Ramadhan, Bulan Penuh Limbah (makanan)? Refleksi atas Konsumsi Berlebihan
‘War takjil’, istilah yang sering digunakan
oleh pencari takjil di bulan Ramadhan. Jenis-jenis pemburunya berbagai macam;
ada yang pergi ke pasar Ramadhan untuk mencari menu berbuka, atau hanya di
simpan untuk nyemil nanti setelah shalat tarawih. Jenis ini juga terbagi
menjadi beberapa bagian pemburu; ada yang memang benar-benar puasa, ada yang
non muslim, ada yang pura-pura puasa, dan ada juga yang dia tidak puasa karena
lagi datang bulan. Kemudian jenis yang kedua yaitu pemburu takjil yang ke
masjid-masjid yang menyediakan takjil gratis, nah saya termasuk golongan ini.
Kemarin sore seperti biasa saya dengan teman
saya pergi mencari takjil di masjid, beruntungnya saya menadapatkan satu takjil
gratis untuk buka, sedangkan teman saya malangnya tidak mendapatkan, sehingga
ia harus beli untuk dirinya buka puasa. Keesokan harinya, yaitu hari ini, kami
pergi ke Masjid Jogokaryan; belajar dari hari kemarin kami mencari masjid yang
menyediakan porsi takjil gratis yang lebih banyak. Kami berbuka di sana, di
mana info dari sosial media instagram: Masjid Jogokaryan menyediakan takjil
gratis sebanyak 3.500 porsi per hari. Tentu hal itu membuat semua mahasiswa
rantau seperti saya dan temen saya tergiur. Alhamdulillah untuk kali ini kami
berdua mendapatkan takjil untuk berbuka.
Namun, yang terlihat saat saya berbuka di
sana, tidak sedikit diantara kami yang mendapatkan bukaan gratis, tidak
menghabiskan makanan, sehingga harus di buang. Walaupun pembuangan sisa makanan
dibuang ke bak sampah, namun hal itu membuat saya berpikir; apakah hal itu
lumrah terjadi? Lalu ke mana sisa-sisa makanan yang kami buang tadi? Dan apakah
di bulan Ramadhan ini sisa makanan yang terbuang lebih banyak daripada bulan
sebelumnya? Apakah bulan ini benar-benar dimuliakan oleh umat yang
mempercayainya?
~~~
Ramadhan adalah bulan penuh berkah, nilai
ibadah bertambah, doa-doa pun di ijabah. Namun yang sering terjadi, Ramadhan
juga menjadi salah satu momen makanan kita menjadi limbah. Jumlahnya tak
sedikit, diperkirakan sebanyak 20% limbah makanan bertambah. Indonesia menjadi
negara terbesar nomor dua yang menjadikan makanan sebagai sampah. Ramadhan tiba
membuat keadaan semakin parah.
Berdasarkan laporan dari United Nations Environment Programme
(UNEP), Indonesia menghasilkan 23-48 juta ton limbah sampah setiap tahunnya. Jika
dibagikan ke seluruh masyarakat Indonesia (jika masih berupa makanan yang masih
layak), maka setiap warga akan mendapatkan satu porsi makanan per hari. Seharusnya
ini yang diperhatikan pemerintah, bukannya malah bikin program makan gratis
yang malah memeras anggaran.
Kembali ke rumusan masalah, apakah menghamburkan makanan lumrah terjadi?
–mau dikaji dari sudut pandang apapun, saya rasa menghamburkan makanan bukanlah
suatu kelumrahan. Apalagi di dalam Islam, setiap butir nasi takjil yang
diberikan akan dituntut pertanggung jawabannya. Di lihat dari segi etika,
menghamburkan makanan bukanlah suatu yang baik, karena menghamburkan makanan
yang merupakan sumber kehidupan adalah suatu hal yang bodoh.
Selain itu, menghamburkan makanan dapat merugikan diri sendiri dan
orang lain. Seseorang yang menghamburkan makanan dapat menyerang kondisi
psikologisnya dan menumbuhkan kebiasaan buruk. Menumbuhkan kebiasaan tidak
menghargai usaha dalam memperoleh sesuatu, sehingga dalam jangka panjang akan membentuk
mentalitas konsumtif dan kurang bersyukur. Sifat kurang bersyukur ini jugalah
yang dapat merugikan orang lain. Makanan yang seharus dapat diberikan kepada
orang yang lebih membutuhkan, malah dihambur-hamburkan hanya karena ingin
memuaskan nafsu pribadi.
Lalu ke mana sisa-sisa makanan yang kita hamburkan? –ternyata sebagian
besar berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mencemari lingkungan dan
menghasilkan gas metana, yaitu gas yang bertahan lebih sebentar jika
dibandingkan karbon. Selain itu, banyak makanan yang dibuang ke sungai dan laut,
mencemari ekosistem air dan tentunya membahayakan makhluk hidup di dalamnya.
Semua karena nafsu kita. Makanan diproduksi berlebihan tanpa adanya
upaya pemanfaatan ulang. Tak ada inisiatif daur ulang atau redistribusi
makanan. “maik rue doang” (enak di mata
saja/lapar mata) kata ibu saya. Namun kata-kata itulah yang selalu kita
perlukan untuk menahan nafsu kita membeli takjil yang berlebihan.
Tolong laah, anak kost masih banyak yang kelaparan. Hargai makanan
anda adalah langkah anda menghargai kami.
Pada akhirnya kita dapat mencermati dampak yang kita hasilkan, baik
sesama manusia ataupun pada bumi. Perlu kita kaji ulang niat kita di bulan suci
ini. Jangan hanya membuat trend Velocity, tapi makanan bukber kita perlu juga
untuk dihargai.
Salam,
Syukron Hidayat
Reference:
Ahmad
Faqih – Gaya Hidup - SustainLifeToday



Komentar
Posting Komentar