Animasi Sampah dan Realita Penindasan

realita yang ada di dunia stickmen

“Karya anak bangsa (no), karya tua bangka (yes)”, kutipan yang sering terdengar dari mereka yang tidak cinta negara untuk merendahkan film animasi kebanggaan kita, Merah Putih: One for All.  Ayolah teman-teman, seharusnya kita bangga dengan film tersebut. Film yang menjadi persembahan 80 tahun kemerdekaan negara kita, film animasi pertama yang menjadi medium pembangkit nasionalisme masyarakat kita.

Apalagi film tersebut diproduksi oleh para senior pembuat film, dan menghabiskan 6,7 M. One Piece sama Demon Slayer aja kalah yang cuman menghabiska 1,8 M., dalam pembuatannya, masa iya kita tidak bangga. Kalian cinta negara ngga sih?

Mereka bilang: “Grafiknya burik, animasinya nyuri, ceritanya kaku, musiknya dibuat pakek AI, sulit dipercaya ini proyek yang mewakili wajah negara. Berbeda dengan negara tetangga yang lebih serius menggarap animasinya, sebagai persembahan hari kemerdekaan mereka.” Menurut saya mereka adalah orang-orang yang iri, orang-orang yang cari viral aja.

Maksud saya, coba kalian ‘sedikit’ mikir. Ini adalah animasi karya anak bangsa yang diproduksi dengan keikhlasan, tanpa minta uang sama sekali. Bioskop aja nerima ni filem. Jadi, bagi mereka yang mengejek film ini, ya sudah pasti pengen cari viral doang kan. Buzer bayaran asing. Makanya aku sangat suka dengan pemerintah kita yang kalo ada rakyat menjerit, jangan didengerin, itu pasti bayaran asing. Bayaran asing itu adalah penghianat negara yang harus dipukul pakek pentungan polisi.

Siapa peduli dengan rakyat. Harusnya kan negara menggunakan uang rakyat untuk proyek pencitraan. Kalo masalah kesejahteraan rakyat, ya mereka bisa cari sendiri lah uangnya. Yang penting kan nanti uang yang mereka cari itu dipajakin, biar negara kaya. Gitu loh maksudnya.

~~~

Semenjak lulus SMA, dan pergi ke jauh luar rumah, saya menjadi lebih sering duduk di bawah. Bersama mereka yang dijuluki pejuang rupiah. Para petani dengan panasnya sawah. Supir truk lintas Surabaya-Jakarta. Awak kapal yang libur sekali 2 bulan. Penjual angkringan yang kesulitan membuat tempe yang harganya 500 rupiah. Tukang parkir yang ternyata mereka berjaga secara sift-siftan. Dan pemulung yang keluar dari jam 5 pagi sampai 5 sore.

Dengan saya, yang membawa anggapan klise, bahwa hidup mereka pasti penuh penderitaan dan keluhan. Tapi ternyata saya salah. Mereka masih bisa tertawa lepas, bercanda soal rezeki, dan menikmati kopi sachet dan sebatang rokok.

Dari mereka saya belajar bahwa kebahagiaan itu tidak otomatis berarti hidup itu adil. Mereka mungkin tidak marah soal animasi sampah, proyek IKN, RUU TNI, KUHAP, dan lain sebagainya itu, bahkan mungkin mereka tidak tahu. Mereka lebih fokus pada apa yang ada di depan mata, mencari uang hari ini, makan hari ini, dan bisa tidur malam ini.

Di negeri ini, senyum rakyat miskin sering dijadikan dongeng manis. Foto petani tersenyum dengan sekarung padi di pundaknya, atau video penjaga angkringan yang bercanda sambil menggoreng bakwan di pinggir jalan.  Media menyediakan itu dan pejabat mengamini sebagai bukti bahwa rakyat Indonesia “tangguh dan selalu bersyukur”.

Membngun narasi “bahagia meski miskin”, menunjukan ada kebobrokan yang sengaja dihaluskan. Seolah kemiskinan bukan masalah mendesak, karena toh mereka masih bisa tersenyum. Tak heran jika melihat pemborosan uang negara hanya untuk proyek-proyek pencitraan. Tidak ada kepedulian untuk dipertanyakan, karena rakyat terlihat bahagia sudah cukup untuk menutupi kebejatan itu.

~~~

Dari pengalaman yang saya temui itu, saya ingin meminjam istilah yang digunakan oleh Paulo Freire, yang ia sebut sebagai false consciousness (kesadaran palsu), yaitu kondisi ketika orang-orang tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam struktur yang menindas. Mereka melihat ketidakadilan sebagai hal wajar, bahkan dianggap sebagai bagian dari hidup. Para sopir truk atau tukang parkir yang saya temui mungkin pernah dengar soal film animasi itu, tapi ia tak peduli. Bukan karena bodoh, tapi karena masalah itu terasa terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari mereka.

Selain itu, dari sudut pandang psikologi, mereka juga menerapkan apa yang disebut sebagai hedonic adaptation, yaitu kemampuan menyesuaikan ekspektasi kebahagiaan agar tetap bisa bertahan hidup. Mereka menerapkan hal itu supaya tidak terlalu menderita dengan kondisi negara ini. Bagi sopir truk yang harus menahan kantuk di jalan, atau petani dengan panasnya matahari, mampu menemukan kebahagiaan dari sebatang rokok dan secangkir kopi bukanlah tanda hidup mereka ideal. Itu tanda bahwa mereka masih bisa menemukan sepercik api kebahagiaan di antara gelapnya penindasan.

Nah gobloknya, kemampuan beradaptasi ini sering dijadikan alasan oleh pejabat kita untuk membiarkan mereka begitu-gitu saja, ngga mau memperbaiki keadaan. Kita sudah sering lah mendengar jargon ‘UMKM tulang punggung negara’, tapi UMKM yang dimaksud tak diberikan bantuan, malah digusur oleh petugas. “Mereka bahagia, buktinya mereka masih bisa tertawa,” kata mereka sambil joget-joget di istana negara, mengabaikan kenyataan bahwa tawa itu lahir dari keterpaksaan atas keadaan mereka, bukan dari kemerdekaan.

Namun, hebatnya masyarakat kita adalah, meski hidup di negara seperti ini, tapi tetap saja, mereka tetap setia dan cinta pada negara ini. Mereka ikut memeriahkan 17 Agustus, mengibarkan bendera di depan rumah, bahkan bangga ketika nama Indonesia disebut di ajang internasional.

Sebenarnya fenomena ini bukan fenomena yang aneh, tapi bisa saya sebut sebagai paradoks. Di mana nasionalisme bisa menjadi sumber kekuatan masyarakat, namun di sisi lain nasionalisme juga bisa membuat orang tak peduli dengan ketidak adilan yang ada di negaranya sendiri.

~~~

Fakta terakhir: negara kita, suara politik mereka yang dibawah, tak diperhitungkan. Tukang parkir, awak kapal, dan pengemis jarang memiliki akses untuk menyuarakan suara mereka. Kita tidak bisa menyalahkan jika mereka lebih memilih bekerja demi bertahan hidup, daripada pergi demo tapi anak mereka tidak makan. Sehingga isu seperti pemborosan anggaran, korupsi, regulasi bermasalah tidak bisa menjadi prioritas. Dan tentu ketiadaan kekuatan politik dari mereka yang di bawah itulah yang menguntungkan mereka yang berkuasa. Mereka bisa mengalokasikan uang negara ke proyek pencitraan tanpa takut mendapat perlawanan berarti.

Selamat merdeka bagi yang merdeka.

Salam,

Syukron Hidayat

Komentar

Postingan Populer