Kenapa habis buka puasa langsung berak? – pilosopi berak
Pertanyaan yang muncul ketika saya sedang berada di kamar mandi
sambil menikmati kesendirian dan ketenangan berak. Kenapa ya sehabis makan saya
langsung berak?Aapakah tubuh saya tidak mengalami proses pencernaan sebagaimana
manusia lainnya? Apakah saya ini sebenarnya manusia super?
Saya berpikir; mungkin ketikan saya makan, kemudian makanannya
masuk ke lambung, di sana terjadi proses penghancuran makanan, dan proses
penghancuran itu menghasilkan sebuah getaran yang cukup hebat dalam tubuh saya.
Di mana getaran pada lambung tersebut berimplikasi pada usus yang juga ikut
bergetar. Kemudian hal itu membuat makanan yang sudah diolah sebelumnya, yang
berada di usus bergerak menjadi lebih cepat. Sehingga dengan makanan yang
bergerak lebih cepat, terjadilah proses apa yang dinamakan berak itu tadi. Dari
sini saya bisa menyimpulkan, bahwa secara tidak langsung proses makan menunjang
keberlangsungan berak terjadi lebih cepat.
Penalaran yang saya lakukan menghasilkan penjelasan yang terdengar
cukup panjang, tapi yakinlah hasil penalaran itu sudah saya renungkan lebih
dari sepuluh kali waktu berak. Namun, tentu saja saya belum puas karena
penalaran yang saya lakukan masih cacat, belum didukung oleh bukti. Pada
akhirnya saya memutuskan untuk menulis ini sebagai langkah penelitian saya dan
membagikannya kepada kalian untuk menambah inside yang berharga.
Karena saya tidak memiliki alat laboratorium, jadi saya menggunakan
metode penelitian kualitatif berbasis kajian literatur. Saya mengumpulkan
beberapa data, mulai dari Google, Schoolar, Chat-gpt, Meta Ai, dan Microsoft
copilot. Selain itu, saya juga menggunakan metode penelitian normatif untuk
mengkaji bagaimana etika makan yang seharusnya, di mana hal ini dimaksudkan
untuk mendukung kenyamanan tubuh dalam proses makan maupun berak.
Setelah melakukan riset selama sepuluh menit, ternyata saya
menemukan hasil yang cukup keren. Dari jawaban para AI, saya menemukan jawaban
yang kurang lebih sama. Berak segera setelah makan bisa terjadi karena refleks
gastrokolik, yaitu respons alami tubuh yang mendorong aktivitas usus
setelah makanan masuk ke lambung. Hal ini wajar dan umum terjadi, terutama pada
bayi dan beberapa orang dewasa yang memiliki sistem pencernaan yang lebih
sensitif.
Sedangkan dari google, menurut dr. Riska Larasati dalam Alodokter, bahwa
kondisi berak sehabis makan ini disebabkan karena mengalami peningkatan gerakan
usus yang disebabkan karena lambung mengalami peregangan. Peregangan lambung dapat
berasal dari makanan yang dikonsumsi yang membuat gerakan usus menyebabkan
makanan bergerak ke rektum. Selain karena refleks tersebut, penyebab lain dari
keluhan yaitu karena mengalami sindrom iritasi usus, kemudian alergi makanan
tertentu, mengalami intoleransi makanan atau bahan makanan tertentu, mengalami
inkontinensia feses dan sebagainya.
Dari hasil penelitian terdahulu, saya
juga menemukan bahwa refleks gastrokolik ini bermanfaat untuk mengatasi
konstipasi pasien stroke dengan menggunakan terapi air putih. Namun, Pada kondisi seperti Irritable Bowel Syndrome (IBS), refleks
gastrokolik bisa terlalu aktif, menyebabkan diare setelah makan. Sebaliknya,
pada hipomotilitas usus, refleks ini justru membantu mencegah sembelit dengan
mempercepat pergerakan feses. Dengan kata lain, refleks ini bisa menjadi pemicu
atau solusi tergantung pada kondisi pencernaan seseorang.
