Tepi Jalan

 

Hi... namaku Rudy, Rudy Wijaya. Nama yang cukup pasaran untuk anak seumuranku, dan cukup enak dipanggil oleh warga di kampungku waktu itu. Aku malah menyadarinya beberapa menit yang lalu, setelah tiga tahun meninggalkan kampungku, merantau ke Jogja, dan menulis cerita ini. Ya, dimalam ini 15 juli 2024.

“Cita-citaku menjadi penulis buku terkenal, namaku akan bergema ke seluruh pelosok dunia.” Kataku sedikit berlebihan pada Anton, teman sekelasku di SMA Negri 45. Kurang lebih empat tahun yang lalu, tahun 2020, dan dia hanya tertawa mendengarkan ucapan yang keluar dari mulutku itu. Aku ingat waktu itu pada sore hari sambil minum es kelapa muda di tepi jalan, setelah pulang dari lelahnya sekolah seharian.

Aku memang nggak terlalu suka sama kegiatan belajar mengajar di sekolah, sangat membosankan, dari pagi sampai sore, pintu gerbang ditutup bak penjara bagi para siswa yang di dalamnya. Makanya tidak jarang aku ngajak Anton ke warung ‘paman’, warung belakang sekolah buat bolos jam pelajaran, dan Anton adalah teman sejati yang akan selalu nurut kalok aku ajak.

(warung paman adalah warung tempat biasa kami para siswa sering bolos atau sembunyi saat telat ikut upacara sekolah) oke lanjut.

Walaupun kami berdua sering  bolos, kami berdua tidak pernah keluar dari peringkat sepuluh besar di kelas, karena memang siswanya cuman 15 0rang. Tapi jujur, sebodoh-bodohnya aku, aku pasti dapat nilai ujian diatas 40 di mata pelajaran Fisika, yaa nggak bodoh-bodoh amat lah...

Aku masih ingat, bagaimana aku bisa bersahabat dengan Anton. Waktu itu aku masih kelas 10 tepat pada hari senin, di mana para siswa dan guru melakukan upacara bendera. Aku nggak langsung masuk ke sekolah, karena aku tahu aku sudah terlambat masuk 30 menit, dan jika dipaksa masuk, bakalan dihukum oleh pak Salim guru BP di SMA-ku waktu itu.

Ini bukan sepenuhnya salahku, ini salah Ayahku juga yang tidak ngebangunin tepat waktu, padahal aku udah nyuruh bangunin jam 6 pagi supaya aku nggak terlambat pergi ke sekolah.

Sikap Ayahku berubah sejak Ibuku meninggal saat aku masih kelas 3 SMP, aku akan menceritakan sedikit kejadiannya. Jadi, kejadiannya pada malam hari, saat itu Ayah ngajak makan diluar buat ngerayaain hari ulang tahunnya yang ke 38, tentu hari itu adalah hari istimewa baginya.

Namun, entah kenapa aku menolak ajakannya, bukan karena aku sedang bermasalah dengan Ayahku, tapi aku menolaknya karena ada suatu hal aneh yang terjadi padaku. Sebelum Ayah mengajak kami sekeluarga keluar, sudah ada kejadian buruk, terlihat, di masa depan, dalam bayangku, entah siapa yang menggambarkan atau memperlihatkannya, aku tidak tahu.

“Kayaknya aku nggak ikut deh yah”, kataku

“Lah kenapa? hari ini kan ulang tahun Ayah. Ayah janji deh, kamu bebas milih makan apapun yang kamu suka” Bujuk Ayah

“Aku mau ngerjain PR yah”

“Udah, ntar aja pas udah balik makan, kan masih ada waktu. Ayah janji juga deh kamu boleh beli barang-barang yang kamu suka”

“Nggak bisa yah, PR nya banyak”

“Oh,” dengan raut muka yang kecewa, Ayah melanjutkan “yaudahlah, kalok kamu nggak mau ikut, Ayah nggak bis maksa. Tapi Ayah nggak pesen buat dibawa pulang buat kamu yaa”

“Iya, yaah, nggak papa” Kataku dengan muka datar. Aku tahu itu hanya cara Ayah membujuku supaya aku ikut, padahal nanti pas pulang pasti dibawain.

“Okelah kalok gitu” kata Ayah melihat aku yang beneran nggak mau ikut.

Akhirnya Ayah hanya pergi berdua dengan Ibuku,

“Yaudah kalok kamu nggak mau ikut, ibu titip rumah ya, hehe” kata ibuku “daah” terusnya.

“Daah bu..” sambutku

Dan itu adalah kata terakhir yang aku dengar dari seorang Ibu, karena beberapa menit kemudian, saat aku mulai membuka buku di meja belajar kamarku, telpon-ku berdering dan kudengar kabar kalok ibuku ternyata sudah tiada.

Ternyata gambaran yang aku lihat sebelumnya beneran terjadi, aku merasa aneh sendiri waktu itu. Kenapa hal itu bisa terjadi? Kenapa aku bisa lihat masa depan? Siapa yang memperlihatkan gambaran itu? Aku tidak tahu.

Tentu sebagai anak yang masih berusia 14 tahun, aku merasakan kesedihan yang cukup mendalam. Menjalani keseharian sudah tidak semangat seperti dulu, aku merasa apa yang kujalani rasanya kosong.

