Sebelum Pulang - Cerita Pendek

 

stickmen sedang memegang jam tangan

Malam yang dingin untuk ukuran kost 1,25x2,6 meter, Kein harus berhemat dari gajinya sebagai karyawan biasa, selain ia juga harus menanggung biaya kuliah adiknya. Kein dikenal sebagai karyawan pemurung. Bukan karena pekerjaannya, tapi karena penyesalan masa lalu yang tak bisa ia ubah.

Sehabis lembur, Kein pulang lebih awal malam ini. Ia melewatkan kebiasaannya duduk di warung kopi dekat kantornya karena merasa kurang enak badan. Semakin malam, udara dingin makin tak terhindarkan. Bahkan selimut pun tak mampu menghalaunya. Ia menelisik tajam dari sela-sela ventilasi, menyusup pelan, meransang respon sensorik: meremang bulu kuduk, menyabet halus telinga, dan menggigilkan bulu ketek yang baru saja habis dimandikan.

Pada akhirnya, kemarahan dingin padanya mampu diusir oleh kehangatan segelas kopi, selinting tembakau yang terhisap, dan lantunan musik dari radio legend pemberian kakeknya. Beberapa menit kemudian, hawa baru muncul, tak lagi hawa kehangatan, tapi hawa panas, respon tubuh yang tak di-inginkan oleh Kein.

“Lagi –dan lagi…” ucap Kein, setelah mendengar berita kematian seorang narapidana korupsi yang tak diketahui apa penyebabnya.

“Tubuh korban ditemukan membiru dengan simbol aneh di dekat lengan kiri,” suara penyiar radio terdengar datar, tapi menusuk.

Kematian misterius di kota ini sudah menjadi rahasia umum sejak sepuluh tahun lalu. Peristiwa semacam itu sudah dianggap biasa, bahkan penyelidikan forensik tak menemukan adanya bukti pembunuhan, hanya ada tanda aneh ditemukan di bagian tubuh korban.

Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Kein, menatap langit-langit ruangan dan terbaring di atas ranjang, mata tertutup tapi pikirannya berkeliaran ke mana-mana.

“Ini tidak bisa dibiarkan lagi... tidak bisa”. Ucapnya sambil berharap keajaiban tiba untuk menyembuhkan kota ini dari kejadian misterius itu. Hanya berharap, karena ia tahu tak mampu berbuat apa-apa.

“Mungkin ini semua memang kutukanku, dan kota ini hanya ladang yang harus menanggungnya.” kata Kein, dalam batinnya –lalu tertidur dengan beban dibawanya.

Esoknya, setelah pulang dari kantor, Kein duduk sendirian di kedai kopi. Ia menatap jalanan kosong, ditemani suara kendaraan dan aroma kopi yang tak lagi membuatnya tenang. Ia memang tak punya banyak teman –lebih tepatnya, ia memilih untuk tidak punya.

Tapi pikirannya masih sibuk memutar ulang kejadian semalam. Ada sesuatu yang terasa dekat, sangat dekat… seperti kabut kematian misterius itu mengikutinya hingga ke bangku ini.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang…” katanya pelan, seolah hanya ingin didengar oleh tembok dan dirinya sendiri. Dengan wajah murung, ia bangkit, berjalan ke halte bus—dan membiarkan dirinya dibawa pulang oleh malam.

Malam kembali membawanya pada wajah-wajah lama.

Kein berdiri di tengah kabut kelabu. Di kejauhan, Davin –adik dari Nina, perempuan yang pernah ia cintai –berlari tergesa. Wajahnya basah air mata.

“Kaak… tolongin kakakku…” teriak Davin, suaranya bergema, penuh luka.

Kein ingin mendekat, ingin menjawab, tapi tubuhnya kaku. Kabut berputar. Dunia runtuh.

Ia terbangun mendadak, hampir subuh. Terjatuh dari ranjang kecilnya. Nafasnya memburu.

Itu hanya mimpi. Tapi suara Davin di dalamnya, bagai bilah tipis yang menyayat pelan luka lama di hatinya –luka yang belum benar-benar sembuh. Suara itu membangkitkan bayang Nina, yang telah pergi dua tahun lalu dalam pembunuhan misterius itu. Menambah penyesalan Kein karena tak mampu menyelamatkannya, orang yang dikasihinya.

“Apa artinya ini?” tanya Kein di bawah angin subuh.

Hari itu juga, sepulang kerja, Kein melewatkan kedai kopi dan naik bus menuju alamat lama yang tak pernah lagi ia datangi.

