"Menuju Kepasrahan: Misi Manusia dalam Bayang-Bayang Kemajuan" || cerpen ekologis

 

Setelah enam jam tertidur, Gumi terbangun oleh suara dari atap rumah yang suaranya sudah lama tak ia dengar. Suara tetesan air yang jatuh dan meresap di genting, menggema lembut di pagi itu. Dia tahu suara ini pernah ia dengar 4 tahun lalu, ketika ia masih berusia 16 tahun.

Gumi membuka jendela kamarnya dan melihat banyak sekali anak-anak dan orang-orang dewasa berlarian, bermain, dan melompat-lompat di pinggir jalan. Mereka tertawa kegirangan, menikmati hujan yang turun di pagi itu. Hujan adalah fenomena yang tak biasa memang, meskipun Gumi tinggal di iklim tropis, hujan sangatlah jarang terjadi karena adanya pemanasan global yang telah melanda sejak lebih dari seratus tahun yang lalu.

Pintu kamarnya diketuk pelan, lalu seperti ada yang menyelinap ke dalam. Gumi membalikkan badannya dan tampaklah Geress, kakeknya, yang memberinya nama, yang berarti cinta alam. Geress adalah kakek tua yang selalu mengenakan hoodie ke mana-mana, seperti halnya anak muda 50 tahun yang lalu. Namun, pagi ini ia masih mengenakan baju tidurnya.

"Selamat pagi, Gum," sapa Geress sambil tersenyum.

"Pagi, Kek. Apa yang membawamu kemari pagi-pagi?" tanya Gumi sambil tersenyum tipis.

"Hari ini aku ulang tahun," jawab Geress. "Dan, hanya ingin berbagi sedikit cerita, tentu saja."

Seperti yang sudah ditebaknya, Gumi pun berjalan dan duduk di kasur sambil memandangi orang tua di hadapannya itu. Geress adalah mantan ketua himpunan pecinta lingkungan dunia, tahun 2045-2050. Namun, Gumi merasa Geress adalah orang yang membosankan dan kaku.

Dua tahun lalu, saat Gumi lulus SMA, Geress menyarankannya agar masuk fakultas lingkungan. Tapi Gumi menolaknya karena ingin mengambil fakultas teknik yang menurutnya lebih jelas prospek kerjanya. Gumi ingin membuktikan bahwa ia bisa sukses tanpa menuruti ucapan si tua itu.

Selain itu, Geress memiliki kebiasaan yang membosankan bagi Gumi. Hari ini adalah hari Minggu dan hari ulang tahun Geress yang ke-78. Seperti biasa, setiap minggunya Geress selalu punya cerita yang sudah berkali-kali ia ceritakan, tentang hewan-hewan ataupun tanaman yang sudah punah beberapa tahun belakangan ini.

"Hari ini aku akan bercerita tentang burung kakaktua yang pernah aku pelihara dulu saat masih kecil. Coba bayangkan, aku bahkan masih mengingat warna bulunya yang sangat indah," kata Geress dengan mata yang berbinar.

"Cerita ini belum pernah Kakek ceritakan sebelumnya," jawab Gumi dengan sedikit terheran.

"Memang belum. Tapi aku pikir ini waktu yang tepat, mengenang ulang tahunku. Dulu, burung itu adalah hadiah dari buyutmu. Dia tahu aku suka sekali dengan hewan, dan burung kakaktua itu adalah yang paling istimewa," kata Geress, suaranya menghangat dengan nostalgia.

Walaupun begitu, Gumi sebenarnya sudah tahu tentang burung itu dari aplikasi “GreenPulse” yang sudah diunduh di handphonenya. Gumi pernah membaca bahwa kakaktua adalah hewan jenis burung yang sudah punah 10 tahun yang lalu. Ia memiliki kemampuan mengikuti suara manusia yang didengarnya.

Gumi sudah sejak lama mengunduh “GreenPulse”, yang dari waktu ke waktu menampilkan kabar terbaru tentang ditemukan atau punahnya spesies yang pernah hidup di bumi ini. Aplikasi itu diunduh atas desakan Geress, agar Gumi tahu berita terbaru tentang alam dan agar Gumi juga bisa mencintai alam. Padahal Gumi merasa ia tidak ada masalah apa-apa dengan alam, Gumi tidak pernah merasa benci dengan alam. Tapi dengan Geress yang memaksa, akhirnya Gumi mengunduhnya.