Tidak ada lagi Ibu yang menyuruhku tidur kalok udah kemaleman. Tidak ada lagi ibu yang membangunkanku dipagi hari. Tidak ada lagi sarapan sebelum berangkat sekolah. Dan tidak ada lagi, tidak ada lagi, tidak ada lagi  ... aku rindu.

 

***

 

Sekarang aku mengerti perasaan ayahku waktu itu, dan wajar apabila sikapnya berubah.  Ayah jadi sering marah-marah, sering keluar malam, nongkrong nggak jelas sama teman-temannya, hubungan kami-pun menjadi renggang, mana lagi sering begadang, jadi telat bangun pagi, dan hari itu aku dibangunin pukul 07:20, sedangkan upacara bendera dimulainya pukul 07:00.

Karena sudah tahu bakalan telat, akhirnya aku milih mampir dulu ke tempat biasa, tempat persembunyian anak-anak yang sering terlambat ikut upacara. Di warung ‘paman’, pojok kiri belakang sekolahku. Sudah bisa kutebak, disana pasti banyak siswa lagi sembunyi dari upacara sambil makan mie, gorengan, sama nasi bungkus buat sarapan. Dan sebagian siswa disana sudah pada ku kenal muka dan namanya, karena sebagian juga adalah teman SMP-ku.

Teruntuk warung ‘paman’, kami para alumni SMA Negri 45 mengucapkan banyak-banyak terimakasih karena telah menfasilitasi kami untuk bolos jam pelajaran, upacara, ataupun bolos sekolah. Kami akan selalu mendoakan supaya setiap kedelai tempemu, setiap helai mie gorengmu, dan setiap butir nasimu yang kami makan, akan menjadi amal jariyah paman. Sekali lagi terimakasih. Oke lanjut.

Yang menarik adalah, disaat aku baru menyadarinya belakangan, saat upacara bendera mau selesai, di sana ada satu siswa yang aku kenal karena satu kelas denganku, dan betul, itu adalah Anton. Sebenarnya aku tidak langsung mengenalnya, karena di kelas, Anton anaknya pendiam, dia duduk di deretan depan meja guru dan tepatnya pada barisan kedua bagian kiri dekat tembok. Jaraknya cukup jauh dari meja tempatku, yang berada di pojok kanan paling belakang, itulah yang membuat aku dengan Anton jarang berinteraksi, dan wajar saja-kan kalok aku tidak langsung mengenalnya.

Aku hanya menyapa Anton, tidak melanjutkan pembicaraan karena kami berdua masih pada canggung. Dia juga lagi ngobrol sama temannya yang tidak ku kenal, yang belakangan aku tahu namanya adalah Ifan. Ifan adalah anak IPS 3, dan temen Anton waktu SMP.

Di sana, kami sedang asik-asiknya ngobrol dan makan, dan sebentar lagi akan menyelinap lagi masuk ke sekolah untuk belajar. Tiba-tiba saja Pak Salim muncul dari samping kanan warung ‘paman’, sambil membawa pentungan satpam, yang dipukulnya pada papan yang bersandar di tembok sekolah, membuat suara mengejutkan kami para siswa yang sedang makan. Dengan serentak kami berlarian meninggalkan makanan, ada juga yang berlari sambil membawa mangkok mie, ada juga yang langsung lari padahal belum bayar gorengan. Dan kami waktu itu saling dorong-dorongan karena ketakutan.

Untung saja aku tidak berada di paling belakang, karena kata Amir temenku, dia berada paling belakang terus pantatnya kena pentungan yang dilempar Pak Salim. Disaat kami berlari dengan paniknya, aku menyenggol Anton yang sedang kesusahan menarik kakinya dari got, sedangkan Pak Salim hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk menyusuli kami.

Dalam hati aku pengen langsung saja berlari tanpa mempedulikan Anton, karena toh kami nggak terlalu deket juga. Tapi entah kenapa, aku malah berhenti, terus menolong kakinya yang sedang kesusahan keluar dari lubang got. Yang membuat kami berdua ditangkap Pak Salim. Tapi untungnya kita mendapatkan bantuan darinya, mengeluarkan kaki Anton dari Got.

Akhirnya kami di bawa ke ruang BP untuk disidang.

“Buat apa kalian nongkrong di sana? Tidak ikut upacara lagi, di mana kedisiplinan kalian?” tanya Pak Salim dengan raut muka marah

“Kami berdua terlambat, pak” jawabku

“Kenapa terlambat?”

“Aku, telat bangun pak, nggak ada yang ngebangunin” jawabku

“Hallah, alasan aja kamu,” kata Pak Salim padaku dengan tangannya yang menunjuk ke jidatku, seakan-akan hendak menembak kepalaku dengan pistol di tangannya, “Kamu” dia menggantikan arah tunjukannya ke arah Anton, “Kenapa kamu terlambat masuk sekolah?”

“Tadi, aku anter koran dulu pak, pesanan banyak hari ini” Jawab Anton. Aku tidak mengerti apa alasan Anton, anter koran? Dalam hati aku bertanya-tanaya. Namun, belakangan kuketahui kalok Anton setiap pagi sebelum berangkat sekolah Ia mengantarkan pesanan koran ke rumah-rumah, ke komplek-komplek, dan keuntungannya untuk uang sakunya di sekolah.

