Dari Hedonisme Hingga IKN: Inikah Indonesia 79

 

Istilah yang jika saya dengar maka akan memperlihatkan bayangan orang-orang kaya, foya-foya, pesta-pesta, makan-makanan enak, main seks, dan bayangan-bayangan buruk lainnya. Tentu perilaku-perilaku tersebut tidak hanya dilakukan oleh orang-orang kaya, karena orang biasa-biasa saja juga dapat melakukannya, asalkan ia mampu secara mental untuk menghabiskan uangnya demi kebahagiaan jasmaninya. Pada sejatinya kebiasaan individu akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial tempat ia berada, apalagi di kota-kota besar dengan fasilitas lengkap dan pergaulan yang begitu luas, kelihatannya hedonisme diberikan tempat cukup luas di sana.  

Menilik dari sejarahnya kata “hedone” berasal dari kata latin yang berarti kesenangan. Ajaran hedonisme sudah ada sejak 4 abad sebelum masehi oleh filsuf Yunani yaitu Democritus. Baginya kesenangan adalah tujuan pokok bagi kehidupan manusia, namun yang dimaksud kesenangan olehnya adalah kesenangan fisik yang dapat meransang perkembangan intelek manusia itu sendiri.

Sejak saat itu mulailah dikenal istilah hedone, dan seiring perkembangannya waktu istilah tersebut juga mengalami perkembangan makna, seperti Epicurus (341-270 SM) yaitu tokoh Helenisme. Baginya senang adalah kondisi dimana ketika manusia tidak merasakan sakit dalam badan dan tidak adanya kesulitan dalam jiwa. Puncak hedone baginya adalah ketenangan jiwa, karena baginya jiwa dapat mengatasi keterbatasan jasmani manusia.

Dikarenakan saya cukup malas untuk menulis sejarah yang begitu panjang, jadi saya cukup menulis apa saja yang dirasakan saat saya menulis ini.

Dari istilah Hedone yang ditafsirkan oleh Epicurus tadi, nampaknya manusia semakin lama semakin aneh, namun keanehan itu kerap dianggap umum terjadi. Di sekeliling kita, banyak orang yang rela bekerja berangkat pagi pulang malam hanya untuk mendapatkan status tidak menganggur di hadapan sosial. Tentu tidak salah, tapi banyak orang di sekeliling kita menganggap hidup yang baik adalah dengan membeli Hp I phone, motor Vesmet, mobil Civic, rumah 4 lantai, spatu ber-merk, dan lain sebagainya hanya untuk membuktikan kepada orang lain bahwa dirinya yang terbaik.

Konsumerisme modern telah merubah segalanya. Pemenuhan kebutuhan yang terlalu berlebihan membuat dirinya lupa akan kebutuhan ruhaninya sendiri. Sekelompok masyarakat lainnya sekonyong-konyong mengikuti gaya tersebut tanpa memedulikan posisi. Mereka berpendapat bahwa dengan mengikuti barat, maka mereka sudah modern.

Teknologi tidak lagi membuat manusia hidup menjadi lebih mudah. Terjadinya ketakutan, terjebak dalam suatu siklus tanpa akhir untuk terus menerus mengejar pengakuan dari pihak lain. Mengikuti trend terbaru, membeli barang-barang terbaru, dan terus berusaha memperlihatkan pada orang lain bahwa kehidupannya begitu sempurna. Padahal secara tidak sadar mereka telah diperbudaki oleh nafsu yang ada dalam diri mereka sendiri. Bukannya merasa tenang dan senang, malah membuat mereka ketakutan dan terus dikejar-kejar oleh sesuatu yang mereka buat sendiri.

Budaya barat dianggap kiblat untuk bisa dikatakan modern, dan harus dikejar untuk menjadikan hidup bisa dikatakan lebih maju. Sedangkan segala yang berbau tradisional akan dianggap ketinggalan zaman dan tidak relevan walaupun mereka tahu itu adalah milik mereka sendiri.

Kembali pada perkembangan istilah dan ajaran hedonisme tadi. Perkembangan hedonisme modern tidak dapat dilepaskan dari pristiwa Revolusi Industri juga yang terjadi di sana. Hedonisme modern mulai berkembang pesat sejak Revolusi Industri di barat, ketika produksi massal memungkinkan akses yang lebih luas terhadap barang konsumsi. Hal ini mendorong masyarakat untuk mengukur kebahagiaan berdasarkan kepemilikan materi dan kenikmatan fisik. Konsumerisme menjadi bagian penting dari kehidupan, dengan kemajuan teknologi dan pemasaran yang agresif mendorong gaya hidup mewah dan materialisme.

Namun, konsep ini sering kali disalahgunakan oleh masyarakat negara berkembang. Mereka beranggapan bahwa memiliki barang-barang canggih, mengikuti trend barat, memiliki arsitektur bangunan dengan gaya barat, dan mengenakan simbol-simbol barat, baginya adalah ciri kemodernan  yang perlu dibanggakan. Baginya memiliki barang-barang tersebut jauh lebih bermakna daripada mengetahui barang-barang tersebut secara fungsional. Mereka menghilangkan proses dalam mendapatkan apa yang mereka kenakan, yang mereka tahu dengan mengenakan produk/gaya tersebut maka sudah bisa dikatakan modern.

Perkembangan modernisasi di barat dipengaruhi oleh adanya revolusi industri di sana. Dengan begitu dapat dikatakan bahwa perkembangan di barat dimulai dari adanya industrialisasi terlebih dahulu baru dapat menyentuh modern. Sedangkan negara berkembang kenyataannya berbalik; modernisasi dulu baru mengharapkan industrialisasi. Hal itu dapat dilihat juga di Indonesia saat ini!?

Di luar polemik dengan masyarakat lokal di kalimantan, dan lingkungan alam di sana. Ibu Kota Nusantara (IKN) adalah ide yang cukup baik sebenarnya; untuk pemerataan dan menghapus istilah jawa sentris. Tapi tentu saya memiliki kekhawatiran tersendiri di sini. Seperti yang ditulis di paragraf sebelumnya bahwa memiliki kulit yang modern belum berarti bisa dikatakan modern.

Bangunan-bangunan megah, desain arsitektur futuristik, dan fasilitas canggih seolah menjadi lambang bahwa Indonesia sudah berada di puncak modernitas. Namun, apakah ini benar-benar mencerminkan kemajuan yang sejati, atau hanya ilusi belaka?

Lebih dalam lagi, modernitas yang dikejar oleh IKN tampak lebih seperti kulit luar tanpa kenyataan. Dalam konteks pembangunan, seharusnya modernisasi berjalan seiring dengan industrialisasi yang mapan. Di negara-negara maju, perkembangan kota modern didorong oleh basis industri yang kuat, yang tidak hanya menyediakan barang dan jasa, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendorong inovasi.

Namun, di Indonesia, industrialisasi yang seharusnya menjadi landasan modernisasi justru masih lemah. Sebaliknya, kita melihat betapa besarnya Istana Garuda yang dibangun dengan begitu megah di tengah-tengah masyarakat yang belum merasakan dampak nyata dari kemajuan tersebut. Ini menciptakan jurang yang semakin lebar antara mereka yang mampu menikmati “kemewahan” modern dan mereka yang masih bergulat dengan kebutuhan dasar.

Empat paragraph terakhir adalah kekhawatiran tersendiri, karena saya hanya sedikit ber-empati, karena saya tahu ini adalah negara saya sendiri.


Salam,

Syukron Hidayat

 


Komentar

Postingan Populer