Hijab: Simbol Kesalehan atau Alat Kontrol Sosial? – POV: Fatima Mernisi

 

Stickmen membenci orang yang tak menggunakan hijab

Malam tadi, saya berbicara dengan bapak saya melalui telepon, membahas berbagai hal hingga akhirnya menyinggung topik hijab dari sudut pandang yang berbeda dengan keyakinan umum. Tak lama setelah itu, bapak tiba-tiba mengakhiri percakapan. Mungkin, bagi masyarakat desa seperti bapak saya, membicarakan hijab dengan perspektif yang tidak sejalan masih dianggap tabu. Saya tidak menyalahkan beliau, tetapi fenomena ini mencerminkan bagaimana hijab sering kali dijadikan tolok ukur kesalehan perempuan. Mereka yang tidak mengenakannya kerap dicap berdosa, tak bermoral, bahkan dianggap sebagai penghuni neraka. Mengapa orang beragama sering kali menghakimi seseorang hanya dari cara mereka berpakaian?

Sebaliknya Fatima Mernisi, seorang sosiolog dan feminis Muslim, dalam bukunya The Veil and the Male Elite justru mengkritik eksistensi hijab, bagaimana hijab bukan hanya sekadar ajaran agama, tetapi juga alat kontrol sosial yang membatasi perempuan. Ia menyoroti bahwa dalam sejarahnya, hijab awalnya diterapkan dalam masyarakat Arab klasik untuk membedakan ruang publik dan privat, bukan sebagai simbol kesalehan seorang perempuan. Namun, dalam praktiknya, hijab sering kali menjadi alat kontrol patriarki yang memperkuat dominasi laki-laki terhadap perempuan.

Salah satu bentuk ketidakadilan yang terjadi adalah standar ganda dalam berpakaian. Laki-laki yang mengenakan celana pendek atau berpakaian terbuka dianggap biasa, sementara perempuan yang melepaskan hijabnya akan dipandang sebagai sosok yang tidak bermoral. Lebih parah lagi, ada kasus di mana perempuan berhijab pun tetap mengalami diskriminasi, baik dalam dunia kerja, pendidikan, maupun kehidupan sosial. Di beberapa negara, perempuan dipaksa mengenakan hijab sebagai bagian dari identitas politik, seperti di Arab Saudi yang mewajibkan hijab di wilayah Mekah dan Madinah. Sebaliknya, di negara-negara tertentu, hijab justru dilarang, sehingga perempuan yang berhijab kesulitan mendapatkan pekerjaan atau akses ke pendidikan yang layak.

Yang lebih ironis adalah klaim bahwa hijab melindungi perempuan dari pelecehan seksual. Kenyataannya, banyak perempuan berhijab masih menjadi korban kekerasan seksual, termasuk di lingkungan yang dianggap religius, seperti pesantren. Dalam banyak kasus, relasi kuasa antara guru dan santri membuat korban sulit melapor. Lebih buruk lagi, masyarakat kita cenderung menyalahkan korban daripada menghukum pelaku. Budaya victim-blaming[1] ini membuat banyak perempuan enggan berbicara, karena mereka justru dikucilkan meskipun sudah mengalami kekerasan.

Lalu, apakah hijab masih relevan di zaman sekarang? Sebelum terburu-buru menjawab, penting untuk melihat konteks yang lebih luas. Fatima Mernisi tidak menentang hijab secara mutlak, tetapi ia mengkritik bagaimana hijab sering kali dijadikan alat paksaan sosial daripada pilihan pribadi. Ia berpendapat bahwa perempuan seharusnya bebas memilih apakah ingin mengenakan hijab atau tidak, tanpa tekanan dari masyarakat, agama, maupun politik. Yang lebih penting dari sekadar hijab adalah bagaimana masyarakat menghormati kebebasan perempuan dalam menentukan pilihan hidupnya.

Pelecehan seksual terhadap perempuan berhijab membuktikan bahwa pakaian bukanlah solusi utama untuk melawan kekerasan. Kesalehan seseorang tidak bisa menjadi ukuran keamanan dari pelecehan atau diskriminasi. Sebagai solusi, edukasi menjadi kunci utama dalam mengubah cara pandang masyarakat. Kita perlu membangun kesadaran bahwa nilai seseorang tidak bisa diukur hanya dari pakaiannya. Stigma terhadap perempuan, baik yang mengenakan hijab maupun tidak, harus dihilangkan agar tidak ada lagi diskriminasi atau penghakiman moral hanya karena pilihan berpakaian.

Pada akhirnya, hijab harus menjadi pilihan yang didasarkan pada kesadaran dan keimanan sejati, bukan karena tekanan sosial atau budaya. Masyarakat seharusnya lebih fokus pada membangun budaya yang menghormati hak perempuan daripada sekadar mengontrol cara mereka berpakaian. Dengan begitu, kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih adil, bebas dari diskriminasi, dan menghargai kebebasan individu.

 

Salam,

Syukron Hidayat

 

Reference:

https://en.wikipedia.org/wiki/Fatema_Mernissi

https://www.slideshare.net/kuliahmandiri/gerakan-feminisme-islam-dalam-perspektif-fatimah-mernissi



[1] Victim blaming atau menyalahkan korban adalah fenomena ketika seseorang yang menjadi korban kejahatan atau ketidakadilan justru disalahkan atas apa yang menimpanya

Komentar

Postingan Populer