Misteri Alam dan Keserakahan Manusia


Manusia tenggelam ke dalam akal mereka, melepaskan nilai-nilai tradisional kemanusiaan yang sudah dianggap tidak penting lagi. Mulai merasakan kekosongan, ketidak bahagiaan, jenuh atas kehidupan yang dijalani sudah tak berarti lagi. Lalu mengambil kesimpulan; bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan kebahagiaan adalah pemuasan diri sendiri, dan menghilangkan penderitaan sebisa mungkin.

Mereka (manusia) merasa dirinya adalah ‘alpha’ di alam semesta ini. Berfikir bahwa tidak ada yang lebih besar dari diri mereka sendiri, tidak ada kebahagiaan yang lebih agung daripada kebahagiaan pada diri mereka sendiri, lalu menganggap apa yang membuat diri mereka sendiri bahagia adalah suatu hal yang baik, dan harus dilakukan. Jikalau tidak dilakukan maka akan disebut sebagai kemunduran.

Mereka (manusia) sekan kembali ke zaman purba. 70.000 tahun silam, zaman di mana manusia baru mengalami revolusi kognitif. Melakukan apa saja yang membuatnya senang, dan tidak lagi melakukannya jikalau tidak membuatnya senang. Hanya sedikit perbedaan diantaranya; kesenangan berupa kebutuhan, dengan kesenangan hanya berupa pemuasan.

Mereka (manusia) sudah tidak lagi menganggap kebaikan yang dilakukan adalah untuk kebaikan bersama. Mereka melakukan kebaikan hanya karena tidak ingin dirugikan, dan menginginkan timbal balik kebaikan pada diri mereka sendiri. Kalaupun kebaikan untuk diri mereka sendiri hanya dengan cara menghancurkan, maka mereka akan tetap melakukannya, demi untuk menguntungkan diri mereka sendiri.

Mereka (manusia) terus menerus mencari kebahagiaan, diatas penderitaan lainnya. Ego mereka sendiri menjadi dewa bagi dirinya sendiri, membuat mereka terus menerus mencari kebahagiaan sejati yang entah di mana adanya, sehingga tidak ada lagi kerinduan spiritual dalam diri mereka sendiri.

Kemajuan teknologi menjadikan kehidupan manusia semakin dekat dengan tujuan kehidupan yang sempurna. Setiap inovasi yang dilakukannya menghantarkan pada kebahagiaan, dan menghilangkan penderitaan pada dirinya. Setiap nilai-nilai yang ada, hanya dijadikan oleh mereka sendiri sebagai sebuah alat untuk menuju impian kehidupan sempurna.

Berlindung dibalik istilah ‘kemajuan’, dan terus menerus menyuapi keserakahan diri mereka sendiri yang tak akan pernah kenyang. Dengan sadar melontarkan ucapan ‘demi kemudahan dan keadilan’ padahal dibalik itu semua, mereka sendirilah dalang di balik perperangan dan kehancuran. Kata kemudahan hanya dongeng belaka, karena kehidupan manusia tidak bisa dikatakan jauh lebih baik dari kemarin.

Setidaknya, kemajuan membuat mereka merasakan kebahagiaan. Sebuah pencapaian yang diperoleh mendapatkan persembahan. Setiap suapan informasi bisa mereka dapatkan hanya dengan rebahan. Walaupun di lain sisi mereka tidak peduli dengan lainnya yang mengalami kesengsaraan.

Tidak berarti mencegah ataupun membenci kemajuan. Hanya saja mengajak sedikit memperhatikan, bahwa kita hidup berdampingan. Lagipula fokus daripada tulisan ini bukanlah pada kritik terhadap kemajuan dilakukan manusia yang menimbulkan kerusakan. Tulisan ini akan melihat dari sudut pandang sedikit lebih lebar daripada tulisan sebelumnya yang membahas tentang alam dan kesimbangan.

Uraian tulisan di atas adalah sedikit gambaran tentang bagaimana itu paham Antroposentrisme. Dari Wikipedia; Antroposentrisme adalah konsep utama di bidang etika lingkungan dan filsafat lingkungan, karena sering dianggap sebagai akar masalah yang tercipta akibat interaksi manusia dengan lingkungan. Meski begitu, antroposentrisme tertanam kuat dalam berbagai budaya manusia modern dan tindakan-tindakan sadarnya. Istilah ini dapat ditukar dengan humanosentrisme dan supermasi manusia.

Karena saya tidak akan membahas filsafat, dan tidak menafsirkannya secara filsafat dari definisi tersebut, simpelnya adalah; Antroposentrisme adalah pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari segala sesuatu. Jadi, manusia dianggap sebagai entitas yang paling penting dari lainnya, termasuk hewan, tumbuhan, dan lingkungan, dinilai berdasarkan manfaat atau dampaknya bagi kehidupan manusia.