Di apartemen itu, ia mengetuk pintu. Seorang remaja membuka. “Kak Kein…” ucapnya pelan, “Aku sudah lama menunggumu.” lanjutnya tersenyum seolah ia tahu Kein akan mengunjunginya.

Mereka duduk di ruang tamu. Tidak ada basa-basi. “Apa maksud semua ini?” tanya Kein, matanya tak bisa menyembunyikan bingung dan cemas.

“Aku tahu… mimpilah yang membawamu ke sini,” jawab Davin, tenang, seolah dialah yang mengirim mimpi itu semalam.

“Aku butuh bantuanmu untuk menyelamatkan kakakku.”

“Davin, apa maksudmu? Nina sudah –”

“Aku tahu. Aku sangat mencintai kakaku, bukankah kau juga begitu?” Sambut Davin.

Kein mengangguk, pelan.

“Tapi masih ada jalan. Setelah kematian kakakku… aku membuat ini.” Ia menunjukkan jam tangan aneh di pergelangannya.

“Jam ini aku buat untuk menembus ruang dan waktu. Aku telah mencoba menyelamatkan kakaku, tapi aku tidak bisa. Hanya kau. Karena hanya kau yang… punya penyesalan sebesar itu.”

Kein terpaku. Tak berkata apa-apa. Ia-pun paham, dan menyadari yang mengirim mimpi semalam adalah Davin.

“Untuk itu aku mohon, ubahlah semuanya.” Davin melepas jam dari tangannya, menaruhnya di tangan Kein.

“Berjanjilah.” Lanjutnya

Kein memejamkan mata, menggenggam jam itu.

Dalam sekejap, tubuhnya ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat. Dunia seolah melipat. Ia jatuh –tapi bukan ke tanah. Melainkan ke waktu yang telah lama ia tinggalkan.

Kein membuka matanya perlahan.

Hawa nostalgia menyambutnya –bau tanah basah, suara kendaraan tua yang menggerung pelan di depan kedai kopi pinggir kota, dan langit yang belum ia lihat sejak bertahun-tahun lalu.

Di sampingnya, seseorang menyentuh rambutnya, mengusap lembut wajahnya, lalu bersandar di bahunya.

“Nina…” gumam Kein, setengah antara sadar dan tidak percaya.

“Ada apa?” tanya perempuan itu, bingung melihat raut terkejut Kein.

Ia… adalah Nina. Nina yang sama. Tapi waktu belum merenggutnya.

Kein menoleh ke jendela. Di pantulan kaca, ia melihat wajahnya sendiri – muda, tak sepenat biasanya.

Kein telah kembali.

Masa lalu tak lagi sekadar penyesalan yang dibisikkan malam – kini, ia benar-benar berada di dalamnya.

Ia melirik Nina yang tersenyum kecil sambil memainkan ujung bajunya.

"Sebelum terlambat… aku harus mengubah semuanya,” gumam Kein, hampir tak terdengar.

“Mengubah apa?” tanya Nina, keningnya mengernyit. “Kamu kok aneh. Kecapean ya?”

“Hah… he-he… ngga, kok…” jawab Kein, mencoba tertawa walau matanya masih memeluk masa lalu.

“Udah mau malam. Mau balik?”

Nina mengangguk dan berdiri. “Aku juga ada tugas laprak yang belum selesai. Padahal udah niat ngerjain siang tadi…”

Kein hanya tersenyum pelan.