“Yaudah,” jawab Pak Salim “Ini surat peringatan buat kalian,” Dia memberikan kami surat terbungkus amplop, sama-sama satu “sekali lagi kalian ketahuan terlambat, orang tua kalian akan kami panggil ke sekolah. Dengarr!” tegas Pak Salim dengan suara lantang, hingga menggema ke sisi-sisi ruangan.

“Dengar, Pak” jawab kami berdua hampir berbarengan. Kami kembali ke kelas, dengan aku yang sedikit tertawa

“Kenapa kamu ketawa?” tanya Anton sedikit penasaran

“Nggak papa hahaha” kali ini ketawaku lebih menggelitik dari sebelumnya, “lucu aja sih, tadi itu, kakimu nyangkut di got, kenapa bisa gitu coba, hahaha”

“Hahaha” Anton ikutan ketawa “iya, tadi kan saling dorong gitu, terus nggak sengaja kecebur, terus nyangkut deh, hehe”

“Itu juga, Pak Salim, lucu banget” kataku menambahkan

“Lah, kok lucu? Tanya Anton, “galak gitu di bilang lucu”

“Iya, lucu aja, kenapa coba kita dikasih surat peringatan? Padahal kan bisa langsung ngomong aja kalok mau ngasih peringatan, nggak usah pakek surat, ngabisin kertas aja” kataku dengan memasang muka serius yang dipaksa, karena sebenarnya dalam hati sedang bercanda.

Aku ketawa, Anton juga ikutan ketawa.

Sejak saat itu aku dan Anton tidak canggung lagi, kita berdua sering bermain dan nakal bersama. Isengin temen bareng, sampai bolos pelajaran bareng. Kita berdua pernah main bola di kelas, terus bolanya nggak sengaja mecahin jam dinding kelas, yang merupakan hadiah lomba kebersihan antar kelas yang diberikan kepala sekolah. Kita berdua pernah bakar ubi di lapangan basket, terus kita makan bareng-bareng sama tukang kebun sekolah. Kita juga sering ngisengin para wibu di kelas kita yang lagi tidur, karena kebanyakan nonton anime sampai lupa tidur malam.

Walaupun di sekolah sering ada pembulyan, namun, kita berdua nggak pernah dibuly, karena memang kita berdualah tukang bully-nya. Bukan karena nakal, tapi kita cuman ngasih pelajaran aja, seperti para wibu yang sering nonton anime sampai larut malam. Kita bully, bukan bully sih, tapi lebih tepatnya gangguin, supaya mereka nggak ngulangin perbuatan mereka lagi , ya kan. Itu aja sih, nggak lebih, para siswa itu nakal karena mereka juga ingin menjadi guru, ngajarin semua siswa yang nggak tepat kelakuannya. Apakah benar? Aku tidak tahu.

Aku merasa berteman dengan Anton membuatku menemukan sosok ibu yang telah hilang dari hidupku yang tidak aku temukan pada Ayahku. Walaupun memang benar bahwa kasih sayang seorang Ibu tidak akan pernah tergantikan oleh apapun, hanya saja Anton adalah sahabat yang memberikan lebih dari cukup padaku.

 

***

 

Akhir tahun 2020 sampai awal 2021 rasa-rasanya akan lewat dengan cepat sekiranya tak terjadi peristiwa yang cukup meninggalkan kesan.

Hari itu di sekolah ada jam pelajaran Bu Susi, guru Senibudaya di sekolah kami. Satu minggu sebelumnya Bu Susi memberikan tugas kelompok sebagai nilai semester, yang terdiri dari dua orang siswa. Tugasnya adalah membuat satu lukisan yang harus sudah jadi di minggu selanjutnya, dan akan di presentasikan di depan kelas.

Konyolnya adalah pada saat hari pengumpulan karyanya, alat dan bahan tidak aku bawa, begitu juga dengan Anton yang tidak bawa apa-apa yang menjadi teman kelompokku. Tentu hal itu adalah kejadian yang konyol dan sedikit menegankan.

Jadi, kita berinisiatif untuk menyelinap ke luar sekolah lewat tembok  belakang, karena kalok lewat gerbang pasti nggak dikasih sama satpam sekolah. Sialnya adalah, saat hendak menuju belakang sekolah, aku melihat Pak Salim berjalan mondar-mandir di sebuah lorong yang menghubungkan antara daerah dalam sekolah dan belakang sekolah, dan itu adalah satu-satunya jalan menuju belakang sekolah.

Ternyata benar saja ia sedang berjaga-jaga untuk mengawasi siswa yang hendak bolos lewat tembok belakang. Entah dari mana dia tahu kalok hari itu aku berniat lompat keluar lewat tembok itu, tiba-tiba saja ada disana, padahal sebelumnya nggak pernah ada.

Aku dan Anton mengurungkan niat untuk ke luar sekolah, tapi karena aku nggak mau nilai semesterku dan Anton kosong karena hanya kecerobohan saja. Kita berdua memutuskan untuk  mencari alatnya di dalam sekolah saja.

Kita sudah berusaha nyari kemana-mana, minta ke tukang kebun, tapi nggak ada. Kita nanya-nanya ke kelas lain juga tidak ada. Akhirnya kita menggunakan talenan sebagi tempat lukis yang kita ambil di ruang dapur di belakang sekolah. Cat dan kuas kita pinjem di teman kelas, karena hari itu masih banyak juga yang belum jadi lukisannya.

