Tidak Ada Alasan untuk Pulang
Malam tadi saat saya bermain Duolingo kemudian
tulisan merah muncul yang menandakan itu adalah koreksi kesalahan saya. Kesalahan
saya adalah menyebutkan kata house yang seharusnya adalah home. Lalu saya
menanyakan kepada teman saya, apa bedanya house dengan home?, teman saya
menjawab; house hanyalah bangunannya saja, sedangkan home adalah tempat
berpulang yang tidak terbatas pada sebuah bangunan. Itu berarti, home dapat
dikatakan memiliki sifat emosional dan personal.
Terdiam sejenak, memikirkan orang tua di
rumah, lalu melanjutkan lagi bermain. Kenapa kalimat di awal paragraf ini
penting? Karena kata ‘terdiam’ memberikan makna emosional dan personal bagi
saya, yaitu ‘home’ itu tadi.
Pertanyaan yang muncul saat tidak balik mudik
adalah, apa alasan tidak mudik?, saya selalu menjawabnya sesuai dengan orang
yang menanyakannya. Namun, jawaban dari “apa alasan tidak mudik?” untuk di
tulisan ini, jawaban saya; “ya karena tidak ada alasan untuk mudik”. Perasaan
‘home’ pada diri saya akan selalu ada, mungkin itu dianggap dapat menjadi
alasan untuk balik. Namun, saya tahu perasaan ‘home’ itu tidak lagi menjadi ada
ketika kita sudah go home, pulang. Karena perasaan itu sudah terluapkan,
sudah terlepaskan dengan perbuatan pulang kita.
Namun siapalah yang peduli dengan anak yang
baru berusia 19 tahun yang tidak balik mudik. Masih banyak orang yang tidak
bisa mudik, bahkan lebih dari dua tahun di tanah rantau. Dan saya tidak ingin
mendramatisir keadaan, bahkan saya ingin pulang untuk H-1 saja saya masih bisa.
Saya masih memiliki banyak kesempatan, walaupun sadar kesempatan itu akan
berkurang seiring berjalannya waktu.
Ini hanyalah sebuah tulisan anak remaja yang
baru bangun tidur dalam keadaan lapar. Mata terbuka langsung tertuju pada
pelafon kamar kostan, dipaksa mendefinisikan ulang arti kata rumah.
Saya tidak pernah menanyakan kenapa kalian
mudik? ke teman-teman saya yang mudik, karena saya tahu jawaban mereka pasti
berbeda beda. Tapi sungguh disayangkan pada mereka yang tidak tahu alasan
mereka kenapa mudik, hanya simbolisasi/formalitas, ataau hanya sekedar ikut
tradisi sosial.
Saya masih menatap pelafon kamar kost, membiarkan pikiran melayang
ke arah yang tak jelas. Apa sebenarnya yang membuat orang-orang begitu
tergesa-gesa untuk pulang saat Lebaran? Apakah karena rindu? Atau hanya karena
mereka merasa harus?
Saya melihat unggahan teman-teman di media sosial. Foto-foto/Vidio perjalanan,
jargon "Balik Kampoeng", dan video keluarga berkumpul di ruang tamu
yang hangat. Ada kebahagiaan di sana, tapi ada juga yang tampak seperti
rutinitas tahunan yang mekanis—sesuatu yang harus dilakukan, bukan sesuatu yang
benar-benar diinginkan.
Saya tidak mempertanyakan mereka yang mudik dengan penuh kesadaran.
Mereka yang benar-benar ingin kembali ke rumah, bertemu keluarga, merasakan
kembali kehangatan yang selama ini hanya bisa dikenang. Tapi bagi mereka yang
bahkan tidak tahu kenapa mereka harus pulang, apakah mudik masih memiliki
makna?
Di satu sisi, pulang ke rumah bisa jadi cara untuk mengisi kembali
sesuatu yang kosong. Tapi di sisi lain, bagi sebagian orang, pulang justru bisa
menjadi pengingat bahwa yang dulu disebut "home" sudah tidak lagi
sama. Rumah yang dulu hangat bisa berubah menjadi tempat asing. Orang-orang
yang dulu akrab kini lebih sibuk dengan dunianya masing-masing. Seperti yang
saya katakan, home itu personal. Ia bukan sekadar tempat, tapi perasaan
yang melekat di dalamnya.
Lalu, apakah seseorang bisa merasa home tanpa harus go
home?
Saya merasa begitu.
Saya tidak bisa bilang bahwa saya tidak ingin pulang. Tapi saya
juga tidak melihat pulang sebagai sesuatu yang mutlak harus dilakukan. Saya
memilih tetap di sini, bukan karena saya tidak memiliki rumah untuk pulang,
tapi karena saya tahu bahwa rumah itu tetap ada, di mana pun saya berada.
Pertanyaan yang pernah terlontar kepada saya: Apakah kamu tidak
rindu orang tua?
Saya pikir, rindu itu hadir ketika terdapat ruang dan waktu yang
saling bersenggangan. Dua tahun tidak pulang bukanlah waktu yang singkat,
begitu pula jarak Jogja–Lombok yang bukanlah perjalanan dekat. Namun, justru di
situlah letak rindu itu sendiri.
Mungkin suatu saat saya akan merasakan dorongan yang kuat untuk
kembali. Mungkin rindu yang ada harus dikasih makan. Mungkin saya akan
menemukan alasan yang lebih jelas untuk mudik. Tapi untuk saat ini, biarkan
perasaan home saya bawa ke mana pun saya pergi.
Saya membiarkan pikiran saya mengembara sejenak, lalu bangkit dari
kasur. Pukul 17.00, dan sebentar lagi berbuka puasa di hari terakhir bulan
Ramadhan 1446 H.. Saya pikir, sebelum terlalu jauh membahas makna rumah,
mungkin ada baiknya saya mencari sesuatu yang lebih nyata: makan.
Salam,
Syukron Hidayat



Komentar
Posting Komentar