Kau masih hidup, batinnya, dan aku tidak akan membiarkan waktu mencurimu lagi.

~~~

Malam tenang di desa pinggiran kota. Suara radio, segelas kopi hangat dan selinting tembakau membuat Kein sejenak lupa bahwa ia datang dari masa depan.

Bunyi SMS memecah hening

"Kein, lo di mana? Anak-anak udah pada nungguin ni."

Dari, Elrad.

Nama itu membuat napas Kein tercekat.

“Elrad…” gumamnya pelan. Ia mengingat, pesan ini... ia pernah menerimanya, persis sepuluh tahun lalu, malam pertama operasi mereka di Vertineri (Ve.)

“Ini saatnya... Aku harus mengubah semuanya.”

Kein segera menuju tempat mereka berkumpul.

“Kita harus batalkan operasi ini,” bisiknya pada Elrad saat tiba.

“Maksud lo apa, Kein?” suara Elrad sedikit lantang. Beberapa anggota menoleh.

“Gue cuma… nggak mau kita nyesel di kemudian hari.”

Elrad memandangnya, tajam.

“Lo sendiri yang ngajak kami bentuk Ve. Lo yang bilang, ‘kita harus lawan ketidakadilan, apa pun caranya.’ Sekarang nenek gue dipenjara cuma gara-gara ngambil kayu bakar di kebun orang kaya, dan lo malah mikirin hakim sialan itu?”

“Tapi... yang kita lawan itu Oshara (Os.). Kelompok penindas, yang punya beking pemerintah. Bukan... bukan dia,” ucap Kein, melemah.

“Ngga, Kein. Yang harus kita lawan itu semua orang yang mainin hukum demi kepentingan sendiri,” tegas Elrad.

Kein terdiam. Tak berdaya.

Ia tahu, malam ini akan jadi awal dari mimpi buruk panjang.

Ia tak bisa menghindari pembunuhan itu. Pembunuhan pertama dari kelompok yang ia bangun. Pembunuhan misterius yang akan menghantui kota selama sepuluh tahun ke depan.

Elrad tak memakai senjata. Ia hanya menggambar simbol aneh di selembar kertas, lalu menempelkannya dari jarak jauh ke tubuh korban. Kemudian dalam hitungan menit, korban tewas.

Malam itu juga, Kein teringat satu tragedi sepuluh tahun lalu, saat kelompoknya membunuh satu keluarga yang dituduh korupsi pajak. Yang tersisa hanya seorang anak kecil...

Di situlah Kein memutuskan keluar dari Ve. Ia sadar, ini bukan lagi jalan menegakkan keadilan.

Tapi sebelum ia pergi, Elrad menatapnya dan berkata: “Gue ngga bakal bunuh lo, Kein. Tapi gue pastikan hidup lo bakal menderita karena berkhianat.”

Itu janji yang dibayar mahal, di masa depan Nina mati olehnya. Elrad tahu, Nina adalah orang yang Kein cintai. Dan sekarang... Kein kembali menyaksikan semuanya dari awal.

Di rumah, ia menyalakan radio pemberian kakeknya.

“Seorang hakim ditemukan meninggal dalam perjalanan pulang. Polisi belum menemukan penyebab pasti, kecuali tanda aneh di leher korban,” suara penyiar terdengar datar, tapi menghantam kepala Kein seperti palu.

Kein memejamkan mata.

“Apa yang harus aku lakukan sekarang...” katanya pelan, seolah hanya ingin didengar oleh tembok dan dirinya sendiri.

Ia tidak mungkin memilih jalan yang sama seperti dulu, ia tak mungkin keluar dari Ve. Tapi menghentikan Ve. berarti memadamkan harapan orang-orang yang pernah ia beri semangat untuk melawan.

Dan Elrad, sahabatnya, kini adalah mimpi buruk yang ia ciptakan sendiri.

 

 

~~~

“Terus, lo mau apa?” tanya pria bertubuh gempal, sorot matanya waspada, suaranya berat.

“Berarti benar lo yang megang Os. Gue mau gabung.”

Pria itu menyipitkan mata, seolah menimbang-nimbang.

“Besok. Tempat yang sama. Jangan bawa siapa-siapa.”

Ia melangkah pergi, tubuhnya berat seperti ancaman yang tak selesai diucapkan.

Namanya Gor –pemimpin Os. saat ini.

Keesokan malam, Gor kembali ke jalan sempit di Pulos, pusat kota. Jalur itu sepi, diterangi lampu jalan yang setengah mati. Ia berdiri sendirian, tapi pikirannya penuh suara.

Sebelumnya, tangan kanannya mengirim laporan, pemuda yang menemuinya semalam adalah pendiri kelompok bawah tanah, yang minggu lalu memimpin serangan terhadap Os.

Kelompok itu... dikenal kejam. Mereka membunuh tanpa senjata. Tanpa jejak. Satu-satunya korban selamat mengatakan, setiap bukti pembunuhan menguap seperti debu, seperti dibakar oleh angin yang dikirim dari neraka.

“Gue udah denger,” kata Gor ketika sosok misterius itu muncul di balik cahaya remang, “lo pendiri kelompok itu, kan?”

“Iya.”

“Kenapa gue harus percaya lo? Kelompok yang lo bikin aja lo khianatin.”

Jawaban itu datang tenang, tanpa ragu.

“Justru karena gue pernah bangun mereka… gue tahu di mana titik lemahnya. Gue tahu gimana caranya bikin mereka jatuh.”

