari besok tidaklah lebih baik dari hari sekarang. Kadang
kita capek, perlu tidur seharian, dan itu tidak apa-apa. Dedy Corbuzier
berhenti sulap bukan karena ngga laku, tapi dia tahu kalo besok ngga lebih baik
dari sekarang.
Dunia ini tidak selalu adil, kita tahu itu. Tapi tetap
saja ada sistem reward yang memengaruhi kita sehingga kegagalan adalah
kesalahan dan kebodohan. Orang-orang terlalu aneh. Aneh sekali
Dunia menuntut kita untuk selalu berhasil, tapi dunia itu
sendiri memberi kenyataan kalau di dunia ini ada yang namanya kegagalan. Dunia
menuntut kita untuk selalu berhasil, tanpa memberi tahu bagaimana cara
berhasil, tanpa gagal.
Kegagalan adalah kesalahan dan kebodohan, faakkkk.
Dituntut selalu menjadi lebih baik, faakkkk.
***
Saya bukan tidak setuju dengan konsep kita harus belajar
dari masa lalu dan mengharapkan masa depan akan lebih baik. Tapi
permasalahannya kita terlalu fokus pada dua waktu itu tanpa memikirkan apa yang
lebih baik dilakukan sekarang. Sehingga ketika kita tidak lebih baik dari hari
kemarin maka kegagalan akan menghantui.
Saya hanya ingin ketiga jalur waktu itu dihargai sesuai
porsinya. Tidak ada yang lebih penting
dan tidak penting. Tidak ada yang lebih baik dan kurang baik. Sekarang adalah
kausalitas diri kita kemarin, dan masa depan adalah diri kita yang baik atas
kausalitas diri kita yang baik saat ini.
Kita hanya sering terjebak dengan logika mistika bahwa
besok akan lebih baik, besok akan sukses, besok akan sempurna, dll. Tak lebih
dan tak kurang seperti yang dituliskan Tan Malaka tentang logika mistika. Kita
tak ada bukti kalau besok akan lebih baik, walaupun kita sudah berusaha lebih
baik.
Tan Malaka menulis Madilog untuk mengusir pengetahuan
yang berdasar perasaan, ilham, dan wahyu. Tapi dia juga menulis pengetahuan
yang berdasar pada harapannya dalam buku Menuju Merdeka 100%.
Kita selalu memandang bahwa hal-hal yang berbau mistik
adalah kolot dan ketinggalan zaman. Tapi kita juga selalu di setiap malam saat
mau tidur mengatakan kalau besok akan lebih baik. Bukankah itu tak ada bedanya
dengan perasaan, ilham, dan wahyu yang dikatakan mistik itu.
Kenapa kita selalu tidak adil kepada waktu, menganggap
hari kemarin lebih buruk dan masa depan lebih baik. Lalu hari ini apa?
“Moga tahun depan ...”
Aaaakkkh... kenapa kita tidak saat ini saja yang lebih
baik? Lebih baik memandang indahnya langit, awan dan matahari sore hari. Kenapa
kau halangi matahari itu dengan perasaan kegagalan di masa depan atau tak bisa
lebih baik dari kemarin?
Kenapa manusia aneh?
Salam,
Syukron Hidayat



Komentar
Posting Komentar