Dongeng Manis Kelicikan Meritokrasi

 

si-pintar mendapat kursi

Hal yang fenomenal dalam membicarakan negara, setidaknya satu tahun belakangan ini adalah sistem negara merit, atau meritokrasi. Bahkan Presiden Prabowo pernah menyerukan untuk menggunakan sistem merit. Namun apakah setelah memerintah kenyataannya seperti itu? saya ngga tau, setau saya sih, beliau menggunakan kabinet akomodatif.

Meritokrasi yang diciptakan istilahnya oleh sosiolog Michael Donlup Young dalam buku distopia politik, dan satirenya yang berjudul The Rise of the Meritocracy. Sebagaimana saya mencari definisinya di google, adalah sistem politik yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan atau kelas sosial.

Dengan masyarakat kita yang 171,8 jiwa miskin, maka tidak ada kejanggalan jika sistem merit digembor-gemborkan. Tentu angka itu (60,3%) tidak saya peroleh dari data BPS, karena data yang BPS berikan, seperti hoax, orang seperti saya (belanja 20 ribu per hari) dikatakan kaya, data macam apa itu. Dan tentu saja saya bukan bocil crypto yang menganggap orang miskin itu goblok, karena kenyataannya, mereka, orang yang dikatakan goblok itu, menggemborkan sistem yang sangat mulia karena sadar akan keadaan negaranya.

Di mana Indonesia dengan budayanya: korupsi, uang pelicin, orang dalam, dan lain sebagainya memberikan trauma yang cukup mendalam kepada orang miskin ini. Mereka ngga mampu bayar polisi buat jadi polisi, mereka ngga mampu bayar hakim buat menang di pengadilan, dan mereka pasti ngga bisa daftar pemilihan bupati karena motornya Supra X 125. Oleh karena itu, sistem merit bak ultramen yang akan menyelamatkan mereka dari kekejaman dunia.

Namun kita sebagai orang melarat, seharusnya tidak miskin otak juga, kawan-kawan. Maksudnya kita setidaknya perlu berpikir tiga bahkan sepuluh kali sebelum setuju dengan argumen orang lain. Budaya ikut-ikutan nenek moyang kita jangan diikuti.

Pernahkah kita berpikir: ketika ada orang yang mendapatkan apa yang layak ia dapatkan (konsep meritokrasi), maka akan ada orang gagal yang layak untuk ditindas. Hal itu karena seringkali kita menganggap orang gagal adalah orang yang tidak baik, sedangkan orang yang pinter/kompeten adalah orang yang baik. Dengan sistem merit, orang-orang pinter ini akan ditempatkan di status yang lebih tinggi (orang sukses). Sehingga status sosial akan menjadi standar moralitas.

Ketika standar moralitas dicapkan pada kesuksesan dan kegagalan seseorang, maka tamatlah kita. Terbentuklah masyarakat koruptif, semua orang akan berlomba-lomba untuk menjadi orang yang dihargai. Semua orang tak akan peduli dengan orang lainnya, karena yang terpenting adalah ia bisa pintar, kompeten pada suatu bidang, lalu sukses, dan dihargai. Dan siapa yang menjamin untuk mendapatkan itu semua akan terjadi persaingan yang sehat.

Seperti yang saya tulis di tulisan sebelumnya, tentang IQ. Orang dengan Iq tinggi akan dianggap  orang yang keren, layak untuk dipuja. Sedangkan mereka yang rendah, maka layak untuk dicaci, ditindas, dijauhi, didiskriminasi, dibully, dan perlakuan-perlakuan buruk lainnya.

Tidak hanya itu. Jika kita menganggap sistem merit akan menyelamatkan kita dari kutukan kemiskinan, maka kita salah. Apa yang selama ini membuat kita (orang-orang miskin) merasa aman jika menggunakan sistem merit, juga tidak seaman itu. Dengan sistem ini, malah akan membuat orang yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Jika belum paham logikanya, mungkin saya akan melontarkan satu pertanyaan: Apakah kalian (orang-orang miskin) yakin bisa menyaingi mereka (orang-orang kaya)?

Jika masih ragu, maka saya akan memberikan satu kenyataan, bahwa pendidikan kita masih belum merata. Pendidikan kita masih jauh dari kata setara. Jangankan kita membandingkan antara mereka yang sekolah di swasta dengan sekolah di negri, orang yang sekolah di negri kota dengan negri di pelosok saja, kapasitas berpikir dan keterampilan mereka masih sangat jauh perbedaannya. Lalu pada akhirnya, nanti kita akan melihat, kursi-kursi pejabat akan di-isi oleh alumni sekolah-sekolah swasta, jika kita kekeh menggunakan sistem merit.

Itu kan yang kalian mau. Orang yang akan mengisi kursi pejabat adalah orang yang kompeten. Orang kompeten ada pada mereka yang berduit. Kita akan membutuhkan usaha setidaknya dua kali lipat untuk mendapatkan hasil yang sama dengan mereka. Jika masyarakat kita dengan sistem merit, maka usaha itu bisa saja menjadi berlipat-lipat atau bahkan tak akan pernah bisa kita menyamai orang-orang itu. Pada akhirnya tetap saja, yang kaya tetap kaya atau lebih kaya lagi, dan yang miskin akan tetap miskin atau lebih miskin lagi.

Lebih kritis lagi, apakah mereka yang ditaruh di tempat yang sesuai kompetensi, maka tidak ada lagi yang namanya korupsi? Menurut saya, tidak juga. Kita perlu menyadari bahwa status sosial bukanlah ukuran moral seseorang. Bisa saja mereka yang pintar melakukan tindakan korupsi, kolusi, nepotisme dan lain sebagainya. Kita perlu membedakan antara kompetensi dengan integritas, supaya kita tidak terbuai dengan sesuatu yang nampak dari luarnya saja.

Meritokrasi hanya menyediakan persyaratan untuk orang kompeten yang menduduki kursi jabatan. Akan tetapi sistem ini tidak otomatis memastikan mereka yang terpilih adalah mereka yang bermoral. Mereka yang terpilih bisa saja sama seperti pemerintah kita saat ini, atau lebih buruk. Menjadi pintar tidak menjamin anda terjauh dari tindakan yang lebih menguntungkan diri sendiri, apalagi budaya seperti itu sudah ada sejak lama di negri ini.

Kita sduah muak lah mendengar berita ijazah palsu. Jika sistem merit digunakan, maka tidak hanya ‘Naruto’ yang akan melakukan itu.

Sebagai penutup saya akan menuliskan ini:

saya juga memiliki keyakinan bahwa manusia adalah mahluk serakah, tak peduli dia adalah yang kompeten atau yang bodoh. Keserakahan dapat terpenuhi saat ada kesempatan. Untuk memenuhi itu, salah satunya, mereka akan membentuk sebuah pandangan, sterotipe, wacana sosial demi menguntungkan rezimnya.

Kita bisa melihat bagaimana rezim orba yang menakut-nakuti rakyat dengan hantu gerakan kiri, semua itu hanyalah demi kuasa. Sekali lagi, tak peduli dia adalah yang kompeten atau yang bodoh, karena yang terpenting ialah, peduli itu sendiri.

 

Salam,

Syukron Hidayat

Komentar

Postingan Populer