Perjalanan Spiritual dan Fenomena Menghakimi Berbalut Agama – POV: John Dewey
“Dikit-dikit
wahabi, dikit-dikit kafir. Padahal cuma ingin melestarikan lingkungan malah
dibilang wahabi.” Kalimat seperti ini belakangan sering saya temui di kolom
komentar media sosial. Bagaimana tidak, setelah tayangan dari sebuah media TV
menampilkan seorang yang terpandang dalam umat beragama menyampaikan wahabi
kepada aktivis lingkungan. Inilah Indonesia, beragam sekali bukan? Si aktivis
lingkungan dengan data yang dibawanya dicap ekstrimis oleh seorang pembela
oligark.
Tidak hanya orang yang memiliki kepentingan yang sering menghakimi
berbalut agama, tapi banyak di kalangan masyarakat bawah sering melakukan
penghakiman terhadap orang lain, seolah yang dilakukannya adalah yang paling
benar. Setidaknya sejauh pengalaman saya pribadi mendapatkan penghakiman kafir
atau dicap golongan tertentu oleh orang “beragama”. Saya juga bingung kenapa
orang beragama (orang kita) segitu konyolnya dalam beragama.
Penekanan dalam beragama
Saya tidak suka membahas agama, bukan karena benci tapi lebih ke
sadar diri akan keilmuan yang dimiliki. Saya tumbuh dan dibesarkan di
lingkungan beragama. Di desa saya terdapat tiga pondok pesantren, satu madrasah
Islam, dan di setiap kampung terdapat setidaknya satu atau lebih tempat belajar
mengaji (TPA). Tapi ternyata saya lebih memilih pendidikan SD, SMP, dan SMA
umum daripada pondok pesantren, dan fenomena yang sama juga saya temui di adik
saya sekarang yang mau masuk SMP umum. Dari sini dapat terlihat alasan dan
tujuan dari tulisan ini.
Orang yang tumbuh di lingkungan tertekan (tidak hanya agama tapi
semua aspek) maka akan terjadi pembelotan. Setiap manusia memiliki kehendak
untuk melakukan pemberontakan terhadap suatu hal yang ia rasa tertekan. Ketika
seseorang tertekan terhadap suatu hal, kemudian terbebas terhadap hal tersebut,
maka ia akan melakukan suatu hal yang bertolak belakang dengan hal yang menekannya
dahulu. Maka tidak heran jika melihat anak pondok atau yang dulunya selalu
menggunakan pakaian agamis setelahnya akan menggunakan pakaian seksi.
Intinya adalah penekanan yang berlebihan terhadap agama akan
membawa pada kemunafikan. Untuk itu setiap umat beragama seharusnya menyadari
hal itu. Untuk itulah kenapa saya menulis Fatima Mernisi di tulisan sebelumnya
yang memandang bahwa hijab itu seharusnya tidak dipaksakan. Fatima Mernisi
menganggap bagaimana hijab selalu digunakan sebagai alat propaganda patrarki
dan setiap orang yang menggunakan hijab tidak atas pilihannya sendiri, tapi
karena ditakut-takuti oleh dosa dari Tuhan.
“Nakut-nakuti kok pakek Tuhan” aneh emang
Pendekatan John Dewey
“Tapi
kan, Bang, kalau nggak ditekan, gimana dia bisa beragama dengan baik?” adalah
pertanyaan dari orang yang seolah mengira manusia diciptakan tanpa akal. Di
sinilah saya, sebagai mahasiswa Manajemen Pendidikan, merasa peran saya
dibutuhkan. Saya sangat menyukai pendekatan John Dewey, seorang filsuf aliran
pragmatisme yang juga banyak membahas pendidikan. Buktinya, hingga kini
teorinya masih menjadi pijakan dalam pengembangan kurikulum modern, seperti
Kurikulum Merdeka dengan pendekatan project-based learning-nya.
John
Dewey mengkritik dua pendekatan pendidikan yang dominan saat itu: teori
konservatif dan teori unfolding (pengembangan alami). Teori konservatif
yakni teori yang sering digunakan oleh sebagian besar masyarakat kita sampai
sekarang. Teori ini menganggap bahwa peserta didik terlahir kosong dan harus
diisi oleh pendidik, seolah mereka adalah milik dan karya si pengajar. Inilah
yang terjadi terhadap umat beragama di Indonesia saat ini, tidak hanya guru
tapi sesama siswa ikut serta melakukan penekanan, penghakiman, mengkafirkan
dalam belajar.
Kedua yaitu unfolding,
mungkin dapat saya katakan kalau teori ini adalah antitesis dari teori konservatif.
