Manusia dengan Tingkahnya
Kosan flyover Janti, tak terasa sudah hampir satu tahun saya
tempati. Sejak awal tahun lalu kosan ini saya ambil dari temanku yang sudah mau
pindah. Dengan rasa senang saya mendapatkannya karena harganya tergolong sangat
murah di pasaran kosan Jogja. Perbulan tigaratus limapuluh ribu, sudah plus
listrik, air, dan sampah. Letaknya di pemukiman warga dan tergolong strategis;
warganya ramah-ramah, beli makan tinggal jalan, mau lihat sunrise tinggal naik
pflyover, turunnya ada banyak PKL (Pedagang Kaki Lima) yang menyuguhkan
berbagai macam jenis makanan, dan yang terbaik ia menyediakan ‘spot bengong’
untuk pelanggan, sebelum melanjutkan aktivitas keseharian.
Malam itu “kosan Janti” di guyur hujan. Perut yang
belum terisi sedari pagi mulai memberontak, dan mengeluarkan kata-kata cacian yang
sungguh dapat saya mengerti artinya. Namun, kali ini saya meminta maaf
kepadanya karena tak dapat memenuhi apa keinginannya. Dengan muka bodoh “Sabar
yaa, di luar lagi hujan, kita kan ngga punya jas hujan” ucapku pada perutku
sendiri.
Adzan Isya’ berkumandang. Setelah shalat
kemudian berdoa sambil menunggu keajaiban. Benar saja, tak lama setelah itu
pintu kosku di ketuk, ada seorang perempuan paruh baya yang mengantarkan makanan
padaku –maksudku dia adalah malaikat penyelamat malam itu. Dan baru saya ingat
ternyata di luar warga sedang persiapan untuk hajatan salah satu warga yang
kebetulan rumahnya depan kosanku.
Dengan rasa senang makanan saya makan seperti
orang kelaparan (karena memang lapar) ditambah lagi makanan kali ini dengan
lauk daging yang pastinya bukan nasi telur,. Sampai saya lupa kalau air minumku
ternyata sudah habis, karena itu setelah makan tidak langsung minum. Pada saat
saya keluar untuk mengambil air di sumur, ternyata sudah banyak orang yang
duduk di bangku depan kosku, dengan kepala menunduk sebagai simbul kesopanan
untuk minta izin saya berjalan dan langsung mengisi air di wajan, dan masuk
kembali ke kamar kosanku.
Kompor dinyalakan, dan hendak menyeduh bubuk
kopi hitam yang dikirimkan oleh ibuku. Sambil menunggu air rebusan matang, kupingku
seakan tak mau diam, mengembara hingga mendengarkan obrolan bapak-bapak di luar.
Mungkin karena belum jam 2 pagi, obrolan bapak-bapak kali ini membuat saya
tertarik. Obrolan yang tak pernah saya temukan di kampungku. Hal itu membuat
otaku berpikir, ‘akankah suatu saat obrolan berkualitas seperti ini ada di
kampungku?’.
Jogja memang dikenal dengan kota pelajar, maka
tak heran mendapati masyarakatnya yang terpelajar juga. Apakah kampungku suatu
saat akan saya dapati masyarakat seperti ini, atau harapannya lebih baik? Akankah
obrolan polemik dua masjid di kampungku suatu saat bisa berubah membahas
tentang keutuhan negara atau membahas tentang galaksi Andromeda misalnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat saya teringat
dengan teori evolusi Darwin. Bukan ukuran otak manusia yang terus berkembang, tapi
kualitas otak manusialah yang terus berkembang. Darwin dalam karyanya On The
Origin of Species memaparkan bahwa kemampuan intelektual manusia berkembang
melalui proses seleksi alam. Individu dengan kemampuan kognitif lebih baik
lebih mungkin untuk bertahan hidup dan bereproduksi, sehingga menyebarkan gen
yang mendukung kemampuan intelektual yang lebih tinggi.
Di zaman sekarang pendekatannya mungkin bukan siapa
yang akan punah dan siapa yang mampu untuk bertahan hidup seperti manusia
purba. Pendekatan dari teori tersebut dapat dilihat sebagai cara manusia mempertahankan
ke’pintaran’ dan memunahkan ke’bodohan’.
Sekarang masyarakat Indonesia masih percaya
akan kebenaran dukun santet, namun orang orang teredukasi akan memunahkan
kepercayaan tersebut dengan membuktikan ketidakbenarannya. Dengan punahnya kepercayaan
terhadap dukun santet, hal itu akan menjadikan otak manusia lebih berkembang.
Namun, tidak menutup kemungkinan juga suatu
saat akan timbul lagi kebodohan-kebodohan
(dengan argumen sedikit pintar) selanjutnya di masa depan. Sehingga dialektika
untuk memunahkan kebodohan akan terus berlanjut.
Berbicara tentang dialektika, saya menjadi
teringat dialektikanya Hegel (yaitu seorang filsuf berkebangsaan Jerman). G. W.
F. Hegel menggagas apa yang dinamakannya sebagai sebuah proses dari Tesis,
Antitesis, dan Sintesis; Tesis adalah pernyataan awal, Antitesis adalah pertentangan
dari pernyataan awal, dan Sintesis adalah gabungan dua elemen tahap sebelumnya,
sehingga menciptakan keadaan yang lebih baik. Di mana Sintesis ini nantinya
menjadi Tesis lagi, dan begitu seterusnya.
Proses dialektika ini (Tesis, Antitesis, dan
Sintesis) sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Contoh kecil dari
kehidupanku sebagai seorang mahasiswa yang dikasih jatah bulanan oleh orang tua;
di waktu awal menjadi mahasiswa, saya memiliki Tesis kalau uang yang dikasih oleh
orang tua saya harus saya belanjakan untuk beli banyak buku, sedangkan urusan
makan saya bisa minta lagi walaupun belum waktu yang ditetapkan.
Tahap selanjutnya Antitesis; saya berpendapat
kalau selama ini saya boros dan tidak memikirkan orang tua yang capek-capek
nyari duit, sehingga selanjutnya kehidupanku menjadi lebih hemat dan uang
dipergunakan untuk belanja kebutuhan makan saja. Namun, keadaan tersebut saya
merasa tidak puas karena banyak buku-buku yang seharusnya dibutuhkan demi
keberlangsungan pembelajaran tidak saya beli, ‘takut boros’, anggapku sebelumnya.
Hingga saya mencapai tahap Sintesis, di mana saya mulai untuk menabung dan
ketika uangnya cukup saya belanjakan untuk beli buku tanpa harus mengorbankan
uang makanku.
Teori Darwin dan konsep Dialektika Hegel masih
tetap relevan, dan akan tetap bersentuhan pada setiap proses kehidupan manusia.
“Homo homini lupus” manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Yang
akan tetap bertahan adalah yang memegang kebenaran. Dialektika akan
menghasilkan pemikiran yang lebih hebat lagi dan hebat lagi, sehingga manusia
akan menjadi lebih pintar lagi dan pintar lagi. Akankah kepintaran manusia akan
mencapai kepintaran Tuhan? Dan akankah itu membuat manusia di masa itu tidak
membutuhkan Tuhan lagi?
Salam,
Syukron Hidayat



Komentar
Posting Komentar