Pandangan ini juga terbagi menjadi dua; Pertama, melihat manusia sebagai sosok yang kejam, pengeksploitasi, dan perusak alam. Manusia dianggap hanya mementingkan kepentingannya sendiri tanpa memikirkan dampak negatifnya terhadap lingkungan dan makhluk hidup lainnya. Manusia mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, menyebabkan kerusakan ekosistem, dan mengancam keberlanjutan alam.

Kedua melihat manusia sebagai entitas yang mengambil manfaat dari alam, namun tetap berupaya melindungi dan menjaga keseimbangan lingkungan. Manusia diakui memiliki kebutuhan dan keinginan yang harus dipenuhi dari alam, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan merawat lingkungan agar tetap lestari. Manusia dianggap sebagai pengelola alam yang bijaksana, yang berusaha memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem.

Dari kedua pembagian tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia dipandang sebagai entitas sentral di dunia ini. Alam seringkali dianggap sebagai fasilitas yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia.

Respon dari Antroposentrisme yang dirasa sudah meresahkan alam bahkan manusia sendiri menjadi terganggu akibat ke-egoisannya sendiri.  Maka timbulah paham yang menempatkan semua bentuk kehidupan (tanpa membedakan manusia, hewan, dan tumbuhan) sebagai entitas yang sama-sama dijadikan pusat dari nilai moral dan etika. Disebut sebagai Biosentrisme.

Simpelnya; setiap makhluk hidup, termasuk hewan, tumbuhan, dan organisme lainnya, dianggap memiliki nilai intrinsik dan hak untuk hidup, terlepas dari manfaat atau hubungan mereka dengan manusia. Pandangan ini mengajarkan bahwa semua kehidupan di bumi memiliki hak yang sama untuk eksis dan berkembang. Sehingga manusia tidak lagi menganggap alam sebagai fasilitas untuk dirinya sendiri, menjadikan manusia bisa menghargai alam.

Seiring berkembangnya keresahan manusia dan dirasa biosentrisme kurang. Maka timbulah istilah baru yang diciptakan lagi, yang disebut sebagai Ekosentrisme; yang tidak hanya mahluk hidup sebagai pusat dari alam semesta, melainkan ada juga seperti benda-benda mati yang juga memberikan kontribusi dalam ekosistem alam. Paham ini mendorong perlindungan dan pemeliharaan seluruh jaringan kehidupan, termasuk interaksi antara berbagai spesies dan lingkungan tempat mereka hidup, untuk memastikan kelangsungan hidup ekosistem itu sendiri.

Dari dua paham (biosentrisme dan ekosentrisme) menjadikan alam tidak lagi menjadikan manusia sebagai entitas pusat. Karena setiap entitas ataupun spesies di alam memiliki kontribusi yang sama penting dalam menjaga keseimbangan, untuk itu semuanya haruslah dipelihara dan dijaga.

Namun, kesimpulan tersebut belumlah bisa dikatakan sempurna. Dikarenakan masih ada kebingungan dan pertanyaan dari pernyataan tersebut. Jika semua entitas dan spesies setara dan sama-sama harus dijaga, maka spesies/entitas yang mana yang harus dijaga/dipertahankan? Karena di alam semesta ini ada juga beberapa organisme yang bertentangan dengan organisme lainnya.

Di bidang ilmu Biologi, yang membahas tentang evolusi organisme; diketahui bahwa sekitar 3,5 hingga 4 miliar tahun yang lalu, selama masa awal perkembangan kehidupan di bumi. Pada saat itu, atmosfer bumi sangat berbeda dari sekarang dan hampir tidak mengandung oksigen. Organisme yang tidak menggunakan oksigen untuk respirasi dan bahkan akan mati jika terpapar oksigen disebut anaerob.

Nah, jika kita tetap mengamalkan bahwa semua spesies atau entitas di alam ini harus disamakan/disetarakan, maka akan terjadi pertentangan di sana. Di satu sisi ada beberapa organisme seperti manusia, hewan, tumbuhan, dll. yang bernafas menggunakan oksigen. Namun di sisi lain ada juga organisme yang tidak bisa atau bahkan akan mati jika terpapar dengan oksigen.

Masih ada miss di sini. Namun, jika untuk memilih kembali bahwa manusia menjadi sentral dari alam, maka itu bukanlah solusi yang baik. Mungkin memang harus ada yang dikorbankan, karena nyawa tidaklah setara. Apakah begitu? Saya tidak tahu.

Salam,

Syukron Hidayat

 

Reference;

Yt; Martin suryajaya

 Ardhianzy

Komentar

Postingan Populer