Diam sesaat. Hanya bunyi angin yang lewat di antara mereka.

“Oke,” kata Gor akhirnya. “Gue pegang janji lo. Tapi sekali lo main ganda, lo tau sendiri akhir hidup lo kayak gimana.”

Pria itu hanya mengangguk. Ia datang tanpa nama. Tapi membawa sejarah yang belum selesai.

 

 

~~~

Malam itu, markas Ve. tak lagi tampak seperti tempat revolusi. Hanya tembok-tembok penuh simbol, senjata berserakan, dan amarah yang belum sempat ditebus.

Os. datang tanpa aba-aba.

Menyusup dari lorong-lorong gelap, menyergap dari segala sisi. Teriakan pecah. Pisau menembus daging. Peluru memantul di dinding beton. Tubuh-tubuh roboh. Tak ada yang sempat mengucap kata “keadilan” lagi.

“Mereka tahu posisi kita!” teriak satu anggota Ve.

“Ngga mungkin… ini pengkhianatan!” balas yang lain, napasnya tercekat.

Sementara itu, di atas atap –seseorang berdiri mematung. Napasnya berat.

Kein.

Tangannya menggenggam ponsel yang kini hanya menampilkan layar gelap. Ia telah menekan nomor polisi sejak setengah jam lalu.

“Waktunya,” bisiknya pelan. Hanya malam yang mendengar.

Dalam hitungan menit, sirene memekik dari segala arah. Lampu merah biru menari di antara debu dan darah. Bayang-bayang dosa di markas Ve. perlahan dibongkar oleh hukum yang pernah mereka lawan.

Os. dan Ve. terjebak bersama. Saling membunuh. Tak ada lagi bedanya antara musuh dan kawan. Yang tersisa hanyalah takut dan naluri bertahan.

Kein turun dari atap, melewati tubuh-tubuh yang dahulu memanggilnya “pemimpin”.

Wajahnya datar. Tapi matanya berkaca.

Satu-satunya yang masih berdiri –Elrad. Tertatih. Berdarah. Tapi mata itu… masih menyala marah.

“Gue tau itu lo,” ucap Elrad, parau. “Lo yang ngasih posisi kita. Dasar… pengkhianat.”

Kein tak menjawab. Ia hanya menatapnya, lama. Seolah menanti makna dari semua luka.

“Lo bunuh mereka semua, Kein… kenapa?”

“Gue cuma… nggak mau kita nyesel, Rad.”

“Gue cuma mau lo hidup lebih tenang dari gue.”

Elrad mengangkat tangan kanannya.

Simbol kematian itu –nyala samar di telapak tangan. Berdenyut. Bergerak menuju jantung Kein. Waktu seakan melambat. Darah Kein berdesir. Langit seakan menunduk.

Dan pisau yang Kein pegang – menusuk cepat ke perut Elrad.

“Maaf…” lirih Kein.

Elrad ternganga. Darah menyusup di sudut bibirnya. Ia menatap Kein. Lalu tersenyum. “Kein… Keinma…” ucapnya dengan sisa napas. “Nama yang indah…”

Kein menggigil. Ingatan masa kecil menyeruak –nama itu, nama Kein... Keinma adalah nama samaran yang diberikan Erlad saat mereka masih SMP, di hari mereka berjanji untuk mengubah dunia. Kini, dunia itu berubah... tapi mereka berdua tak bisa ikut tinggal di dalamnya. Keduanya terjatuh. Terbaring berdampingan, memandang langit yang gelap, luas, dihiasi butiran bintang.

Jam tangan milik Davin masih di genggaman Kein – sudah retak, tak berguna. Ia berhasil, masa depan telah berubah.

Teringatnya wajah Nina, matanya, suaranya, tawanya. Luka yang tak sempat ia lindungi.

Tapi ia tahu –setidaknya, kali ini... tak sia-sia.

“Aku pulang…” bisik Kein dalam helaan napas terakhirnya.

 

~~~

Kein bukanlah pahlawan. Ia hanya manusia yang tak ingin hidup –

atau mati dalam penyesalan.

Kepulangannya bukan pelarian, bukan pula kutukan.

Tapi sebuah keharusan, seperti Sokrates yang meneguk racun,

atau Yesus yang memikul salib –

bukan untuk dikenang, melainkan untuk menyempurnakan kehidupan.

 

Salam,

Syukron Hidayat


Komentar

Postingan Populer