"Dan tahu tidak, Gum," lanjut Geress, "burung kakaktua itu sangat cerdas. Dia bisa menirukan suara manusia dengan sempurna."

"Seperti robot," jawab Gumi, berusaha menunjukkan sedikit ketertarikan.

Geress tertawa kecil. "Ya, tapi dia jauh lebih alami dan menakjubkan."

~~~

Dua tahun berlalu, akhirnya Gumi lulus kuliah dengan predikat lulusan terbaik dan langsung bekerja di sebuah perusahaan pengembangan teknologi terbaik di kotanya. Gumi bertekad bahwa ini adalah langkah awalnya untuk menjadi lebih besar lagi di masa depan. Ia ingin membuktikan pada Geress bahwa dia bisa lebih hebat daripadanya yang hanya mantan ketua himpunan pecinta alam. Gumi berjanji akan menjadi pencipta teknologi terhebat di dunia.

Setelah beberapa tahun bekerja, Gumi mencapai berbagai pencapaian luar biasa. Salah satu prestasi terkenalnya adalah di bidang medis. Gumi berhasil menciptakan chip nanobot yang dapat ditanamkan dalam tubuh manusia, berfungsi untuk memperbaiki jaringan dan organ secara otonom. Penemuan ini merevolusi dunia medis, memberikan harapan baru bagi banyak orang yang menderita penyakit kronis dan cedera parah. Akhirnya ia bisa membuktikan dirinya pada Geress.

Namun, di tengah semua keberhasilan dan pengakuan yang diterimanya, Gumi masih merasa tidak puas. Setiap kali ia menerima penghargaan atau mendengar pujian, ada rasa hampa yang tak bisa ia hilangkan. Seolah-olah ada sesuatu yang penting yang belum ia selesaikan.

Sore hari saat Gumi pulang berkerja, Langit senja memancarkan cahaya keemasan, menyelimuti kota yang perlahan kehilangan keindahan alaminya. Gumi menyadari perubahan yang semakin hari kian nyata. Bumi, tempat ia berpijak, tampak semakin tidak sehat. Banyak flora dan fauna yang punah, hilang tanpa jejak. Di pinggir jalan, Gumi teringat cerita Geress, tentang pepohonan rimbun yang dahulu menghiasi tepi jalan. Kini, yang tersisa hanyalah jalanan gersang tanpa teduh.

Tidak ada lagi kucing liar yang dulu berkeliaran bebas, menjadi teman di sepanjang jalan. Kini, kucing-kucing itu telah menjadi spesies terlindungi, hilang dari pandangan. Dunia yang pernah begitu hidup dan berwarna, kini tampak sepi dan kosong.

Di tengah malam yang sunyi, Gumi duduk sendirian di laboratoriumnya, merenungi semua yang telah ia capai. Di sana, di antara mesin-mesin canggih dan layar monitor yang memancarkan cahaya biru, ia merasakan kekosongan yang mendalam.

"Apakah semua ini cukup?" Gumi bertanya pada dirinya sendiri. "Apakah semua teknologi ini benar-benar membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik?"

Meskipun chip nanobot ciptaannya telah menyelamatkan banyak nyawa, Gumi menyadari bahwa teknologi itu tidak bisa memperbaiki kerusakan yang telah dilakukan manusia terhadap alam. Ia melihat bagaimana peradaban manusia yang maju sering kali merusak ekosistem dan mengabaikan pentingnya kelestarian alam. Pintu diketuk dan terlihatlah Geress, seolah-olah ia tahu Gumi sedang gelisah.

"Gimana Gum, sekarang kamu sudah mendapatkan semuanya bukan?" Geress memulai

"Ya, begitulah" jawab Gumi gelisah

"Kenapa kamu terlihat gelisah begitu?" tanya Geress dengan prihatin. Gumi menghela nafas dan memandang Geress yang masih berdiri di samping pintu.

"Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal dalam diriku. Aku merasa ada suatu hal yang masih belum aku lakukan."

Geress berjalan dan duduk di dekat Gumi sambil memandangi teknologi canggih buatan cucunya.