“Aku saja yang melukis, nanti kau bantu aku persentasi aja” kata Anton

“Beneran” kataku

“Iyaa, santai aja”

Dengan begitu, aku menyerahkan semua tugas melukis itu pada Anton, kecuali persentasi nantinya. Karena aku juga tahu kemampuan melukisku sangatlah buruk. Hanya bisa menggambar dua gunung, satu matahari, dan sawah yang luas sampai memenuhi buku gambar.

Anton lansung melukis menggunakan cat tanpa menggambar sketsanya terlebih dahulu. Lukisannya sangat indah terlihat oleh mata, seperti ada luapan perasaan si-pelukis di dalamnya.

Beberapa waktu berlalu, jam pelajaran Senibudaya akhirnya sudah masuk, para siswa dengan kelompoknya satu per satu disebut maju untuk mempresentasikan hasil lukisan mereka. Setelah beberapa siswa, akhirnya Aku dan Anton dipanggil pada urutan kelompok yang ke tujuh. Dengan cat lukisan yang belum kering, aku dan Anton berjalan menuju depan kelas dengan aku yang berada di belakang Anton. Kemudian persentasi dimulai.

Sungguh, aku di depan hanya dijadikan batu oleh Anton, itu lukisannya sendiri, dan dia sendirilah yang bisa menjelaskan lukisan itu. Sedikit aku menambahkan bahan apa yang kita gunakan, itu saja, selebihnya dijelaskan semua oleh Anton. Penjelasan Anton tentang lukisannya membuat Bu Susi terpukau dan seisi kelas terdiam, begitu juga aku yang ikutan terdiam karena penjelasannya.

Lukisan itu; memancarkan aura kebahagiaan yang terang benderang, memikat setiap mata yang melihatnya, dengan latar belakang langit cerah dan padang rumput hijau penuh bunga. Diantara ana-anak yang sedang bermain, di sana; ada seorang anak berdiri menghadap cakrawala, memegang erat tali layang-layang yang terbang tinggi, melambangkan cita-cita dan aspirasi. Sebuah pohon besar dengan buku terbuka di bawahnya menggambarkan pertumbuhan dan pengetahuan. Cahaya matahari yang lembut menerangi, menciptakan nuansa hangat dan nyaman, menyatukan elemen-elemen dalam harmoni sempurna. Kira-kira seperti itu penjelasan Anton tentang lukisannya.

Di sana aku terkagum dengan pengetahuan Anton tentang seni dan lukisan, aku hanya terdiam dan sesekali mengagguk untuk membenarkan perkataan Anton yang begitu luas dan mengagumkannya. Ketika persentasi selesai, seisi kelas tepuk tangan, termasuk Bu Susi yang lalu memberikan kami nila A+.

Hari itu aku baru tahu tentang Anton yang pandai melukis dan pandai juga dengan ilmunya. Aku juga tahu ia berambisi sekali untuk menjadi pelukis yang sukses dan hebat. Sepulang sekolah kita duduk di tepi jalan sambil minum es kelapa muda, seperti cerita di awal tadi.

“Mana bisa kamu jadi penulis, kamu kan sering bolos jam pelajaran” kata Anton

“Lah, emang kamu nggak?”

“Ya, kan, aku ikut kamu”

“Sama aja, sama-sama bolos, hahaha” kataku “lagian ya” lanjutku “Aku itu  nggak pernah bolos pas pelajarannya Bu Diana”

“Hahaha” Anton ketawa “kenapa?” Tanyanya

“Ya kan ibunya cantik, aku juga kan jago pelajaran bahasa Indonesia, jadinya seru, nggak ngebosenin kayak Fisika”

“Emangnya kenapa kalok Fisika?”

“Nggak papa, ngebosenin aja”

“Ya maklum lah, itu kan cara ngajar gurunya aja kayak gitu”

“Berarti, kalok siswa bolos, gurunya harus bisa maklum dong”

“Kenapa?” tanya Anoton

“Gurunya kurang intropeksi diri. Dia nggak tahu kenapa kita sering bolos, padahal kita bolos karena dianya juga yang ngebosenin, ya kan. Kalok gurunya udah intropeksi diri, pasti cara ngajarnya nggak ngebosenin, jadinya kan kita seneng belajar di kelas”

“Tapi sebagai siswa kan kita harus tetap mengikuti aturan” kata Anton ada benarnya. Selain Guru yang harus berkompeten, siswa juga harus tetap taat pada aturan. Tapi selama ini kenapa hanya para siswa saja yang disalahkan? Ahh sudahlah, ini negri kita.  “Tapi besok kau kuliah nggak?” Anton melanjutkan

“Kuliah” jawabku

“Dimana?”

“Jogja kayaknya, aku mau cari relasi sama pengalaman lebih banyak lagi. Biar nggak kayak katak dalam tempurung” jawabku, tapi Anton terlihat murung setelah aku bilang kayak gitu. “Kenapa, ton?”

“Nggak papa” katanya, “aku juga pengen kayak kamu, bisa kuliah ke luar daerah, aku pengen ke ISI jogja, aku pengen wujudin impianku jadi pelukis. Tapi kamu taulah aku nggak ada biaya buat kesana”

Aku juga merasakan kesedihanya, aku juga sedih karena Anton dan aku bakalan terpisah karena kuliah.

“Nggak papa, kamu kuliah di sini aja. Nggak Kuliah di luar daerah juga nggak papa kan, asalkan kamu bisa maksimalin aja. Terus nanti pas kita ketemu, kita kan bisa berbagi cerita dan berbagi ilmu” kataku untuk membangkitkan semangatnya

“Iya” kata Anton dengan nada sedikit dipaksakan untuk keluar, karena dalam hati ada sebuah ganjalan yang mempersulit.

