Kapten Bajak Laut Modern dan Sisyphus Bahagia

 


Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas Samudra
Menerjang ombak, tiada takut
Menempuh badai, sudah biasa

Karya: Ibu Soed

 

Lanjutan lagunya bisa ditonton di YouTube (https://youtu.be/W-0Yq8pLHgU?si=IwcZucqzNBbXXmHr). Salah satu lagu kegemaran saya di waktu TK, sambil naik di atas kursi dan teriak-teriak, adu kencang-kencangan suara sama teman yang sok-sokan suaranya paling kencang, padahal mereka tahu kalau suara saya yang paling kencang. Bukannya sombong –saya bisa memastikan suara saya yang paling kencang karena memang saya-lah yang memiliki semangat paling tinggi. Bercita-cita ingin menjadi kapten bajak laut, terinspirasi dari Luffy, yang memiliki kekuatan tubuh memanjang, siapa yang tidak tergiur–kan.

Namun, naasnya semakin bertambahnya usia, cita-cita itu kandas pas kelas 3 SD, setelah mengetahui bahwa  karakter Luffy hanyalah karakter anime, yang tidak akan pernah terwujudkan ke dunia nyata. Cita-citaku yang lain juga, seperti menjadi Naruto, Goku, Tsubasa, Power Rangers, Ultraman, dan Boboiboy hanyalah sebuah bualan. Sangat sulit untuk menerimanya, sangat sulit merelakan sebuah harapan yang tidak mungkin dimiliki. Oleh karena itu, dengan hati yang pasrah cita-cita itu mau tidak mau harus dikubur dalam-dalam. Sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak memiliki cita-cita, hal yang aneh untuk anak seumuran kelas 3 SD –memang. Dewasa ini, diri hanya disibukan dengan pertanyaan-pertanyaan terkait eksitensi diri, tidak tahu juga gunanya apa, namun saya rasa pertanyaan itu penting.

Kehilangan eksistensi diri di masa remaja menuju dewasa adalah suatu hal yang biasa. Di masa inilah mereka mulai menyadari kehidupan ini tidak layak untuk dijalani, tidak seperti kehidupan yang mereka bayangkan di masa kecil. Seperti bayi yang menangis kencang saat baru pertama melihat dunia. Mereka tidak pernah secara sadar memilih untuk hidup, namun di sisi lain mereka dipaksa untuk terus bertahan dengan kehidupan yang padahal mereka tidak inginkan. Pikiran untuk mengakhiri hidup tidak jarang terlintas di benak mereka, apalagi di era globalisasi yang gampang memengaruhi. Sebagian dari mereka menuruti perintah pikiran, sebagian lainnya masih diperkuat oleh adanya agama, lingkungan, dan lain sebagainya.


Ditambah lagi oleh kompleksitasnya kehidupan manusia, menjadikan tidak adanya rumus pasti dalam menjalani kehidupan. Variabel yang digunakan tidak seperti pelajaran aljabar yang menggunakan seluruh huruf alfabet kecuali e, i, dan o, tapi membahas kehidupan manusia menggunakan variabel yang bahkan melampaui huruf yang ada dalam alfabet. Setiap orang memiliki keyakinan yang berbeda, kalaupun sama tapi tidak dengan budaya mereka, begitu juga sebaliknya. Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda, kalaupun sama tapi tidak dengan kondisi mereka, begitu juga sebaliknya. Setiap orang memiliki nilai yang dipegang yang berbeda, kalaupun sama tapi tidak dengan tujuan hidup mereka, begitu juga sebaliknya. Pada akhirnya mereka akan dihantui oleh pertanyaan siapa saya? mengapa saya hidup? dan apa makna hidup?

 

“One must imagine Sisyphus happy”  Kita harus membayangkan Sisyphus bahagia; Albert Camus dalam esainya “The Myth of Sisyphus” menggambarkan bagaimana manusia hidup. Sisyphus adalah seorang raja dalam mitologi Yunani yang dihukum oleh Dewa untuk mendorong batu ke atas bukit, kemudian setelah batu itu sampai di atas bukit, batu itu akan menggelinding lagi ke bawah, dan ia (Sisyphus) harus mendorongnya lagi ke atas, lalu batu itu menggelinding lagi, dan Sisyphus harus mendorongnya lagi ke atas bukit itu, dan batunya menggelinding lagi, dan terus-menerus berulang –sampai entah kapan. 

Terdengar bodoh oleh kelakuan seorang raja tersebut yang mendorong batu padahal ia sudah tahu batu itu akan menggelinding lagi ke bawah, dan harus mendorongnya lagi. Terus mengulangi hal yang sama tanpa henti berulang kali. Siklus yang sama terjadi pada diri manusia, terlebih lagi di zaman modern ini. Seperti yang sudah ditulis di paragraf ke-4 bahwa; manusia tidak pernah memilih untuk hidup, namun ia dipaksa untuk terus hidup. Seperti Sisypush yang pada akhirnya harus bangun pagi, pergi bekerja, pulang macet-macetan, sampai rumah ketemu anak istri, kemudian tertidur lagi dan bangun pagi lagi, dan ia akan mengulangi siklus yang sama lagi, dan terus-menerus berulang –sampai entah kapan.

Namun Albert Camus menyuruh kita untuk membayangkan Sisyphus bahagia. Hidup itu absurd, ia tidak memiliki makna, dan apapun yang seseorang lakukan tidak akan berpengaruh signifikan terhadap apapun; bumi akan terus berputar, matahari dan bulan tetap akan bersinar di waktu mereka sendiri, antar planet dan galaksi akan tetap menjauh, dan kehidupan kita tak memiliki daya untuk merubah hal itu. Karena memang hidup adalah ketidakbermaknaan itu sendiri. Namun kita harus membayangkan bahwa Sisyphus bahagia. Mengeluh terhadap kehidupan seperti itu bukan berarti akan memberikan makna pada hidup, mengeluh atau tidak mengeluh, hidup akan tetap absurd. Oleh karena itu, Sisyphus harus bahagia, karena satu-satunya yang ia punya hanyalah batu itu. Oleh karena itu, Manusia harus bahagia, karena satu-satunya yang ia punya adalah kehidupan itu sendiri.

Sekeras apapun kita hidup, sesantai apapun cara kita hidup, akhirnya akan sama –akan mati. Mengetahui kehidupan yang absurd bukan berarti harus mengakhiri hidup itu sendiri. Sisyphus yang bahagia tidak pernah berhenti untuk mendorong batunya ke atas bukit, walaupun ia tahu; tak ada gunanya ia mendorong batu itu. Selarasnya manusia yang bahagia memutuskan untuk terus bertahan hidup, walaupun ia tahu; tak ada gunanya ia terus bertahan hidup.

Pada akhirnya hidup menjadi karyawan (nine to fife) seperti Spongebob yang bekerja di Krusty Krab yang berada di bawah sistem, atau hidup “bebas” seperti Patrick di luar sistem; keduanya akan sama saja. Tidak ada yang lebih menarik diantara satu sama lain dan tidak ada yang lebih buruk diantara satu sama lain. Jalanilah kehidupan sebagaiman yang harus dijalani.

 

Salam

Syukron Hidayat.


Komentar

Postingan Populer