PDGJ (Pemerintah Dalam Gangguan Jiwa)
Sedikit pesimis mengatakan
Indonesia bakalan mencapai Indonesia Emas 2045. Singapura yang dimana ukuran
negaranya yang sangat kecil, seukuran pulau Bali dan sedikit lebih besar dari
pulau saya, Lombok. Merdekanya pun lebih dulu Indonesia, tapi seperti yang kita
lihat sekarang; Singapura jauh lebih maju dari Indonesia. Kalok alasannya hanya
karena mereka memiliki jalur perdagangan Internasional, saya rasa keliru,
karena Indonesia sendiri juga dilalui oleh jalur tersebut.
Dari semua aspek; ekonomi, kesehatan, kesejahteraan
rakyat. Kita masih jauh dari kata menyamakan diri dengan Singapura. Selain kemerdekaan yang duluan,
Indonesia juga diberikan rahmat kekayaan alam oleh Tuhan. Tapi kita dusta,
tidak bisa bersyukur atas apa yang diberikan, malah disia-siakan.
Bukannya menghasilkan SDM yang maju untuk mengolah
kekayaan SDA, malah masyarakat disuruh ikut-ikutan eksploitasi alam. Niatnya
ingin memberikan kebebasan kerjasama pada rakyat, tapi yang terjadi malah
menyengsarakan rakyat, bahkan alam menjadi korban kerakusan, padahal tempat
mereka hidup sendiri.
Tuh SDM dulu dibenerin, jangan duit mulu!
Mari kita lihat negara-negara maju di dunia. Hampir semua
dari negara-negara maju di dunia diperoleh dari pemimpin yang juga maju. Karena
pemegang tanggung jawab paling besar dalam sebuah organisasi adalah seorang
pemimpin, pemimpin yang baik akan membawa organisasi pada hal yang baik, begitu
juga sebaliknya. Nah, bagaimana dengan Indonesia, melihat Indonesia yang
gini-gini aja, apakah selama ini pemimpin di Indonesia tidak baik?
Lie Kuan Yew dijuluki The Founding Father-nya Singapura,
dimana Singapura di tahun 1965 baru merdeka dari Malaysia, lebih kasarnya
dilepas dengan cara yang tidak mengenakan, diusir dalam keadaan terpuruk.
Namun, yang terjadi adalah dalam 20 tahun Lie Kuan Yew mampu membangkitkan
Singapura, dari negara kecil yang tidak memiliki SDA ataupun SDM yang baik,
menjadi negara yang diperhitungkan dari segi sosial, ekonomi, maupun politik,
oleh negara-negara di mata dunia.
Saya tidak akan membahas bagaimana sejarah negara
Singapura. Namun, yang ditekankan disini adalah bagaimana seorang pemimpin yang
kompeten mampu membawa negaranya menjadi lebih baik.
Perlu diingat pemimpin yang kompeten adalah pemimpin yang
berlaku dengan benar untuk negara kedepannya, bukan berprilaku yang disenangi
oleh rakyat hanya untuk terlihat benar. Indonesia sekarang masih terlihat para
politisi di musim kampanye menjanjikan harga bensin akan turun, padahal
logikanya harga bensin tidak akan pernah turun jika bensin di Indonesia masih
diproduksi oleh Singapura. Tapi mereka masih saja menjajikan itu, hanya untuk
mendapatkan hati masyarakat.
Apakah itu sah? Tentu
sah-sah saja. Hanya saja ketika nanti pemimpin tersebut sudah menduduki
jabatannya, dia harus bertanggung jawab atas apa yang dijanjikannya. Jika
pemimpin tersebut menjajikan harga bensin akan turun, maka mau tidak mau ia
harus menambah subsidi BBM, kenapa harus subsidi? Karena kita belum bisa
memproduksi BBM sendiri. Ketika BBM makin naik, maka kebutuhan yang lain
haruslah dikecilkan, seperti kesehatan, pendidikan, dll. Ketika anggaran di
aspek yang lain dikecilkan maka kesejahteraan rakyat akan makin berkurang, dan
berujung pada ketidak tercapaiannya sebuah negara maju.
Subsidi BBM bukan tidak baik. Saya juga kesel kok, kalok
BBM harganya mahal, karena saya perlu BBM untuk pergi kuliah. Hanya saja yang
seharusnya menjadi fokus pemerintah bukan menjanjikan harga BBM akan turun,
tetapi bagaimana BBM tersebut bisa didapatkan dengan harga murah tanpa subsidi,
yaitu dengan produksi sendiri. Bagaimana kita bisa memproduksi BBM sendiri? Ya
pastinya dengan SDM yang mampu mengolah BBM. Untuk mendapatkan SDM yang mampu
mengolah BBM, maka diperlukan pemerintah yang baik yang bisa menghasilkan SDM
yang unggul. Itulah kenapa kita membutuhkan pemerintah yang benar, supaya
Indonesia menjadi negara yang benar, karena selama ini pejabat di Indonesia
banyak yang tidak benar.
Kita hanya membutuhkan pemerintah yang benar, dan
benar-benar berkompeten dibidangnya. Masih banyak mentri kita yang menjabat
tidak sesuai dengan kompetennya, contohnya mentri pendidikan, apakah mentri
pendidikan kita dari dulu diisi oleh orang-orang dengan background pendidikan?
Paling hanya beberapa. Baru-baru ini data Indonesia diretas, karena apa? Tentu
saja karena mereka tidak berkompeten di bidang itu. Sebut saja Kominfo bobrok.
Akun KIP K saya jadi tidak bisa digunakan, tanggung jawab lu!
Kami tidak perlu kalian pemerintah yang sudah
berpengalaman ataupun anak muda yang baru belajar, yang diperlukan adalah
pemimpin yang tepat ditaruh di tempat yang tepat. Pejabat yang diberikan tugas
sesuai dengan kompetennya, tentu akan menghasilkan keputusan yang tepat buat
negara. Pejabat yang tepat bisa dinilai dari kesejahteraan masyarakat itu
sendiri. Pejabat yang tepat, mungkin di awal kebijakan yang akan dilakukan
masih tidak disukai masyrakat, namun lebih baik seperti itu daripada menjajikan
suatu hal yang manis tapi saat memerintah malah goblok.
Salah satu permasalahan pejabat yang membuat Indonesia
masih gini-gini aja sampai sekarang adalah budaya Feodalisme yang sudah sangat
melekat. “kalok ketemu Allah pakek kaos, coba kalok ketemu bupati pasti pakek
kemeja” kata bapakku. Intinya adalah kita selalu merasa rendah kepada
pemerintah. Jika ada bencana alam, yang
diharapkan adalah pemerintah. Jika ada jalan rusak, yang disalahin adalah
pemerintah. Kenapa nggak kita sendiri aja yang ngebangun rumah yang sudah rusak
karena gempa, kenapa nggak kita sendiri aja yang perbaiki jalan yang rusak di
depan rumah kita.
Rasa rendah diri itulah yang menimbulkan rasa superior
pada pemerintah yang nggak tahu diri. Mereka merasa bahwa merekalah yang
berkuasa atas semua hal yang ada di daerah yang dipimpinnya. Mereka merasa
merekalah satu-satunya tempat berharap masyarakat. Rasa ego dalam dirinya akan
menimbulkan perasaan feodal yang membuat dirinya merasa tidak pernah salah.
Makanya tidak jarang pejabat korupsi hingga beberapa triliun rupiah tapi tidak
merasa bersalah.
Ego dalam diri seorang pejabat yang tidak tahu diri, akan
membuat dirinya berlaku semaunya. Boro-boro membuat kebijakan yang tepat,
mereka hanya memikirkan perut mereka sendiri. Mereka tidak akan pernah merasa
malu, karena mereka rasa semua yang dilakukannya; baik itu salah atu merugikan
akan selalu diangapnya benar.
Tahun 2020 di Jepang; Shinzo Abe adalah perdana mentri
Jepang mengundurkan diri dari jabatannya karena merasa sudah tidak mampu
menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya. Tahun 2024 data Indonesia dibobol,
jawaban kominfonya; “Alhamdulillah hanya...” terus “Di’ini’in”. Sudah terbukti
salah, bukannya malu terus turun jabatan, malah cari-cari alasan yang tidak
menyelesaikan masalah.
Budaya feodalisme di Indonesia sudah sangat
melekat dan sangat merugikan. Dikenal dengan istilah NPD (Narcissistic
Personality Disorder) yaitu fenomena gangguan
psikologis, di mana ketika seseorang sudah tidak merasakan rasa malu karena
menganggap dirinya superior. Dan banyak pejabat kita yang mengalami gangguan
jiwa seperti ini.
Simpulan;
Kalok masih ingin bercita-cita menjadi
“Indonesia Emas 2045”, maka yang dibutuhkan Indonesia adalah Pemimpin yang
berkompeten bukan Pemimpin Dalam Gangguan Jiwa.
Salam,
Syukron hidayat



Komentar
Posting Komentar