Inilah yang terjadi, bukan hanya Anton, tidak sedikit juga temen-temenku mengalami hal yang sama. Mereka mengorbankan mimpi mereka karena keterbatasan biaya. Sedangkan di lain sisi ada sekelompok orang yang dengan gagahnya mengenakan jas  rapi, kemudian dengan bangganya menggunakan fasilitas ala sultan yang padahal dari hasil rakyat. Apakah benar? Aku tidak tahu.

“Tapi besok, kalok kita udah lulus kuliah, kita harus sukses bareng-bareng ton” kataku

“Pasti itu, asalkan kamu nggak lupa aja sama aku”

“Nggak mungkin lah aku lupa, santai aja, kita sukses bareng-bareng. Pokoknya aku harus bisa ngalahin Bertrand Russel” kataku

“Bertrand Russel, siapa itu?” tanya Anton

“Nggak tau, katanya dia terkenal”

“Ada-ada aja kau, kalok nggak tahu, kenapa harus dikalahin. Hahaha” Anton ketawa, aku juga ikutan ketawa.


Kemudian aku dan Anton hendak berjalan pulang. Jam sudah menunjukan sekitaran setengah enam sore, terlihat mentari memancarkan sinarnya yang kemerah-merahan, menembus spasi bangunan dan menerpa jalanan kota, yang sebentar lagi akan menghilang ditelan bumi.

Di jalan torotoar itu, kami berjalan menuju parkiran motor yang terletak di ujung sekolah. Di tengah jalan ada seorang perempuan lewat dan menyapa kami berdua, ya, itu adalah Lisa, murid baru di kelas kami, pindahan dari luar kota. Lisa pindah sekolah karena ikut Bapaknya yang jadi kepala sekolah di sekolah kami.

“Hai” sapa Lisa sambil memandangi kita berdua

“Hai juga Lisa” sapa Anton dengan senyuman, yang menurutku itu sudah sedikit berlebihan, aku menduga dia sudah suka sama Lisa.

“Hai” jawabku

“Kemana?” tanya Anton masih dengan senyum berlebihannya

“Mau balik pulang sih, tapi mau beli cilok dulu bentar” jawab Lisa “kalian mau? Aku beliin” Lisa menawarkan

“Nggak papa Lis, aku udah kok tadi, ya kan ton” jawabku sambil melirik Antin, dan Anton hanya diam saja

“Ngga papa, anggap aja ini hadiah perkenalanku ke kalian” kata Lisa. Lisa pun beliin kita berdua cilok, dengan sedikit malu aku menerimanya

“Kalian pulang ke mana?” tanya Lisa

“Nggak jauh kok, Jalan Mahoni” jawab Anton

“Ohh, yaudah kalok gitu, aku balik duluan ya” pamit Lisa, kemudian menaiki mobil dinas Avanza milik bapaknya, dan benar saja di dalam mobil itu ternyata ada Pak Edi, kepala sekolah kami. Aku dan Anton lalu memberikan salam, Pak Edi hanya mengangguk tanpa bersuara, dan mobilnya melaju ke kejauhan.

Sambil makan cilok yang dibelikan Lisa, kita berdua melanjutkan perjalanan, kemudian Anton memulai “Enak ya jadi Lisa, bisa pakek mobil berangkat-pulang sekolah”

“Iya, enak. Kamu mau?” kataku “kalok kamu mau kayak gitu mending jadi pejabat aja, jangankan mobil Avanza, mobil Pajero aja kamu dikasih, kalok kamu mau”

“Masa sih?”

“Iya, beneran” kataku “emang kamu nggak pernah lihat apa di jalanan, mobil pejabat yang diiringin sama mobil polisi gitu”

“Ohh, yang itu, ya-ya aku tahu. Besok aku jadi pejabat ajalah biar bisa naik mobil Pajero”

“Nggak semudah itu juga kali, jadi pejabat. Lagian tadi kamu bilang mau jadi pelukis. Sekarang malah mau jadi pejabat, gimana sih kamu, nggak konsisten gitu” kataku sedikit dengan nada kesal

“Ohh iiya” kata anton dengan penekanan pada huruf ‘y’, sambil menepuk jidatnya “nggak jadi deh kalok gitu. Aku jadi pelukis aja, biar bisa bareng kamu, kalok jadi pejabat juga pasti sibuk rapat sana-sini kan”

“Iya, bisa rapat di hotel bintang lima lagi”

“Nah itu yang aku nggak mau, nanti aku terlena dengan harta, terus lupa sama kamu. Janji deh nggak bakalan aku jadi pejabat” kata Anton seolah-olah menjadi pejabat itu mudah, padahal selain pinter kalok nggak banyak duit ya percuma.

“Iya deh” sambutku. Dan nggak terasa kita sudah sampai di parkiran “ayok, balik”

Anton naik di belakangku, kita balik menuju ke arah Jalan Mahoni gang No.04 untuk nganter Anton terlebih dahulu, dan aku juga balik ke rumahku yang berada tidak jauh dari rumahnya Anton di gang No.05.

