Saya Takut Test IQ

 

stickmen memuji pintar ke stickmen lainnya

Belakangan ini lagi rame-rame bahas soal Iq, ada yang 150 lah, ada yang 160 lah. Membuat saya berpikir, orang kok pinter-pinter banget yak. Maksud saya, kan di negara kita rata-ratanya cuman 78 doang, lah kok bisa mereka dapet skor setinggi itu?

Mereka pada posyandu di mana dah? Mereka pernah dapet pil merah yang diselipin di pisang pas posyandu itu nggak sih? Apa jangan-jangan pil mereka warnanya kuning lagi, makanya bisa lebih pinter dari rata-rata simpanse.

Saya takut banget test Iq, bukan karena takut akan kenyataan kalau saya bodoh, atau takut karena saya setara simpanse. Tapi takut karena kalau ternyata hasilnya... sesuai ekspektasi saya yang memang beneran setara simpanse. Gimana kalau yang muncul ternyata skornya 78? Lalu selama ini saya ngapain aja? Mending di kebun binatang aja nggak sih?

Saya tidak pernah berpikir kayak orang-orang yang test Iq karena buat pamer. Yaa... kalau hasilnya 140 bolehlaa pamer, tapi yang skornya cuman dapet 80 pasti bakal ngilang dari predaran. Karena tujuan awal mereka kan buat pamer, atau ingin diakui kalo dia itu adalah orang yang pinter. Nah kalo yang muncul 80, pasti sosmednya langsung di privat, photo profile di hapus, atau bahkan bikin second account buat ngebersihin algoritma. 

Fenomena tersebut menandakan bahwa kebanyakan orang masih nganggep kalo Iq itu adalah cerminan harga diri seseorang. Orang bilang angka itu nggak penting, tapi tetap aja mereka patokin harga diri sama skor Iq. Pas ngeliat orang yang Iq-nya 120 ke atas, maka orang itu adalah orang yang keren, layak untuk dipuja. Sedangkan mereka yang di bawah itu, maka layak untuk dicaci, ditindas, dijauhi, didiskriminasi, dibully, dan perlakuan-perlakuan buruk lainnya.

Masalahnya bukan di situ saja, tapi masalahnya itu ketika angka itu gampang banget berubah jadi label diri. Orang yang dapet skor 120 ngerasa dirinya layak ngomentarin segala hal, dari isu geopolitik, sampai bagaimana cara nongkrong. Padahal mereka aja belum tentu pernah nongkrong. Sedangkan yang dapet skor 80 ngerasa dirinya tak berdaya, “ah aku mah apa atuh”.

Skor Iq dianggap angka sakral. Padahal angka itu mirip-mirip nilai raport agama, yang cuma ditulis guru kelas yang lagi PMS. Terus nilai itu jadi ukuran tingkat beragama seseorang. Lah… itu terlalu konyol mas.

Sebenarnya masalahnya bukan cuman di IQ. Tapi ini adalah masalah kita yang sudah turun temurun. Orang-orang tuh suka banget mengkotak-kotakan, mengklasifikasikan, mengelompokan orang. Terus dikasih label pinter, bodoh, miskin, kaya, anak IPA, anak IPS, anak STM, anak Pesantren.

Kasta di negara kita tuh bukan lagi Brahmana, Ksatria, Waisya, dan Sudra. Tapi kita lah yang bikin kasta sendiri demi membenarkan sikap feodal yang ‘dibungkus hasil objektiv’. Waktu sekolah kita dikotak-kotakin sama rangking kelas, pas kuliah dikotak-kotakin sama jurusan dan organisasi, pas udah lulus dikotak-kotakin sama lulusan dari kampus mana. Di dunia online juga gitu, ada aplikasi kandang monyet lah, ada aplikasi bapak-bapak lah, ada aplikasi SJW lah, Jawa=hama lah, Medan rayap besi lah, skena, star boy, soft spoken, red flag, dan masih banyak lagi, salah satunya trend IQ ini yang dibikin entah siapa.

Di ruang publik terbentuk kelompok ‘yang layak’ dan ‘tak layak’, hanya didasarkan pada skor Iq. Iq tinggi merasa dirinya layak bersuara atas segala hal, dan menjadikan skor Iq sebagai pembenaran buat ngeremehin orang lain. Misal, “Pantesan dia nggak paham, orang Iq-nya cetek”. Kok bisa orang merasa lebih unggul hanya dari test yang berdurasi 10 menit?

Budaya mengkotak-kotakan orang inilah yang membuat Iq masyarakat kita mandek. Orang yang ngerasa paling cerdas, nggak mau ikut diskusi. Orang yang ngerasa bodoh malah malu mendatangi ruang diskusi. Masyarakat terpecah, “dialektika” yang diusung Tan Malaka tak terjadi, makin bodohlah masyarakat kita.

Ini adalah tulisan refleksi pribadi. Seperti yang saya tulis di atas, kalau saya masih takut test Iq karena takut disamain dengan simpanse. Fenomena mengkotak-kotakan itu masih sangat menempel di alam pikiran saya, dan harapannya dengan tulisan ini semuanya terlepas. Saya sudah cukup muak dengan penderitaan kebodohan ini.

Lucunya, bukan orang lain yang menghalangi saya. Justru saya sendiri yang jadi pagar besi buat diri sendiri. Takut apply beasiswa, nggak berani ngasih pendapat, nggak berani ngelamar magang, nggak berani ikut lomba. Semua ketakutan itu hanya karena merasa kalo diri saya nggak layak. Dan saya yakin, banyak juga orang di luar sana yang bernasib sama, dikurung oleh suara kecil di kepala sendiri.

Saya takut akan proyeksi saya sendiri akan angka yang saya terima dari test Iq itu. Walaupun sebenarnya saya tahu kalau Iq itu hanya salah satu cara dalam mengukur kecerdasan seseorang. Padahal ada juga kecerdasan emosional dan spiritual, atau sekedar nongkrong bareng bapak-bapak di pos ronda aja, itu adalah sebuah kecerdasan.

Walaupun begitu saya masih belum siap buat test Iq, dan saya memiliki argumen pembenaran terhadap ketakutan saya, yaitu lebih baik nggak tahu daripada jadi budak angka. Karena angka itu bukan yang akan menentukan hidup saya, melainkan yang akan menentukannya adalah  keberanian untuk bebas dari sterotipe  yang diberikan orang, atau kungkungan yang dibuat oleh diri kita sendiri.

 

Salam,

Syukron Hidayat

Komentar

Postingan Populer