Ibuku: Absurdist Sejak Lahir
Selamat
22 Desember
Mungkin
banyak ibu yang dirayakan dengan hadiah, bunga, pelukan, atau makan-makan.
Sementara aku di sini, merantau untuk kuliah, jauh dari rumah, jauh dari ibuku.
Tidak ada yang bisa kulakukan selain satu hal yang paling dekat denganku
akhir-akhir ini, ya… menulis.
Tulisan
ini bukan pujian yang berlebihan, juga bukan kisah ibu yang sempurna. Ini hanya
caraku pulang.
Tak
mau mendramatisir hal itu.
Ibuku
adalah ibuku. Mungkin sama seperti ibu-ibu konvensional pada umumnya. Ia
memasak, marah, lelah, khawatir, dan mencintai. Tapi ada satu hal kecil yang
sejak lama aku kepikiran sekaligus kukagumi, itu karena ibuku tidak tahu kapan
ia lahir. Ia tidak tahu tanggal ulang tahunnya. Ia bahkan tidak tahu pasti
berapa umurnya sekarang.
Bagi
banyak orang, mungkin mengetahui tanggal lahir, usia, dan asal-usul adalah cara
mengidentifikasi makna hidup. Dari sana mereka mengklaim siapa dirinya, sejak
kapan mereka ada, dan sudah sejauh apa mereka berjalan. Tapi ibuku tidak pernah
mempersoalkan itu. Ia hidup begitu saja, tanpa pernah merasa perlu
mendefinisikan dirinya.
Aneh?
Mungkin.
Tapi
karena itulah tulisan ini ada.
Ibuku
tidak pernah belajar teori parenting. Ia tidak membaca buku tentang cara
mendidik anak yang baik. Ia pasti melakukan banyak kesalahan sebagai seorang
ibu, dan aku adalah saksi dari kesalahan-kesalahan itu. Tapi dari semua
keterbatasannya, aku tahu satu hal adalah ia melakukan yang terbaik yang bisa
ia lakukan, dengan apa yang ia punya.
Dan
itu cukup.
Sebagai
manusia biasa, bukan hanya sebagai ibu, ia adalah sosok yang sangat baik
menurutku. Bahkan kebaikannya jauh lebih dari aku, padahal aku merasa lebih
banyak tahu kebaikan dari padanya. Aku membaca buku, belajar filsafat, ada mata
kuliah Etika, logika, dll. Tahu konsep benar dan salah, tahu apa itu “yang
baik”. Tapi pengetahuan itu masih belum saja membuatku menjadi orang yang baik.
Kalo
kata Socrates, bapak pilsapat, “Tidak ada orang jahat, yang ada hanyalah
mereka yang tidak tahu apa yang baik.” Sungguh aneh rasanya saat melihat
diriku denga ibuku, kalimat itu seperti terbalik, nihil makna, omong kosong
belaka. Aku lebih tahu apa itu kebaikan, tapi ibuku jauh lebih baik dariku.
Aku
mulai berpikir tentang absurditas hidup. Apakah ibuku adalah seorang Absurdist?
Ibuku
hidup penuh makna tanpa pernah mencari makna. Ia tidak tahu dari mana tepatnya
ia berasal, tidak tahu kapan ia “dimulai”, tapi ia tetap hidup dengan
sepenuh-penuhnya. Ia tidak sibuk mendefinisikan diri, tidak gelisah soal tujuan
hidup, tidak mempertanyakan eksistensinya. Ia hidup karena hanya hidup itulah
yang ia punya.
Aku
teringat pada Sisyphus, tokoh mitologi yang dikisahkan Albert Camus. Dikutuk
untuk mendorong batu ke puncak bukit, hanya untuk melihatnya jatuh kembali,
berulang-ulang, tanpa henti, tanpa tujuan akhir. Camus mengatakan, kita harus
membayangkan Sisifus bahagia. Bukan karena hidupnya bermakna, tapi karena ia
menerima absurditas itu sepenuhnya.
Ibuku
bukan Sisyphus yang sadar. Ia tidak pernah membaca Camus. Ia tidak pernah
memikirkan absurditas hidup. Ia tidak sadar seebagaimana Sisyphus menyadarinya,
tapi ibuku menjalani hidup seolah ia menyadarinya. Ia mendorong “batunya”
setiap hari, sebagai ibu, sebagai manusia, sebagai seseorang yang hidup tanpa
banyak tuntutan pada dunia ini.
Ibuku
tidak pernah memilih menjadi absurdist. Dunia yang absurdlah yang memilihnya,
dan ia menjalaninya tanpa protes.
Dan
anehnya, Ibuku yang hidup tanpa makna dan absurdist sejak lahir itu, malah
memberi makna untuk kehidupan orang lain.
Mungkin
orang-orang yang paling absurd, orang-orang yang tidak sibuk mencari makna
hidup, justru adalah mereka yang paling bisa memberi makna. Seperti Sisyphus
yang tak memiliki tujuan hidup, tapi menjadi pembelajaran dan simbol bagi
manusia modern. Seperti ibuku, yang tidak pernah tahu kapan ia lahir, tapi
melahirkan makna buat hidupku.
Mungkin
ibuku tak pernah tahu filsafat absurdist sebagaimana aku mempelajarinya, tapi
ia tahu cara hidup. Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.
Selamat
Hari Ibu.
Salam,
Syukron
Hidayat



Komentar
Posting Komentar