 

***

 

Malamnya seperti biasa Anton main kerumahku, biasanya untuk WiFi-an aja, tapi nggak papa aku jadi punya temen ngobrol di rumah. Karena biasanya sepulang kerja Ayahku nggak langsung ke rumah, paling main sama tamen-temennya terus pulang sampai larut malam. Aku juga sudah tidak peduli, karena aku punya kehidupan sendiri juga.

“Rud” panggil Anton padaku sambil berbaring di ranjang, memandangi langit-langit kamar,

“Hmm” sambutku yang sedang duduk di meja belajar sambil baca Novel Tere Liye,  yang aku pinjam di perpustakaan sekolah siang tadi

“Lisa cantik ya”

“Hah?”

“Iya Lisa”

“Kau suka?”

“Kayaknya sih gitu”

“Sejak kapan?”

“Kayaknya tadi sore deh, hehe?” terdengar suara ketawanya yang agak aneh

Aku sudah menebaknya dari tadi sore kalok Anton sudah suka sama Lisa, jadi kagetku tadi hanyaku sengajakan.

“Aku minta bantuan kamu dong” pinta Anton

“Bantu apa?”

“Pdkt-an gitu”

“Aku nggak ikut-ikutan ah” aku menolak karena memang aku nggak tahu cara ngedeketin cewek itu gimana

“Ayo dong, kali ini aja kaok” Anton merengek bak anak kecil yang minta peremen lolipop di pasar malam.

Setelah negosiasi panjang akhirnya aku meng-iya-kannya. Malam itu kita menyusun rencana untuk pendekatannya dengan Lisa, dan aku memberikan sedikit tips yang aku dapatkan dari artikel internet

“Katanya, cewek sekarang itu suka sama cowok yang kelihatan badboy tapi tetap pintar dan gak alay” kataku “kayak Dilan gitu lah”

“Dilan? Ooh gitu” kata Anton dengan matanya ditaruh dekat alisnya sambil mengerenyitkan keningnya seperti orang yang sedang berfikir, namun tetap terlihat konyol.

Memang benar, cinta yang ada dalam hati akan menginfeksi otak untuk tidak bisa digunakan lagi. Karena ia hanyalah rasa bukan logika. Apakah benar? Aku tidak tahu.

Keesokannya di kelas, jam pelajaran Biologi, aku berantem dengan Anton, hanya karena aku membuat coretan pada bajunya menggunakan pulpen. Hal itu membuat kelas berubah menjadi ribut karena kami berdua. Akhirnya aku dan Anton dipanggil ke depan.

Aku dan Anton disuruh untuk mempresentasikan fungsi-fungsi neuron pada otak manusia. Anton memulai menggambar sketsa neorunnya dan menjelaskan bagian-bagiannya dengan lancar. Sedang aku yang disuruh menjelaskan fungsi-fungsi bagiannya. Aku hanya terdiam karena aku tidak mengerti, akhirnya Anton jugalah yang menjelaskanya dengan lacar pula.

Aku dimarahin sama guru, sedangkan Anton mendapatkan tepuk tangan. Aku hanya menunduk malu, akan tapi dalam hati aku tersenyum karena hal tadi hanyalah bagian dari rencana Pdkt Anton pada Lisa. Semalam aku menyuruhnya belajar materi biologi hari itu supaya Ia bisa menjelaskan dengan lancar, untuk memperlihatkan Anton yang keren, walaupun ribut di kelas tapi paham materi. Ah, Anton, segitunya.

Setelah duduk Anton bertaya padaku “Gimana, tadi berhasil nggak kira-kira?”

“Aku nggak tahu, tapi aku lihat tadi Lisa senyum lihat kamu pas ngejelasin” jawabku

“Yess” kata Anton senang.

Setelah hari itu, rencana-rencana kita selanjutnya berjalan lancar, dan Anton berhasil mendapatkan kontaknya Lisa. Anton semakin dekat dengan Lisa, dan Lisa bukanlah tipe orang yang tidak mau bergaul dengan orang yang tidak se-level dengannya, dia adalah orang yang terbuka tanpa membedakan latar belakang. Akhirnya seminggu kemudian mereka jadian. Kata Anton, sebenarnya Lisa sudah suka sama Anton sejak presentasi lukisannya di depan kelas, dan mereka sekarang sama-sama saling suka.

Akhh.. apalah yang bisa dikatakan indah di dunia ini, selain karena jiwa yang merasakan cinta. Untuk itu beruntunglah bagi mereka yang bisa memberikan cinta, dan dicintai. Apakah begitu? Aku tidak tahu.

 

***

 

Waktu itu jam terkhir pelajaran Fisika, seperti biasa aku duduk di paling belakang dengan rasa bosan dan mengantuk. Beberapa kali aku izin ke toilet untuk pergi cuci muka, tetap saja tidak mendapatkan rasa segar. Aku berusaha untuk terus tegar menghadapi ujian itu, dan tiba-tiba di tengah pelajaran datang Bu Susi meminta izin untuk membawa aku dan Anton ke ruang guru. Akhirnya aku bisa keluar dari siksaan itu, hanya saja aku sedikit penasaran, kenapa aku dan Anton harus dibawa ke ruang guru?

Ternyata di sana tidak ada siapa-siapa, guru-guru sedang mengajar di kelas. Hanya ada Aku, Anton, Bu Susi, Bu Diana, dan Pak Edi. Ternyata mereka meminta aku dan Anton mengikuti olimpiade Seni dan Sastra.

