Hidup Tahu Diri - 2024

 

Perasaan yang muncul saat mengakhiri tahun ini adalah, ‘2023 lebih berkesan daripada 2024’. Hal ini mungkin karena ada pengalaman dan hal-hal yang saya alami di tahun lalu yang tidak terjadi di tahun ini. Namun sebenarnya, perasaan itu muncul karena waktu telah memberi jarak untuk mengingat kesan tahun lalu, sedangkan tahun ini belum sepenuhnya direnungi. Tahun ini pun akan terasa berkesan pada waktunya, setelah saya meninggalkannya atau merenunginya lebih mendalam.

Kemudian, apakah tahun lalu lebih baik daripada tahun sekarang? Tentu saja tidak, karena saya percaya bahwa saya tetap bertumbuh sesuai dengan pengalaman hidup yang saya alami. Permasalahan hidup juga sama, ia akan terus terasa berat seiring dengan berjalannya waktu, yang padahal permasalahan tersebut akan kita anggap biasa saja di masa yang akan datang.

Pengalaman dalam menyelesaikan masalah inilah yang nantinya akan menentukan tanggung jawab yang kita ambil di masa depan, dan setiap tanggung jawab yang diambil akan ada permasalahan yang menuntut untuk diselesaikan, kemudian yang akan menentukan tanggung jawab yang akan diambil selanjutnya, terus menerus seperti itu. Pada intinya, baik tahun lalu ataupun tahun sekarang, baik masa lalu ataupun masa sekarang, keduanya memiliki persamaan dan kesan, dan setiap masa layak untuk dihargai.

Tahun ini terasa begitu cepat, dari bulan januari dengan buku Dunia Sophie karya Jostein Gaarder, hingga buku Filsafat Manusia karya Septiana Dwi Putra Maharani DKK. Dari Asrama Tastura Jogja, hingga Kostan Janti yang begitu menenangkan. Banyak pelajaran maupun pembelajaran yang didapatkan dan dilakukan. Mulai dari pelajaran yang didapatkan di dunia perkuliahan, maupun pembelajaran yang didapatkan berdiam diri selama dua bulan di kostan. Semuanya dilakukan untuk tahu diri, saya kira dua bulan berdiam diri cukup untuk menemukan jawabannya, ternyata tidak.

Banyak tanggung jawab yang diambil, dan banyak juga dari tanggung jawab tersebut diputuskan untuk mengundurkan diri dan diundurkan diri. Hal itu karena banyak tanggung jawab yang diambil secara tidak profesional saya menjalaninya, sehingga menjadi tidak efektif berada di sana.

Sama seperti istilah persona yang digunakan oleh Carl Gustav Jung seorang Freudian asal Swiss. Persona dalam bahasa Yunani atau yang berarti Topeng dalam bahasa Indonesia adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada fenomena manusia yang menunjukan identitasnya kepada orang lain demi memenuhi harapan masyarakat dan menjaga hubungan sosial. Contohnya sebagai seorang mahasiswa, maka ia akan menjadi mahasiswa sebagaimana seharusnya mahasiswa, memenuhi beban sks, mengerjakan tugas, dll. Hal itu dilakukan demi ia menjadi mahasiswa sebagaimana harapan masyarakat dan standar sosial yang seharusnya.

Terlalu terkait pada persona juga akan berdampak pada kehilangan kontak dengan dirinya yang autentik atau mengalami konflik internal antara ‘diri yang sejati’ dan ‘diri yang ditampilkan’. Namun, yang dapat dilakukan sebagaimana dijelaskan oleh Jung, bahwa persona  akan menjadi suatu kepribadian yang sebenarnya apabila dilakukan secara terus menerus serta diyakini sebagai suatu kebaikan maka hal itu layak untuk dijalani.

Kaitannya dengan tanggung jawab yang saya ambil dengan istilah persona yang digagas oleh Jung adalah, bahwa saya belum profesional untuk menjalani persona yang saya ambil. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan persona tersebut, karena hal itu malah akan menyebabkan kerugian bagi diri dan orang lain yang terkait dengan persona tersebut.

Hidup adalah sebuah pilihan, dan setiap pilihan dipengaruhi oleh masa lalu yang terikat di dalamnya. Namun, pilihan yang baik adalah pilihan yang jujur, jujur mengetahui apa yang dibutuhkan oleh diri. Mengetahui diri membutuhkan waktu seumur hidup, setiap saat dan berkesinambungan.

Teknologi mendorong manusia menjadi kehilangan diri –benar, tidak hanya gadget, teknologi secara keseluruhan. Ia memunculkan standar hidup baru, mengikis keunikan manusia, serta manusia tak lagi menjadi subjek terhadap teknologi yang ia gunakan.

Teknologi muncul untuk memenuhi kebutuhan manusia, manusia memanfaatkan teknologi untuk mempermudah pekerjaannya. Namun, seiring berjalannya waktu Homo Teknologicus ini seolah menjadikan manusia sebagai objeknya. Seiring berjalannya waktu juga ia menciptakan informasi-informasi dengan begitu cepat, sehingga muncullah persona-persona baru yang menjadi standar kehidupan manusia.

Standar hidup yang baru ini pun terkadang tak masuk akal, sehingga manusia yang mengikuti standar tak masuk akal tersebut akan menjadi semakin jauh dengan jati dirinya, karena yang dia butuhkan sejatinya tidak sesuai dengan apa yang ia lakukan/gunakan. Misalnya, seseorang mengikuti tren gaya berpakaian di media sosial, meskipun tidak sesuai dengan bentuk tubuh, warna kulit, atau gaya rambutnya. Namun, demi memenuhi standar tersebut, ia tetap melakukannya. Akibatnya, manusia lebih fokus mengejar validasi sosial daripada memahami dan memenuhi kebutuhannya yang sejati.

Pada akhirnya, kehidupan tetaplah kehidupan. Tak perlu merasakan masa lalu lebih baik daripada masa sekarang, karena setiap masa layak untuk dihargai asal kita dapat dengan baik mengambil pembelajarannya. Setiap pilihan dalam hidup, tak ada yang lebih baik dan lebih buruk, karena pilihan yang terbaik adalah pilihan yang jujur, mengetahui apa yang dibutuhkan oleh diri. Tak perlu menjadi orang lain, tetaplah menjadi diri sendiri, dan professional-lah pada setiap tanggung jawab yang telah diambil.

 

Salam,

Syukron Hidayat

Komentar

Postingan Populer