Di mana konservatif tadi terlalu menekan, tapi unfolding ini terlalu
membebaskan. Teori ini berpandangan bahwa siswa itu memiliki bakat dan mampu
bertumbuh alami, sendiri, sesuai keinginannya. Jadi siswa dibiarkan
mengeksplorasi sendiri pengetahuannya.
Nah
John Dewey mengkritik dua pandangan tersebut dengan mengatakan bahwa, setiap
siswa itu seharusnya tidak ditekan, dan setiap siswa itu memang memiliki bakat
dan arahnya sendiri, tapi tetap mereka membutuhkan bimbingan. Terlalu ditekan
akan membuat siswa tidak nyaman dan tidak berkembang, namun terlalu dibebaskan
juga akan membuat siswa kehilangan arah. Sehingga untuk membuat siswa itu
aktif, eksploratif, dan reflektif maka sebagai guru seharusnya memberikan
bimbingan sembari membebaskan kreatifitsnya sendiri.
Diskusi > Nasihat
Dalam
konteks perjalanan spiritual, pandangan John Dewey sangat relevan bagi
masyarakat kita saat ini. Sikap yang terlalu menekan atau mudah mengkafirkan
justru orang akan makin jauh dari agama. Sebenarnya, yang dibutuhkan bukan
nasihat satu arah, tapi ruang diskusi. Mungkin bisa saya kasih contoh dengan
dialog:
Andi:
“Kok lo nggak shalat, Bud?”
Budi:
“Iya nih, belakangan ini males banget.”
Andi:
“Wah, shalat itu tiang agama Bud. Kalau lo ngga shalat, lo kafir!”
Respons
seperti ini bisa membuat Budi merasa terhakimi, bahkan trauma. Bisa saja ia
berpikir, "Beragama kok gini amat, mending ngga usah beragama."
Nah akan berbeda jika pendekatannya dengan contuh di dialog kedua:
Andi:
“Shalat Bud, dah adzan.”
Budi:
“Lagi nggak mood, males banget akhir-akhir ini.”
Andi:
“Gue juga kadang gitu, tapi tetap gue usahain biar ngga bolong. Walau masih sering
mabuk, pacaran, tapi setidaknya gue masih punya satu keoneksi ke Tuhan. Tanggung
jawab gue karena udah ngaku beragama sih.”
Dengan pendekatan ini, Budi akan merasa dimengerti. Ia tak lagi melihat shalat sebagai beban atau ancaman, tapi sebagai bentuk kesadaran dan tanggung jawab pribadi dalam beragama. Pendekatan yang menyentuh sisi psikologis tanpa paksaan.
Menanggulang penekanan
Saya
tidak menyalahkan orang tua saya atas pola asuh yang konservatif (meskipun
sebenarnya tidak sekonservatif itu), karena mungkin itulah cara terbaik yang
mereka tahu dan mampu lakukan. Namun karena sudah terlanjur melalui proses
tersebut, penting untuk kita menyadari bahwa tekanan yang kita rasakan
sebenarnya hanya hidup dalam konstruksi pikiran kita. Kita masih punya kendali
atas bagaimana merespons tekanan itu. Ini adalah pendekatan yang sering saya
gunakan juga saat menghadapi stres.
Dalam
konteks beragama, misalnya, seorang anak dibesarkan dalam keluarga dengan pola
asuh konservatif, segala hal harus sesuai syariat, sedikit kesalahan langsung
dimarahin, ibadah wajib harus tepat waktu, dan semuanya dibungkus dengan narasi
dosa dan neraka. Awalnya, anak itu mungkin menjalankan agama dengan rasa takut,
bukan karena cinta atau kesadaran.
Tapi
anggap saja anak itu adalah kita, dan kita telah menyadari bahwa tekanan
tersebut hanyalah hasil dari cara kita memaknai pengalaman itu secara mental.
Maka kita bisa memilih untuk meresponsnya bukan lagi dengan ketakutan,
melainkan dengan membedakan mana nilai inti dari ajaran agama, dan mana bentuk
penekanan orang tua. Dengan kesadaran itu, kita bisa tetap taat beragama bukan
karena tekanan, melainkan karena rasa tanggung jawab pribadi dan pemahaman yang
jernih.
Di
sinilah teori John Dewey digunakan lagi, ketika pendidikan itu seharusnya
refleksi pengalaman, bukan kepatuhan kaku. Pendidikan yang baik adalah
mengetahui apa kebutuhan kita, lalu belajar demi memenuhinya, atau sebaliknya
mempelajari apa yang akan dibutuhkan suatu saat. Bukan plek-ketiplek mengikuti
tanpa tahu apa yang kita ikuti, kita mampu memilih jalan kita, bukan seperti
robot yang tak berkesadaran. Begitu juga dengan spiritual journey yang idealnya
kita tempuh dengan kesadaran reflektif.
Salam,
Syukron
Hidayat



Komentar
Posting Komentar