“Aku dengar dari Bu Susi, kamu pandai melukis?” tanya Pak Edi ke Anton

“Biasa aja pak” jawab Anton

“Kamu juga Rudy” Pak Edi melihatku “Aku denger dari Bu Diana, tulisan kamu bagus, katanya”

“Mungkin begitu pak” kataku

“Jadi, bulan ini, Bapak Wali Kota sedang mengadakan olimpiade Seni dan Sastra. Bapak harap kalian bisa ikut untuk mewakili sekolah kita”

 Aku dan Anton mengikuti olimpiade itu. Setiap hari kita diberikan dispensasi jam kosong untuk latihan. Selain aku dan Anton ada juga empat siswa lainnya mengikuti olimpiade tersebut, dua orang, sama dengan aku lomba menulis essay dan cerpen. Dua lainnya seperi Anton mengikuti lomba lukis. Aku dan dua siswa lainnya dimentor oleh Bu Diana dan untuk lomba lukis dimentor oleh Bu Susi.

Setelah tiga minggu latihan akhirnya kami diberangkatkan ke pendopo alun-alun kota untuk dilombakan. Hasilnya; aku dan Anton mendapatkan posisi pertama sedangkan siswa lainnya hanya sampai juara harapan. Sebulan kemudian Aku dan Anton dilombakan lagi di tingkat provinsi, hasilnya membanggakan juga, aku dan Anton pada posisi pertama dan mewakili provinsi kami ke tingkat nasional. Sampai pada tingkat nasional juga cukup membanggakan, aku mendapatkan posisi ketiga, sedangkan Anton lebih membanggakan, mendapatkan posisi kedua. Di cabang lomba yang berbeda tentunya.

Tentu pengalaman itu adalah pengalaman berharga dan membanggakan. Nama aku dan Anton menjadi kebanggaan sekolah, sudah tiga kali nama kami di sebut untuk maju menerima apresiasi oleh kepala sekolah pada saat upacara bendera. Di  sekolah-pun mulai dibuka ekstrakulikuler kesenian dan kesastraan, aku dan Anton disuruh untuk mengisi, dan membersamai siswa-siswa yang ikut ekstrakulikuler tersebut.

Tak butuh waktu lama nama kami dikenal ke seluruh kota, karena olimpiade tersebut disiarkan di televisi nasional. Kami diundang oleh wali kota hingga gubernur, untuk diberikan apresiasi dan uang pembinaan. Kejadian itu berdampak pada sikap guru-guru terhadapku, yang tak lagi menganggap kita bodoh, dan nakal. Karena  kami sudah diundang wali kota dan gubernur.

Menulis yang aku lakukan, maupun melukis yang Anton lakukan, ternyata bisa menghasilkan uang yang cukup besar untuk ukuran kantong anak SMA. Banyak yang datang atau mengirim email padaku untuk menulis di surat kabar, majalah, copy writer di internet, atau hanya sekedar menulis di artikel. Bahkan aku bisa menerbitkan buku diusiaku yang baru menginjak 17 tahun.

Begitu juga dengan Anton, lukisannya banyak dibeli oleh orang-orang kaya yang berada di dalam atau bahkan di luar kota. Banyak juga lukisannya yang dipajang kemudian di lelang hingga jutaan rupiah.

 

***

 

Tanggal 6 Maret 2021. Dua bulan sebelum lulus sekolah. Pagi itu, saat berjalan menuju sekolah, udara pagi menghembuskan nafas segarnya melewati daging telinga yang terlalu tipis. Menyadari bulu tangan sudah mulai berdiri, dengan refleks ia disilangkan di depan dada. Sedang mulut tetap tersenyum karena hari itu tidak ada belajar di sekolah. Sekolah mengundang seniman yang cukup ternama dari kota sebelah untuk seminar tentang kesenian.

Aku dan Anton juga ditunjuk juga sebagai pembicara menemani seniman tersebut. Tentu hal itu sangat mengesankan bagi Anton karena seniman tersebut adalah sosok yang paling diidolakan oleh Anton. Aku ingat dia pernah menyebut nama seniman itu ketika Anton sedang tertidur di rumahku. Aku nggak tahu apa yang ada dalam mimpinya, namun yang pasti ada hubungannya dengan seniman itu.

“Kayaknya aku jadi kuliah di Jogja deh, Rud” Anton memulai

“Ya baguslah kalok gitu, bisa barengan” kataku tersenyum

“Iya, kayaknya tabunganku sudah cukup, kemarin juga kan kita dikasih beasiswa sama bapak gubernur”

“Baguslah” kataku, kemudian “Beneran kamu mau jadi seniman?” tanyaku

“Beneranlah, aku mau jadi pelukis hebat, lanjut kuliah di sana, ketemu sama orang-orang hebat, aku bisa jadi lebih berkembang lagi. Ya kan?” kata Anton dengan ekspresi penuh bahagia

Aku juga ikutan senang, karena aku tidak harus jauh-jauh dengan Anton.

Setelah seminar di sekolah selesai, para guru memberikan waktu bermain di sekolah, sampai pukul 12 kita baru boleh pulang. Seniman yang menjadi pembicara tadi, mengajak Anton untuk ikut di komunitas seni yang ada di kotanya. Tentu Anton sangat senang mendengar hal itu, ditambah lagi seniman itu memberikan kontak pelangganya pada Anton. Biasanya pelanggan seniman tersebut adalah pelanggan yang berasal dari jajaran ekonomi atas, yang bayarannya tentu tidak main-main.