"Inilah moderen Gum, seolah-olah pencapaian manusia akan membuat kehidupan lebih baik dari kemarin. Sebenarnya mereka tahu itu tidak akan, tapi mereka lupa karena dipaksa untuk terus membuat hal-hal baru. Berlindung di balik istilah 'kemajuan', dan terus menerus menyuapi binatang yang tak akan pernah kenyang, bernama angka. Angka membuat manusia hidup Gum."

Gumi mengangguk pelan. "Mungkin, Kek. Mungkin kau benar."

Gumi merasa ada sesuatu yang lebih besar yang harus ia lakukan, Ia ingin menciptakan sesuatu yang tidak hanya bermanfaat bagi manusia, tetapi juga menjaga keindahan dan keutuhan bumi.

Pada malam berikutnya, setelah berfikir panjang. Akhirnya Gumi memutuskan untuk membuat proyek rahasia. Setiap malam, setelah jam kerja selesai, ia bekerja tanpa henti di proyeknya, menggunakan semua pengetahuan dan keterampilan teknologinya. Ia sadar bahwa tantangan ini jauh lebih besar daripada apapun yang pernah ia hadapi, tetapi ia juga tahu bahwa ini adalah kesempatan terbaik untuk memperbaiki masa depan.

Setelah berbulan-bulan bekerja keras, mesin waktu ciptaannya akhirnya siap. Dengan hati yang berdebar-debar, Gumi memasuki mesin tersebut dan mengatur tujuan ke tahun 2024. Cahaya terang memenuhi ruang laboratoriumnya saat mesin waktu mulai berfungsi, dan dalam sekejap, ia terlempar ke masa lalu.

Saat sampai di tahun 2024, Gumi bertemu Geress muda di sebuah kafe di kota kecil, dengan stelan hudie, Geress duduk dengan laptop asus-nya dan ada beberapa buku tebal di sampingnya. Gumi kemudian mendekati Geress muda dengan hati-hati.

"Geress?" panggil Gumi dengan suara lembut.

Geress muda yang masih 19 tahun mengangkat wajahnya, terlihat terkejut melihat sosok yang tidak dikenalnya. "Ya, itu aku. Siapa kamu?"

"Aku…" jawab Gumi ragu, lalu ia melanjutkan. "Kita harus bekerja sama untuk menyelamatkan bumi, Geress."

Geress muda tampak bingung, tetapi juga penasaran. Di Tengah ke-akward-an itu, Gumi lalu menjelaskan bagaimana ia bisa berada di sini. Setelah mendengar penjelasan Gumi, Geress masih belum percaya.

“Kamu harus membantuku Geress” kata Gumi sedikit lantang “oh, maaf, aku hanya sedikit terburu-buru”

"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku akan mendengarkanmu." Kata Geress

Gumi menjelaskan segalanya, tentang masa depan yang telah hancur oleh perbuatan manusia dan bagaimana ambisi manusia menciptakan berbagaimacam kemajuan, namun disamping itu juga mereka menghancurkan alam. Gumi berbicara tentang keseimbangan antara kemajuan dan pelestarian alam, tentang pentingnya menjaga keindahan dan keutuhan bumi.

“Maka dari itu kita harus berkerjasama Geress” kata Gumi penuh harapan

Melihat mata Gumi yang penuh keyakinan "Baiklah aku akan membantumu," kata Geress muda. "Kita akan bekerja sama dan membuat perubahan besar ini."

Gumi dengan Geress memulai proyeknya. Dengan penuh semangat, mereka meluncurkan proyeknya yang mereka namakan "EcoHeroes".

Mereka memulai dengan langkah kecil namun berarti, dengan membagikan tips dan edukasi tentang cara menjaga lingkungan melalui media sosial. Dengan kreatifitas dan kecerdasan mereka, konten-konten yang mereka bagikan cepat menarik perhatian dan menciptakan kesadaran baru di kalangan masyarakat.

Tak berhenti di situ, Gumi dan Geress kemudian memutuskan untuk membentuk sebuah organisasi pencinta lingkungan yang mereka beri nama "Guardians of Nature". Organisasi ini menjadi wadah bagi mereka dan orang-orang dengan semangat yang sama untuk bersatu dan bertindak nyata dalam melindungi lingkungan.

Puncak dari upaya mereka adalah saat mereka menyelenggarakan aksi gotong royong bersama-sama untuk membersihkan area publik. Pantai yang dulunya dipenuhi sampah, taman yang terbengkalai, jalan yang kotor, dan lingkungan sekitar yang terlupakan, semua itu menjadi sasaran mereka. Dengan kebersamaan dan semangat gotong royong, mereka berhasil mengubah kondisi tersebut menjadi tempat yang bersih dan indah.

