Mengenal Istilah Golden Mean (Aristoteles) di Era FoMO dan Nomophobia
Mengenal Istilah Golden Mean (Aristoteles) di Era FoMO
dan Nomophobia
Sabtu pagi
terdengar suara seseorang memanggil nama saya, yang membuat saya terbangun dari
tidur. Ternyata, itu adalah teman saya yang ingin meminjam barang. Sontak saya
berlari membukakan pintu padanya seakan telah terjadi apa-apa. Entah mengapa,
jika dibangunkan oleh orang lain, otak saya bekerja lebih cepat dibandingkan
saat terbangun oleh suara alarm yang terasa membosankan. Keanehan ini tidak
saya ketahui apakah hanya berlaku untuk diri saya saja, atau orang lain juga
merasakannya.
Melihat jam ternyata sudah pukul 07.00 dan menurut saya itu adalah
pukul yang terlambat untuk bangun pagi, walaupun di hari libur. Biasanya hal
itu membuat pikiran saya menjadi kurang baik, dan pada akhirnya menjadi
bermalas-malasan.
Tapi hari ini saya ingin menebus dosa tersebut dengan berolah raga
(joging). Pada kilo meter pertama, saya teringat kenapa saya bisa terlambat
bangun tidur tadi, yaitu karena semalam saya main handphone sampai larut malam.
Dan setelah diingat-ingat lagi ternyata tidak hanya sekali, beberapa hari
belakangan ini sering terjadi, bahkan di weekdays sekalipun sering terjadi,
sehingga terlambat untuk masuk perkuliahan, atau bahkan tidak masuk sama sekali
karena sudah terlanjur bermalasan.
Tentu hal tersebut adalah kebiasaan buruk, kalo sampai orang tua
saya tahu, pasti pintu kamar rusak dibuatnya. Namun, di sini saya menuliskannya
karena sebagai intropeksi pribadi saja.
Pertanyaannya, gejala apa ini?
Sesampainya di kos, saya langsung membuka catatan lama dan
menemukan beberapa lembar kertas berisi tulisan yang saya buat sekitar setahun
lalu yang digunakan untuk memantik diskusi pada waktu itu. Tulisan itu membahas
salah satu filsuf Yunani kuno, Aristoteles. Setelah membacanya kembali, ada
satu prinsip yang saya temukan dan ada kaitan yang relevan dengan kejadian tadi
pagi dan beberapa peristiwa belakangan yang saya alami.
Aristoteles adalah salah satu filsuf besar di zaman Yunani kuno,
yang lahir sekitar 300an SM. Dalam karyanya Nicomachean Ethics Aristoteles
berpendapat bahwa kebaikan manusia terletak diantara dua ujung yang paling jauh.
Maksudnya adalah suatu hal yang berada di tengah-tengah adalah suatu yang baik,
yang ia sebut sebagai golden mean.
Dalam konteks terlambat bangun tidur tadi, bermain handphone
berlebihan di waktu malam adalah bentuk ekstrem/luar batas dari seharusnya,
yang menyebabkan ketidakseimbangan, dan tentunya merugikan. Namun sebaliknya,
menghindari handphone sepenuhnya juga tentu tidak baik yang mungkin membuat
saya kehilangan manfaat teknologi. Itulah kenapa saya seharusnya bertindak di tengah-tengah
supaya tidak merugikan.
Mungkin bagi sebagian orang mendengar “bertindak berlebihan tidak
baik” adalah hal yang lumrah, bahkan mungkin bosan mendengarkannya. Tapi sebanyak
dan sesering apapun orang mendengarkannya, keanyataannya masih banyak yang
tidak menerapkan hal itu, termasuk saya pribadi.
Melihat dunia internet, masih banyak ditemukan kecerobohan orang
yang diakibatkan oleh sikap gegabah mereka. Bahkan sosial media yang bisa
dikatakan sebagai pelarian dari dunia nyata saja, masih ditemukan dampak nyata
yang buruk akibat sikap berlebihan mereka.
Tik-tok sebagai aplikasi terlaris di Indonesia ternyata pengguna
terbesarnya adalah anak muda/gen Z. Dari aplikasi tersebut ternyata memberikan
dampak stress pada 70% anak muda. Selain stress, dari aplikasi tersebut juga dapat
memproduksi standar-standar hidup baru yang tidak relevan, dan cukup gila. Seperti
gaji dua digit, sukses harus di usia 20-an, tinggi cowok minimal 170cm, dan
masih banyak standar-standar yang saya tidak tahu itu untuk apa dan bagaimana.
Tentu kesalahan tidak terletak pada aplikasi Tik-tok, karena
aplikasi hanyalah sebatas media yang sudah diatur algoritmanya. Namun di sini
kita harus berintropeksi lebih lanjut terhadap penggunaan kita pada media yang
disediakan. Pengguanaan haruslah secukupnya, jangan sampai ‘pelarian’ tersebut
malah membuat kita terpenjara.
Dikenal istilah Nomophobia (no mobile phone phobia) dan FoMO
(fear of missing out) sebagai dampak dari seseorang yang mengonsumsi
sosial media secara berlebihan. Nomophobia adalah perasaan takut
berlebihan ketika ia tidak dapat mengakses handphonenya, seperti kehilangan
sinyal, habis batrai, ataupun lupa membawa handphonenya di saat berpergian. Ia akan
merasa takut, ataupun yang sering kita lihat video-vidio bercandaan orang-orang;
ketika tidak bawa handphone maka ia akan merasakan kehidupan seperti masa
prasejarah. Terlihat lucu dan menakutkan, tapi itu adalah sebuah gangguan
mental (nomophobia).
Istilah yang kedua yaitu yang sering terdengar sekarang adalah FoMO
atau Fear of missing out, yaitu gejala saat seseorang merasa cemas atau
takut ketinggalan informasi, atau trend terbaru sehingga ia terus membuka
sosial media mereka karena takut ketinggalan. Gejala ini adalah gangguan mental
yang membuat pengidapnya terus mengikuti standar-standar media sosial tanpa
menimbang kerugian dan keuntungan bagi dirinya.
Dari dua gejala tersebut, penyebab yang paling berpengaruh adalah karena
berlebihan dalam mengguakan sosial media. Selain stress dan gangguan mental
lainnya, penggunaan sosial media berlebihan juga dapat mengakibatkan banding-bandingin
diri dengan orang lain yang padahal itu tidak perlu dilakukan, tapi karena
standar-standar berlebihan di sosial media menjadikan dirinya seperti itu. Kemudian
dapat mengakibatkan juga pada produktivitas menurun, hubungan sosial berkurang,
serta dapat merugikan waktu dan uang yang diakibatkan oleh budaya konsumtif media
sosial.
Mungkin benar, kita harus hidup cukup, di tengah-tengah saja,
jangan melakukan suatu hal yang terlalu ekstrim sehingga merugikan diri, atau
jangan juga terlalu berkekurangan sehingga pelit dengan diri sendiri. “Tahu
diri dan tahu tempat” kata dosenku mah, mungkin itu yang membuat kehidupan jauh
lebih tenang. Kendalikan nafsu dengan logika sehingga dapat bertindak dengan
benar. Jangan terlalu mengikuti standar orang lain, buatlah zona nyaman
sendiri, selama tidak merugikan orang lain dan diri sendiri, kenapa tidak!
Salam,
Syukron Hidayat




Komentar
Posting Komentar