Degradasi Moral dan Otak Manusia di Sosial Media
Pagi yang cerah di hari minggu, setelah malam tadi
diguyur hujan yang deras, sampai sekitaran jam empat subuh, menjadikan kadar
H2O pada udara meningkat yang memberikan kesan sejuk dan terasa lebih segar.
Langkah kaki membawa diri pada sebuah warung yang biasa disebut orang sebagai
warmindo, atau lebih sering juga disebut burjo. Burjo? Apakah ia menjual bubur
kacang ijo? Entahlah, setahuku ia hanya menjual makanan rumahan –maksudku ia
tak menjual makanan rumahan ‘para dewan’. Sang penjual menawarkan berbagai
macam lauk, “lauk apa?” ucapnya. Menu faforitku di sini adalah nasi telur
dengan sedikit tempe, sayur, sambal, dan ditemani dengan secangkir kopi hangat.
Perhatianku teralihkan pada sebuah Televisi yang
menayangkan sebuah saluran berita yang memberitakan tentang kekerasan seksual
yang terjadi pada anak dan remaja perempuan, di salah satu kota terkenal di
Indonesia. Aku berusaha tak mengubrisnya karena ingin menikmati pagi indahku. Sedikit
menunggu, makanan pesananku-pun datang yang dibawakan oleh sang penjual, dan
dengan sedikit senyum sinisnya berkata padaku “miris ya mas, ngeliat anak-anak
jaman sekarang”. Mendengarnya aku mengangguk, namun berusaha untuk tak
memikirkan perkataannya, karena aku hanya ingin menikmati makananku.
Di tengah jalan menuju kosanku, hati terasa resah oleh
perkataan sang penjual di warung tadi, kata-kata ‘miris’ dan ‘jaman sekarang’
membebani benaku. Lebih-lebih belakangan ini saya melihat vidio di sosial media
yang memerlihatkan anak SMA (MIPA) di Indonesia yang tidak bisa
perkalian/pembagian sederhana. ‘miris’ memang –maksudku sebodoh-bodohnya saya
di masa SMA, perkalian sederhana saja masih saya kuasai, walaupun berada di
peringkat 26 dari 30 siswa, saya masih bisa pembagian sederhana. Apakah
degradasi moral dan otak ini terjadi akibat ‘jaman sekarang’?
Setelah lulus SMA saya melanjutkan untuk berkuliah di
suatu universitas dan salah satu mata kuliah yang saya ambil bernama Human
Resorce Management. Di mata kuliah ini saya bertemu salah satu materi yang
membahas tentang teori kebuhtuhan manusia, termasuk teori kebutuhannya Abraham
Maslow, seorang psikolog termasyhur di zamannya, dan dikenal sebagai pendiri
aliran humanistik.
Berbeda dengan saya, Maslow sedari kecil sudah bergulat
dengan buku yang menjadikannya selalu mendapatkan peringkat teratas di kelas.
Dengan kecerdasannya itu timbulah rasa penasaran Maslow terhadap keperibadian
manusia, dan melahirkan teori yang saya pelajari tadi yaitu teori ‘Hierarki
Kebutuhan Dasar’ yang biasanya dijabarkan dengan bentuk piramida. Supaya lebih
memahami penjelasan lengkapnya bisa diakses di google.
Simpelnya, Maslow membagi kebutuhan manusia berdasarkan
hierarki; mulai dari kebutuhan fisiologisnya, yaitu kebutuhan sandang, pangan,
papan. Kebutuhan akan rasa aman, yaitu kebutuhan terbebas dari rasa takut,
cemas, kekacauan dan lain sebagainya. Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa
memiliki, yaitu kebutuhan yang melibatkan pemberian dan penerimaan kasih
sayang. Dan yang terakhir dan yang paling tinggi dari kebutuhan manusia adalah Self
Actualization atau Aktualisasi diri; di mana ketika manusia sudah berada
ditingkatan ini, Maslow menyebutnya sebagai Manusia Unggulan.