Sebelum kembali ke tahun 2083. Gumi dengan kemampuan teknologi yang dimilikinya lalu membuat platform digital yang membantu Masyarakat untuk lebih pro terhadap lingkungan, yang ia beri nama “GreenPulse”

Setelah Gumi kembali ke tahun asalnya 2083 ia pun tercengang dengan keadaan bumi yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Bumi tanpa pepohonan di pinggir jalan, kucing yang masih menjadi spesies terlindungi, dan burung kakatua yang masih dinyatakan punah 10 tahun yang lalu.

Di Tengah persaan sia-sia itu, akhirnya harapan datang, ketika Gumi mendapatkan berita tentang menurunnya kadar pemanasan global dari aplikasi buatannya sendiri “GreenPulse”, yang biasanya ada di angka 60 derajat Celcius kini menurun menjadi 45-50 derajat celcius saja, selain itu wilayah es di bumi yaitu di kutub utara dan kutub Selatan yang semulanya hanya 5% dari Kawasan bumi meningkat menjadi 7%. Gumi masih mendapatkan semangatnya, namun masih belum puas.

Dan “tsrepp” Gumi terlempar lagi ke tahun 2024. Dengan tekad yang baru, kali ini ia Bersama Geress mengadakan workshop dan pelatihan tentang cara mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna. Selain itu Gumi juga  menciptakan teknologi pada tempat sampah yang mampu mengubah semua yang dimasukan ke dalamnya menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Dengan usaha dan kerja keras mereka, akhirnya semakin banyak Masyarakat yang menjadi sadar dan peduli pada lingkungan. Gumi berharap di masa depan tidak hanya spesies hewan seperti kucing dan kakatua yang ditemukan normal, namun juga ia berharap spesies hewan seperti Komodo, cendrawasih, kuskus, harimau Sumatera, dan spesies tanaman langka lainnya seperti bunga Rafflesia arnoldii, pohon kavelan, pohon Wollemi juga masih bisa bertahan.

Setelah dirasa cukup, Gumi kembali lagi ke-tahun asalnya 2083. Akhirnya Gumi bisa merasakan udara pagi yang dingin. Dengan rasa bangga Gumi ingin menceritakan hal tersebut pada Geress. Namun, niatan itu akhirnya diurungkan oleh Gumi, setelah mengetahui berita tentang spesies hewan Komodo, cendrawasih, kuskus, harimau Sumatera yang tetap dinyatakan punah, terlebih lagi tanaman langka lainnya yang tak kunjung ditemukan lagi.

Gumi tersadar, ia tak dapat memberikan kontribusi besar terhadap Bumi. Ujung-ujungnya bakalan tetap sama, dalam duapulu tahun kedepan Bumi akan kembali pada bentuk asalnya. Bumi tanpa pohon di pinggir jalan, kucing menjadi spesies terlindungi, dan kakatua yang akan punah.

~~~

Di teras yang teduh, dengan cahaya matahari yang memancar dari ufuk barat, Gumi dan Geress duduk bersama. Tatapan Gumi penuh dengan kekecewaan, seolah-olah mencerminkan kegagalan yang terukir dalam langit senja.

"Aku gagal kek," ucap Gumi dengan suara rendah, ekspresinya penuh dengan kekecewaan.

"Ya, kamu sedikit gagal," jawab Geress dengan senyum tipis, mencoba menghibur. "Aku juga mengusahakannya, namun aku tidak mampu melawan mereka," keluh Geress, tatapannya terpaku ke kejauhan.

"Mereka?" tanya Gumi dengan rasa penasaran.

"Mereka, yang berlindung dibalik istilah 'kemajuan'," jawab Geress dengan suara yang penuh dengan amarah yang terpendam. "Padahal, di balik kata-kata indah itu, hanya ada angka-angka. Angkalah yang membuat mereka hidup Gum”.

Gumi mengangguk pelan. "Mungkin, Kek. Mungkin kau benar."

~~~

#AlleyesonPapua

Salam,

Syukron Hidayat

 

 

 

Komentar

Postingan Populer