Sedangkan dari hasil penelitian normatif untuk mengkaji etika makan
dalam rangka menunjang kenyamanan saat proses makan maupun berak. Saya menemukan beberapa pendapat; dari
pandangan Islam, etika makan tidak hanya bernilai ibadah, tetapi juga
bermanfaat bagi kesehatan pencernaan. Dianjurkan untuk membaca Bismillah
sebelum makan, makan dengan tangan kanan, serta tidak berlebihan agar
pencernaan tidak terbebani. Mengunyah dengan baik dan tidak makan terburu-buru
membantu lambung bekerja lebih optimal, sementara duduk saat makan mempermudah
proses pencernaan. Selain itu, tidak langsung tidur setelah makan mencegah
gangguan lambung, dan minum secukupnya agar enzim pencernaan tetap efektif.
Dengan mengikuti adab ini, tubuh lebih nyaman saat makan maupun berak.
Dari sisi ilmu Biologi, saya menemukan bahwa etika makan yang baik
mendukung sistem pencernaan agar bekerja optimal. Mengunyah dengan baik
membantu enzim pencernaan, sementara makan perlahan mencegah makan berlebihan.
Hindari makan berlebihan untuk menjaga keseimbangan gula darah, dan minum
secukupnya agar enzim tetap efektif. Tidak langsung tidur setelah makan
mencegah refluks asam. Dengan pola ini, tubuh lebih mudah menyerap nutrisi dan
menjaga kesehatan pencernaan.
Dan karena pada judul saya menaruh diksi pilosopi, saya mendapatkan
beberapa pandangan filosofis dari beberapa jenis aliran filsafat, diantaranya:
Dalam filsafat eksistensialisme, makan bukan sekadar aktivitas biologis, tetapi
juga bentuk keberadaan manusia yang mencerminkan kebebasan dan pilihan sadar
dalam mengonsumsi makanan yang sehat dan bermakna. Filsafat etika Aristotelian
menekankan keseimbangan (golden mean), di mana makan harus dilakukan
dengan moderasi—tidak berlebihan tetapi juga tidak kurang—agar tubuh tetap
sehat dan jiwa tetap harmonis.
Dalam perspektif filsafat Stoisisme, makan harus dilakukan dengan
penuh kesadaran (mindfulness), tidak diperbudak oleh keinginan
berlebihan, serta menghargai makanan sebagai bagian dari kehidupan yang harus
disyukuri. Sementara itu, dalam etika lingkungan, makan juga melibatkan
tanggung jawab moral terhadap alam, memilih makanan yang tidak merusak
ekosistem, dan menghindari pemborosan. Dengan demikian, etika makan dalam
filsafat bukan sekadar soal kesehatan fisik, tetapi juga refleksi dari
kebijaksanaan, moralitas, dan harmoni dengan dunia.
Dari beberapa paparan di atas, dapat saya simpulkan bahwa; kejadian
berak langsung sehabis makan hanyalah faktor lambung yang meregang, diakibatkan
oleh faktor jenis makanan, di mana hal itu disebut dengan istilah refleks gastrokoli. Anggapan saya bahwa saya adalah orang
super ternyata salah, karena hal ini ternyata wajar terjadi pada bayi dan
beberapa orang dewasa yang memiliki sistem pencernaan yang sensitif.
Sedangkan etika makan dapat dikaji dari berbagai perspektif, termasuk Islam,
biologi, dan filsafat. Dalam Islam, makan bukan hanya ibadah tetapi juga
menjaga kesehatan pencernaan, seperti mengunyah dengan baik, makan secukupnya,
dan tidak langsung tidur setelah makan agar tubuh lebih nyaman. Dari sisi
biologi, etika makan yang baik membantu enzim pencernaan bekerja optimal, serta
menjaga keseimbangan gula darah dan metabolisme tubuh. Sementara itu, dalam
filsafat, makan tidak sekadar aktivitas biologis, tetapi juga refleksi
kesadaran dan tanggung jawab.
Mungkin hipotesa saya kali ini salah, namun wajar manusia, bukan
nabi booy.
Salam,
Syukron
Hidayat
.jpeg)


Komentar
Posting Komentar