Kebebasan adalah Kutukan: The Dark Side Of Freedom (sisi gelap di balik kebebasan)
Jean
Paul Sartre: ”Aku dikutuk bebas, ini berarti bahwa tidak ada batasan atas
kebebasanku, kecuali kebebasan itu sendiri, atau jika mau, kita tidak bebas
untuk berhenti bebas”[1]
"Manusia dikutuk untuk bebas.
dikutuk karena dia tidak menciptakan dirinya sendiri. sebab, begitu dilemparkan
ke dunia, dia bertanggung jawab atas segala yang dilakukannya."
Yuval
Noah Harari: "Kebebasan bukanlah bertindak sesuka hati, tetapi
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi hidup kita."[2]
Tulisan di atas adalah tulisan yang
telah lama terpendam di note hp-ku. Dibuka kembali setelah mendengarkan khutbah
jumat siang hari tadi yang bertemakan kebebasan juga. Untuk itu kepikiran buat
ngembangin tulisan ini menjadi lebih banyak. Supaya kelihatan pintar saja,
gapapa.
Kebebasan adalah salah satu konsep yang
paling dihargai, dan di junjung tinggi dalam kehidupan manusia, tetapi kita
sering sekali tidak memahami atau bahkan salah memahami dengan arti dari
kebebasan itu sendiri. terutama di Indonesia dengan masyarakat yang masih
kurang literasi, maka kita tidak jarang melihat di sekitar kita orang sakit
hati atau bahkan depresi akibat ucapan orang lain yang tak terkendali, dengan
dalih bahwa mereka bebas menyatakan pendapat.
Jean-Paul Sartre; yaitu salah satu
filosof eksistensialis, berpendapat bahwa; kebebasan tidak hanya tentang
kemampuan untuk melakukan apa yang kita inginkan, tetapi juga tentang tanggung
jawab yang tak terelakkan yang menyertainya. Sartre mengatakan bahwa
"manusia dikutuk untuk bebas," sebuah pernyataan yang mencerminkan
pandangannya bahwa kebebasan bukanlah anugerah, melainkan sebuah beban.
Manusia tidak memilih untuk dilahirkan,
tetapi begitu mereka ada di dunia ini, mereka harus memilih dan bertanggung
jawab atas semua tindakan mereka. Kebebasan ini adalah sumber dari kecemasan manusia,
karena dalam setiap pilihan, akan datang kemungkinan kesalahan, kegagalan,
penyesalan, dan rasa bersalah.
Sederhananya; kebebasan adalah ketika
manusia bisa memilih segala apa yang ingin diperbuatnya, tanpa ada larangan
dari pihak lain. Namun dari kebebasan yang dilakukan tersebut, manusia di
tuntut untuk mempertanggung jawabkan pilihan mereka sendiri, entah dari segi
hukum ataupun moral dan prinsip pribadi.
Kebebasan diri adalah sesuatu yang secara
tidak langsung mengandung hal yang bertentangan. Di satu sisi, kita merayakan
kemampuan untuk membuat keputusan sendiri, untuk menentukan jalan hidup kita
tanpa tekanan eksternal. Namun, di sisi lain, kebebasan itu sendiri dapat
menjadi sumber ketakutan dan kebingungan.
Misalnya, ketika kita dihadapkan pada
pilihan-pilihan besar dalam hidup seperti memilih kuliah di UGM atau UIN. Besok
sarapan nasi telur atau makan mie. Atau pilihan-pilihan lainya-- kita sering
kali merasa terbebani oleh tanggung jawab dari kebebasan yang kita miliki. Kita
takut kalok keputusan yang kita ambil itu ternyata salah, takut menyesal di
kemudian hari, atau bahkan takut pada apa yang orang lain akan pikirkan dengan keputusan
yang kita ambil. Inilah salah satu sisi gelap dari kebebasan: meskipun kita
bebas untuk memilih, kita juga terjebak dalam rasa takut dan keraguan yang
sering kali menghalangi kita untuk benar-benar menikmati kebebasan tersebut.
Selain itu, kebebasan kita akan
dibatasi oleh kebebasan orang lain. Yuval Noah Harari juga memberikan pandangannya
bahwa kebebasan sejati bukanlah bertindak sesuka hati, tetapi berpartisipasi
dalam pengambilan keputusan yang memengaruhi hidup kita. Dalam masyarakat sosial,
tentu tindakan kita akan memiliki dampak pada orang lain, dan karena itu,
kebebasan kita tidak pernah mutlak.
Misalnya, kebebasan berbicara adalah
hak semua orang, tetapi hak ini memiliki batasan ketika digunakan untuk
merugikan orang lain, seperti fitnah atau ujaran kebencian. Kebebasan individu
harus selalu dikaitkan dengan tanggung jawab sosial; kita masih hidup di dunia,
dan keputusan kita dapat memiliki konsekuensi yang luas. Ini menciptakan
situasi di mana kebebasan kita akan bertemu dengan kebebasan orang lain, dan
dalam banyak kasus, kebebasan kita harus dibatasi untuk menjaga keharmonian
sosial.