Bisa dikatakan sebagai Manusia Unggulan ketika manusia
sudah memenuhi kebutuhan dasar mereka, dari kebutuhan fisiologisnya hingga
kebutuhan rasa cinta dan rasa memiliki. Seseorang yang sudah berada pada
tingkat aktualisasi, maka ia akan berbuat baik seperti empati, kasih sayang,
keikhlasan dalam membantu, tanggung jawab, dan lai-lain. Manusia Unggulan akan
selalu merasakan rasa cukup walaupun ia berada dalam keadaan kekurangan.
Ketidakterpenuhan kebutuhan dasar pada diri manusia
inilah yang membuat terjadinya degradasi moral. Contohnya pada berita kekerasan
seksual pada anak dan remaja perempuan pagi tadi, hal itu disebabkan oleh
adanya kebutuhan dasar yang tak terpenuhi pada diri si-pelaku.
Kekurangan akan rasa cinta dan rasa memiliki pada diri
si-pelaku mendorong dirinya untuk melakukan kekerasan. Pelaku mungkin merasakan
dirinya terabaikan dan terisolasi secara emosional, menciptakan
kebutuhan akan dominasi dan kontrol atas orang lain. Alih-alih memenuhi
kebutuhan cinta dan rasa memiliki dalam bentuk hubungan yang sehat, pelaku
akan mengambil jalan amoral dalam
memenuhinya.
Begitu
juga dengan fenomena degradasi otak atau degradasi kognitif yang terpengaruh
juga akibat kebutuhan dasar yang tak terpenuhi. Kesulitan ekonomi pada sebuah
keluarga mengakibatkan tidak terpenuhinya kebutuhan fisiologis yang baik pada
anak. Seperti nutrisi yang membantu pertumbuhan otak anak, ketika ini tak
terpenuhi dapat menurunkan kualitas kognitif pada anak, termasuk daya ingat dan
kemampuan berpikir logis.
Namun,
jawaban itu saya rasa tidak cukup, karena bukankah kebutuhan dasar manusia di
Indonesia mengalami pertumbuhan, berbeda dengan masa lalu yang mengalami
kesusahan, bukankah sekarang pemenuhan kebutuhan dasar ini lebih mudah. Lalu
mengapa otak manusia mengalami degradasi?
Setelah ditilik kembali, ternyata kebutuhan dasar manusia
yang tak terpenuhi bukanlah pada kebutuhan fisiologisnya, namun terletak pada
kebutuhan rasa cinta dan kebutuhan harga diri. Teknologi yang semakin
berkembang mengakibatkan manusia tak lagi berfokus pada satu hal saja, terlalu
banyak yang mereka inginkan menjadikan diri mereka kesulitan dalam menentukan
apa yang mereka butuhkan, dan mengakibatkan tidak adanya rasa cinta.
Contohnya anak SMA (MIPA) tadi yang tak bisa perkalian/pembagian
dasar, hal itu disebabkan karena kurangnya rasa cinta mereka terhadap pelajaran
di sekolah. Mereka juga tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari guru ataupun
orang tua yang membuta anak tidak memiliki motivasi untuk belajar.
Social media juga berpengaruh terhadap penurunan kualitas
kognitif pada manusia, kurangnya penghargaan dari orang lain sering terjadi.
Terlebih lagi fenomena cyber bullying kerap terjadi di negara kita ini, yang
dijuluki netizen terbar-bar di dunia. Mengetahui dirinya akan di Bully atau
tidak adanya penghargaan membuat dirinya takut dan rendah diri ketika akan
melakukan inovasi. Hal inilah yang membuat manusia tidak mau berkembang, dan
belajar.
Seiring berkembangnya zaman, semakin berkembang pula
tantangan terhadap manusia untuk mengambangkan dirinya. Sebagian orang mungkin
akan memilih untuk beradaptasi dan memenuhi kebutuhan dasar yang harus dia
penuhi, demi menjadi Manusia Unggul. Namun, sebagian lainnya mungkin akan
memilih untuk bersikap pasif, tidak mau melakukan inovasi, dan pada akhirnya
memilih untuk rebahan dan scroll tik-tok.
Salam,
Syukron Hidayat



Sangat menginspirasi
BalasHapus