Apakah Teknologi Bisa Selaras Dengan Alam?
Sekitar lima tahun yang
lalu pada tahun 2019, sempat saya bercita-cita menjadi You-Tuber. Dengan
semangat yang ada saya pun ikutan bikin vidio sketsa komedi di You-Tube, saya
juga nggak tahu kenapa harus sketsa komedi, intinya ide-ide komedi di otak saya
lumayan banyak waktu itu. Tapi anehnya bukan disana, anehnya adalah; kenapa
saya ingin jadi You-Tuber?, mungkin pikiran saya waktu itu adalah menjadi
you-tuber itu mudah dan menghasilkan duit, tidak seperti TV. Tapi ternyata tidak
pak! di dunia You-Tube tidak ada yang mudah, apalagi orang yang tidak memiliki
latar belakang tertentu seperti artis.
Sekarang kayaknya tidak
mungkin lagi berkarir di dunia per-yutuban. Benar, saya pesimistis orangnya,
tapi saya bisa menjelaskan kenapa hal itu tidak mungkin buat saya. You-Tube
sekarang bukan seperti you-tube Atta Halilintar dulu, you-tube sekarang
pesaingnya makin banyak sedangkan penontonnya makin dikit. Sama seperti satu keluarga
yang isinya empat orang, makan satu mangkok bakso, kebagiannya dikit, itulah
yang membuat you-tuber pemula sulit naiknya. Selain itu sekarang sudah ada Tik-Tok,
di mana orang lebih suka mendapatkan informasi lewat vidio pendek, daripada
vidio panjang di You-Tube. Walaupun sekarang you-tube sudah ada short-nya, yaa kalok
nggak kayak gitu, you-tube bakalan mati ditelen zaman.
Kenapa orang suka vidio
pendek? Kalok jawabannya karena bisa menghemat waktu, apakah benar begitu? Saya
rasa tidak, karena yang sebenarnya terjadi adalah pengguna Tik-Tok menghabiskan
waktu enam jam setiap harinya. Apakah kalian sadar, hey pengguna Tik-Tok? Waktu
kalian itu loh... Selain waktu yang kalian habiskan, otak kalian juga capek
nerima informasi sebanyak itu. Dikenal dengan Disrupsi, keadaan dimana
perubahan terjadi begitu masif, membuat otak kita capek menerima informasi
begitu banyaknya dan begitu cepatnya.
Saya pernah menulis sebuah
cerpen yang membahas apakah kemajuan itu akan membuat manusia lebih baik
daripada kemarin? Pertanyaan itu adalah renungan buat saya pribadi. Apakah
kehidupan kakek saya dulu lebih baik dengan kehidupan saya yang sekarang? Dulu
kakek saya memang susah, tapi sesusah-susahnya dia masih bisa membangun rumah,
sedangkan dimasa depan apakah saya masih bisa membangun rumah? Apakah kakek
saya dulu sulit mendapatkan pacar seperti yang dialamai saya sekarang? Saya
rasa tidak, karena dulu kakek saya nikah muda, malah belum lulus SMP udah nikah.
Teknologi memberikan kita kemudahan?
Ataukah hanya bualan kita saja. Terlebih lagi dampak yang ia berikan kepada
kita, kita harus selalu dan selalu menyesuaikan diri dengan zaman, apa nggak
capek dikejar tanpa kita tahu apa yang mengejar kita. Di lain sisi alam kita
juga yang menjadi korban atas nafsu yang ingin kita puaskan, berlindung dibalik
istilah “kemajuan”, haruskah terus menerus kita akan mengeksploitasi alam?
Limbah pabrik, polusi udara, sampah elektronik, pengeboran tanah, pembangunan
jalan di kota-kota besar yang malah memperburuk kadaan, pupuk padi yang merusak
tanah, dan masih banyak lagi.
Mobil listrik yang katanya
mengurangi emisi gas rumah kaca memang benar, tapi baterainya-kan dari hasil
eksploitasi alam juga. Seberapa banyak anak-anak di Afrika yang sengsara karena
adanya project mobil listrik ini. Lebih merugikan lagi karena di negara kita
sendiri juga memiliki bahan mentah seperti itu, tapi masih belum dapat
dimanfaatkan dengan baik karena kondisi SDM kita yang merugikan kita sendiri,
kita masih belum mampu mengolahnya karena kita bodoh pak! Apakah kita mau
seperti afrika yang tidak hanya SDA-nya saja yang dieksploitasi, melainkan
SDM-nya juga? Berbenahlah wahai Indonesia-kuh.
Apakah Teknologi Bisa
Selaras Dengan Alam? Seperti yang sudah
dijelaskan di atas tadi tentang disrupsi, manusia saat ini kebanyakan menerima
informasi, bahkan informasi yang nggak ada manfaat buat dirinya-pun tetap ia
terima dan konsumsi setiap hari. Dan yang dilakukan mereka hanyalah menerima,
bukan beradaptasi dengan kemajuan yang mereka lihat. Tidak semua, tapi masih
banyak orang yang nonton vidio motivasi, pengembangan diri, tips sukses dan vidio
sejenis lainnya, tapi mereka masih tetap rebahan dikamarnya. Masih ada juga
netizen bar-bar kita, yang hate komen ke anak penerima KIP Kuliah yang punya
pespa metik, dengan dalih rezeki mereka diambil, padahal yang dilakukan mereka
di rumah bukannya kerja malah sibuk depo judol.
Zaman makin maju, tapi
tidak semua manusia bisa beradaptasi dengan kemajuan ini. Bagaimana dengan
alam, apakah ia bisa beradaptasi? Manusia adalah bagian dari alam dan merupakan
puncak rantai makanan di alam yang kita ketahui ini, apakah beberapa spesies
alam kita juga akan ketinggalan zaman (atau di konteks ini bisa dikatakan punah)
sama seperti jokes bapak-bapak 90an. Mungkin analoginya tidak seperti itu,
karena saya tidak mau sok tahu disini, tapi ini pertanyaan buat kalian.
Walaupun sebelumnya saya
menjelek-jelekan teknologi, tapi saya tidak sebodoh itu juga untuk tidak
menerima teknologi. Saya masih menggunakan microsoft word untuk mengetik
tulisan ini, saya masih menggunakan internet untuk meng-uplodnya, dan saya
masih harus ikut kursus TIK untuk menyongsong kemampuan lainnya. Di sisi lain
saya adalah orang yang paling tidak gaul orangnya, mau ngomongin soal
bola saya tidak tahu, soal game online saya juga bodoh, soal musik bodoh
banget, soal filem saya jarang nonton filem, apalagi anime, soal otomotif,
motor saya aja rusak. Saya tidak ngikutin trend, tapi saya sadar apa yang harus
saya lakukan. Menjelek-jelekan teknologi hanya bahan renungan pribadi, bahwa
teknologi yang saya gunakan tidak selalu berdampak baik untuk saya dan alam.
Berharap para inovator teknologi di atas sana sebagai ujung kepala, untuk menyelaraskan teknologi dengan alam. Tapi apalah kita, sebatas ekor yang berusaha adaptasi dengan kondisi yang ada. Adanya mobil listrik seperti yang disinggung di awal tidaklah salah, karena tekadang kita harus menarik tuas untuk menyelamatkan lima orang di rel kereta api dan mengorbankan satu orang di rel sebelahnya, karena nyawa manusia tidak selalu setara. Begitukah? Saya tidak tahu, bagaimana menurut anda?
#AlleyesonPapua
Salam,
Syukron Hidayat



Komentar
Posting Komentar