Kebebasan sosial ini juga mencerminkan kenyataan
kehidupan bahwa dalam banyak hal, kita harus menyerahkan sebagian dari
kebebasan kita demi kepentingan bersama. Sebagai contoh; “Farhan adalah seorang
mahasiswa yang sedang suka dan jatuh cinta pada Nanda, teman baiknya sejak SMA.
Namun, usaha Farhan selalu kandas, karena di setiap kali Farhan akan menyatakan
isi hatinya, Nanda ternyata sedang bersama pria lain yang di mana pria tersebut
dikenal Nanda tidak lebih lama daripada dirinya.
Dengan rasa cemburu, Farhan selalu
menjadi teman baik buat Nanda. Selalu ada ketika Nanda pengen curhat tengah malem,
tentang masalahnya dengan cowoknya. Bahkan ketika pacar Nanda ulang tahun,
Farhan ikut membantu Nanda mempersiapkan kejutan pada pacarnya.
Setelah sekian lama menunggu, Nanda akhirnya
berpisah dengan pacarnya, dan ini adalah kesempatan baik buat Farhan menyatakan
cinta yang selama ini ia pendamkan dalam hatinya. Namun, Ketika Farhan akan
melakukannya, Farhan merasa tidak layak untuk menjadi pacar Nanda, dan takutnya
Ketika Farhan menyatakan isi hatinya, Nanda tidak memiliki perasaan yang sama
dan hubungan mereka berdua akan menjadi renggang. Akhirnya Farhan memutuskan
untuk tidak mengungkapkannya sampai dengan waktu yang tidak ditentukan.”
Karakter Farhan bisa dikatakan bodoh karena
tidak mengingat kata-kata orang tuanya; “Penyesalan adalah ketika kamu tidak
melakukannya, padahal kamu memiliki kesempatannya.” Tapi menurut Farhan; ini
adalah bentuk kebebasan yang penuh dengan kompromi, di mana kita harus
menghormati kebebasan orang lain dan menerima bahwa kita tidak selalu bisa
mendapatkan apa yang kita inginkan. Dengan demikian, kebebasan yang dihadapi
oleh setiap individu dalam masyarakat akan menciptakan batasan-batasan yang
mengikat kebebasan kita.
Selanjutnya, sekali-kali izinkan saya
membahas agama dengan sebatas pengetahuan yang saya miliki. Dalam pandangan
Islam (agamaku), kebebasan adalah sesuatu yang diberikan oleh Allah kepada
manusia, tetapi kebebasan ini datang dengan tanggung jawab yang besar. Islam
mengajarkan bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya,
tetapi pilihan tersebut harus selalu berada dalam batas-batas yang telah
ditetapkan oleh syariat. Kebebasan ini bukanlah untuk bertindak sesuka hati,
melainkan untuk menjalani kehidupan yang sejalan dengan ajaran-ajaran agama,
yang bertujuan untuk mencapai kebaikan di dunia maupun di akhirat.
Kebebasan dalam Islam adalah kebebasan
yang terarah. Islam memberikan pedoman yang jelas tentang apa yang dianggap
sebagai perilaku yang benar dan salah, dan setiap orang harus patuh dengan
pedoman ini. Misalnya, Islam memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk
memilih kampus untuk kuliah atau memilih sarapan pakek apa. Tetapi kebebasan
ini harus selaras dengan prinsip-prinsip moral dan etika Islam. Oleh karena
itu, kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan untuk melakukan apa saja yang
kita inginkan, melainkan kebebasan atas dasar panduan yang diberikan oleh
Allah.
Islam juga menekankan bahwa kebebasan
harus selalu diiringi dengan tanggung jawab terhadap Tuhan dan sesama manusia.
Dalam Islam, kebebasan bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai kesejahteraan
dan Ridha Allah. Kebebasan yang disalahgunakan untuk melanggar hak orang lain
dan jelas melanggar perintah Allah adalah kebebasan menyesatkan.
Oleh karena itu, Islam menghalangi
kebebasan manusia dalam tindakan yang dapat merusak diri sendiri atau orang
lain. Kebebasan yang ditawarkan oleh Islam adalah kebebasan yang penuh makna,
yang mengarahkan individu untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, lebih
beretika, dan lebih bertanggung jawab.
Secara keseluruhan, baik dari perspektif
eksistensial Sartre, sosial Yuval N.H., maupun spiritual Islam, kebebasan bukan
hanya tentang memiliki hak untuk memilih, tetapi juga tentang menghadapi
konsekuensi dari pilihan-pilihan tersebut. Kebebasan tanpa batas justru menjadi
penghalang bagi kebebasan itu sendiri, menciptakan kecemasan, konflik, dan
ketidakseimbangan.
Ternyata kebebasan itu tidak selalu
nikmat, karena sejatinya tidak ada yang dinamakan kebebasan absolut. Tidak menutup
kemungkinan tulisan ini untuk mengingat yang disebut “Raja jawa”, supaya masyarakat
tidak buta dengan permainan kekuasaan yang seolah ia memiliki kebebasan
absolut. Atau setidaknya tulisan ini bisa menjadi latihan integritas pribadi.
Salam,
Syukron Hidayat
.jpeg)


asoy
BalasHapus