Katanya, Anton dipercaya untuk melukis pada pelanggan itu. Anton disuruh untuk datang nanti sore, di salah satu kafe, di kota sebelah, untuk pertemuan membahas kesepakatan dengan si pelanggan.

Pukul 15.00 Anton, aku, Lisa dan kucingnya, berangkat menggunakan Bis ke kota sebelah. Kami disambut oleh si-seniman itu, di sebuah kafe yang cukup besar dan mewah, yang berada tepat di pinggir jalan kota. Aku sendiri bingung kenapa harus di kafe yang mewah itu, kenapa bukan di kafe kecil saja kalok pembahasannya hanya sebentar saja. Sekiranya?.

“Bagaimana perjalananya” tanya si-seniman

“Alhamdulillah, lancar” jawab Anton

Dan basa-basi dimulai. Namun, tidak lama setelah itu, datanglah seseorang dengan kaos abu gelap, celana jeans, berkacamata minus/atau plus? Aku tidak tahu, yang pasti bukan kacamata hitam. Satunya lagi mengenakan hudie hitam, dengan celana kream dan tablet lebar di tangannya. Kami duduk melingkar. Aku berada di dekat Anton, dan Anton berada di dekat Lisa dengan kucingnya. Sedangkan pelanggan lukisan itu berada di sebrang mejaku.

“Maaf, aku terlambat” kata pria berkaos gelap itu

“Nggak papa, kami juga baru kok” kata si-seniman

“Baik, bagaimana dengan kafe ini, rencananya lukisan itu akan aku pasang di sini” ternyata kafe itu adalah milik si pria berkaos abu gelap itu

“Kenalin, ini Anton” kata si-seniman

“Ooh jadi ini Anton” sapa pria itu, sambil mengulurkan tangannya ke Anton juga Lisa, juga aku yang langsung menjabatnya.

Obrolan dimulai dengan santai yang semakin lama semakin hangat. Terjadi tawar-menawar sudah sering terjadi dalam interaksi jual-beli. Tidak lebih dari tigapuluh menit harga sudah disepakati dengan harga cukup tinggi, lebih tinggi dari yang Anton terima sebelumnya.

Terlihat mata Anton memancarkan kebahagiaan, teringat kesan masa lalu pada masa baru kenal. Ia masih sama dengan Anton yang bersamaku ditangkap oleh Pak Salim di got belakang sekolah dulu. Bedanya sepatu yang Ia gunakan dulu itu sudah tidak dipakai lagi olehnya, sudah lama dipensiunkan. Sekarang dia sudah mengenakan sepatu yang berbeda, atau bahkan ia bisa kapan saja menggantinya kalaupun dia mau. Walaupun begitu ia tidaklah sombong, Lisa telah mengajarkannya untuk rendah hati.

Kebahagiaan dalam matanya membuatku memulai merangkai kata-kata yang akan ditulis menjadi sebuah kisah nantinya. Kisah yang indah dimasa depan, akanku tulis bagaiman aku bersahabat dengan Anton hingga nantinya kita akan sukses bersama, mendapatkan apa yang kita inginkan. Kisah dua sahabat yang membahagiakan.

Dalam matanya aku bisa menulis dimasa depan kita akan tertawa bersama. Minum es kelapa muda di tepi jalan, seperti biasa. Anakku dengan anaknya akan bersahabat seperti bapaknya. Mulai nongkron di poskamling seperti bapak-bapak konfensional pada umumnya. Dan menikmati kopi diujung usia nantinya, sambil memandangi mentari sore memancarkan sinarnya yang kemerah-merahan, menembus spasi bangunan kota, yang sebentar menghilang ditelan bumi.

“Sebentar lagi Rud” kata Anton yang kata-katanya itu menggambarkan cita-cita yang sebentar lagi digapai

“Iya” kataku, dan tiba-tiba pandanganku gelap begitu saja, tidak ada cahaya yang masuk. Suatu kejadian buruk akan terjadi, di masa depan. Gambaran itu lagi? teringat Ibuku

“Aku takut?” kataku pada Anton

“Kenapa?”

Aku terdiam seakan mulut ini tak lagi dapat bicara

“Kau keliatan pucat” kata Anton

Aku terdiam lagi.

Anton membuka pintu kafe, melangkah keluar dengan senyuman Lisa padanya, begitu juga Anton yang tersenyum pada Lisa, walaupun terlihat dalam senyumannya sedang menghawatirkan keadaanku yang terlihat pucat. Di tepi jalan, terlihat seorang penjual sovenir. Kami hendak membelinya sebagai oleh-oleh.

Saat bejalan kesana, kucing Lisa terlepas dari pelukan pemiliknya, berlari mengejar sebuah bola yang menggelinding. Refleks, Anton  berlari mengejar kucing tersebut, mencoba untuk segera mengambilnya supaya tidak menghalangi pengendara jalan. Anton berlari kencang, ke tengah jalan. Lalu, semua yang terlihat olehku berjalan begitu lambat.

Dari arah kanan, lengkingan klakson menghampiri Anton. 

Aku hanya terdiam seakan kakiku terpaku pada bumi. 

Suara dentuman terdengar, seakan menghapus semua yang baru saja akan dirangkai. 

Menghilang, perlahan redup kemudian gelap, seperti layar bioskop di akhir sebuah cerita.

 

Salam,

Syukron Hidayat

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer