Cyber Bullying; Menilik Lebih Dalam Dari Sisi Neuroekonomi dan Psikoanalisis
Beberapa tahun belakangan ini, Gen Z menjadi generasi yang paling populer di sosial media. Terkenal dengan istilah-istilah; Mental health, work life balance, healing, cringe, pick me, cegil, spilt bill, red flag, gamon, FOMO, YTTA, dan istilah-istilah keren lainnya. Sebenarnya, penggunaan istilah slang semacam itu bukanlah suatu hal yang baru. Sejak zaman orang tua kita, bahkan sejak masa Gen X (sebelum Gen Milenial), istilah-istilah slang sudah bermunculan, seperti alamakjan, mantul, OKB, bokek, dan istilah-istilah lainnya, dan masih sering digunakan sampai sekarang.
Namun, yang lebih ter-ekspos sekarang ini adalah Gen Z. Selain karena memang zamannya, Gen ini juga sering membuat geleng-geleng kepala para netizen, dengan tingkah laku mereka dan seakan-akan semua sisi kehidupan merka dibagikan pada orang lain. Gen ini juga berhasil memenangkan dominasi penggunaan internet di Indonesia, 34% dari 200 juta pengguna Internet, berasal dari kalangan Gen Z. Hal itu jugalah yang membuat mereka lebih populer di media sosial.
Uniknya, survey yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2020) menunjukan 71,3% anak usia sekolah memiliki gadget sendiri. Pemberian gadget pada anak bukanlah menjadi masalah, yang jadi masalah adalah kurangnya literasi digital yang diberikan kepada mereka. Kurangnya literasi digital ini, berkontribusi besar terhadap permasalahan yang ada di media sosial. Salah satunya adalah cyber bullying yang terjadi di Indonesia, yang akan menjadi tema pada tulisan kali ini.
Menurut data UNICEF tahun 2022, sekitar 45% anak Indonesia mengaku pernah menjadi korban cyber bullying. Waw, mungkin dulu bapak saya pas dibully langsung ditonjok, tapi sekarang anak-anak di Indonesia praktek bully-nya terjadi di media sosial, dan orang yang nge-bully tidak keliatan. Perbincangan tentang media sosial adalah topik yang cukup serius, maka dari itu mari kita siapkan kopi terlebih dahulu.
~~~
Sebagai Gen Z, tentunya saya masih sering dan senang menggunakan media sosial seperti whatsapp, instagram, dan you tube. Sebagian besar anak-anak Gen Z lainnya pasti melakukan hal yang sama. Seperti yang sudah saya bahas di tulisan sebelumnya, bahwa pengguna tik-tok di Indonesia menghabiskan waktu sebanyak 6 jam dalam sehari. Angka yang cukup menggemaskan.
Rasa senang dan ketergantungan pada media sosial berkaitan dengan yang dikatakan paul zak tentang teori neuroekonomi-nya, bahwa ketika kita berinteraksi di media sosial, otak kita akan memproduksi sebuah hormon bernama oksitoksin yang memberikan kesenangan sementara, sehingga penikmat akan menjadi ketergantungan pada media sosial.
Nah, kembali ke topik cyber bullying, kenapa fenomena ini bisa terjadi? Tentunya bukan semata-mata karena produksi oksitoksin pada otak, terjadinya produksi oksitoksin bukan saja di akibatkan oleh kesenangan yang diberikan oleh media sosial, bisa juga dengan olah raga, atau saat kita jatuh cinta pada seseorang, bisa juga dengan rokok, atau bahkan dengan minum teh hangat dipagi hari sambil mendengarkan lagu Iwan Fals, dan lain sebaganiya.
Menurut saya, terjadinya cyber bullying di media sosial disebabkan oleh kebebasan berpendapat. Saya bukan seperti socrates ataupun plato, yang tidak setuju dengan konsep demokrasi, saya akan menjelaskan kenapa kebebasan berpendapat bisa dapat merugikan, tapi tidak di sini, di lain waktu saja. Pada intinya, kebebasan berpendapat di media sosial memberikan ruang kepada pengguna yang kurang literasi untuk menyuarakan segala hal yang ada di benaknya.
Saya menyadari di Indonesia, kita sedang berada di zaman di mana apa-apa komen, lihat postingan dikit komen, mau itu buruk atau baik isi komennya pasti komen, itu karena kebebasan dan kemudahan yang mereka dapatkan. Netizen kita juga dijuluki sebagai netizen paling bar-bar, itulah kenapa tidak heran cyber bullying bisa terjadi di Indonesia.
Selanjutnya, saya menggunakan pendekatan teori, karena saya sadar saya belum cukup hebat untuk berani berpendapat sendiri, dan tidak ingin menjadi netizen bar-bar juga yang apa-apa komen.
Alfred Adler, adalah seorang psikolog terkenal di bidang psikoanalisis, ia mengembangkan konsep inferioritas manusia sebagai inti dari teori kepribadiannya. Kata Adler “to be human is to have inferiority feelings” yang artinya manusia itu pada dasarnya adalah mahluk yang selalu memiliki sikap inferiory.
Dalam konteks media sosial, seperti yang sempat disinggung diatas, Gen Z adalah kaum yang sering membagikan segala hal tentang hidupnya, bahkan suatu yang tidak penting-pun mereka tetap bagikan. Nah, media sosial sebagai tempat orang-orang bebas membagikan apapun, membuat kita tidak jarang melihat keadaan orang lain nampak lebih sukses, lebih bahagia, atau memiliki lebih banyak prestasi daripada kita.
Nah, ketika kita melihat orang lain lebih sukses di media sosial, hal itu akan menimbulkan rasa inferior pada diri kita. Adler menganggap hal ini sebenarnya adalah reaksi alami otak kita, di mana kita cenderung merasa kurang dihadapan standar sosial yang dibikin orang lain. Sampai sini belum ada masalah, akan menjadi masalah adalah; ketika kita tidak mampu seperti orang yang kita lihat di media sosial tersebut, dan mulai membandingkan diri dengan mereka, lalu kita mencari kesalahan mereka, kemudian kita menjelek-jelekan kesalahannya, yang selanjutnya akan menuntut terjadinya cyber bullying.
Penjelasan lebih lengkapnya menggunakan teori “Bapak” Sigmund Freud, yang merupakan pendiri psikoanalisis juga, tentang teori proyection-nya. Dalam konteks media sosial, proyeksi adalah ketika seseorang mengalihkan perasaan atau pikiran negatif (yang tidak disadari dan tidak nyaman) pada diri kita kepada orang lain melalui platform online.
Misalnya , ketika kita merasa tidak nyaman atau tidak percaya diri atau merasa jelek dengan penampilan kita, kita akan melakukan hate comment atau memberikan kritik negatif terhadap penampilan orang lain di media sosial. Hal itu dapat terjadi karena kita merasa tidak perlu lagi menghadapi perasaan negatif pada diri kita, karena kita suda menempatkannya pada orang lain. Simpelnya adalah pelimpahan perasaan negatif pada orang lain.
Proyeksi di media sosial dapat mendorong terjadinya cyber bullying. Ketika kita merasa cemas, marah, atau tidak puas dengan diri sendiri, kita cenderung mengekspresikan perasaan tersebut melalui interaksi negatif di media sosial. Dengan melakukan proyeksi, kita meredakan ketidaknyamanan internal, meskipun dengan cara yang merugikan orang lain dan menciptakan lingkungan online yang tidak sehat. Tentu saja, hal ini tidak baik.
Selengkapnya; Proyeksi dapat mendorong kita untuk mencari pengakuan atau validasi dari interaksi online. Kita sering mengunggah konten yang menampilkan "kehidupan yang sempurna" untuk meredakan perasaan inferioritas dan menunjukkan bahwa kita mampu mencapai sesuatu yang dianggap superior oleh standar sosial. Namun, upaya ini justru akan memperkuat perasaan takut atau kekurangan dalam diri kita. Secara tidak sadar, kita terus-menerus membandingkan diri kita dengan versi ideal dari orang lain yang terlihat di media sosial.
~~~
Penting untuk memahami dan memperkaya literasi digital kita. Selain dapat mengurangi adanya cyber bullying, kita juga bisa tahu, ternyata ada yang namanya oksitoksin di otak kita ketika sedang menggunakan media sosial. Bahwa media sosial dapat memicu pelepasan oksitosin yang memberikan kesenangan sementara pada otak kita.
Kita juga dapat mengetahui dampak negatif dari ketergantungan sosial media. ketergantungan pada media sosial dapat mengurangi kualitas hubungan, meningkatkan stres dan kecemasan, dan memperburuk kesejahteraan mental secara keseluruhan. Memahami dampak dan resiko yang terjadi, memungkinkan kita menggunakan media sosial yang lebih bijak, sehat dan seimbang.
Perasaan inferior ketika menggunakan media sosial sebaiknya dihindari, apalagi sampai membandingkan diri dengan orang lain, padahal sebenarnya mereka juga tidak seindah itu kehidupannya. Mungkin kita butuh prinsip stoik, supaya kita tidak lagi menekan diri kita agar sesuai dengan standar yang ada. Karena kebenaran objektif itu akan selalu ada, respon kita aja yang perlu kita kontrol, tidak harus kok sama dengan mereka.
Dan kita tidak perlu benci dengan pencapaian orang, karena hidup terlalu capek untuk melakukan hal itu. Pisahkan antara rasio dengan perasaan ketika menilai sesuatu, mungkin akan membuat hidup kita jauh lebih nyaman.
Hidup di zona nyaman bukanlah suatu hal yang harus dihindari, jika itu yang membuat kita nyaman, kenapa tidak. Jalani hidup sesuai dengan apa yang kita inginkan, selama itu tidak merugikan pihak lain, kenapa tidak. Mulailah dengan sikap jujur terhadap diri sendiri, tanpa memaksa diri menjadi orang lain, kenapa tidak.
Bukan bermaksud menggurui, karena satu orang saja yang tersadar pentingnya literasi digital dengan tulisan ini, saya akan sangat berbahagia. Ini bukan hanya tugas pemerintah, ini adalah tugas bersama. Bukan sok Nasionalis, tapi ini kepentingan pribadi, karena saya sadar ini akan berdampak juga pada keluarga saya, dan orang-orang terdekat saya. Untuk itu tidak ada salahnya bersuara.
Salam,
Syukron Hidayat



Terima kasih, tulisannya menarik karena mmbahas seputar prmasalahan yg kerap trjadi saat ini
BalasHapus